Siap-siap, Musim Hujan di Jateng Mundur dan Lebih Singkat

Siap-siap, Musim Hujan di Jateng Mundur dan Lebih Singkat

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 30 Sep 2026 16:15 WIB
Ilustrasi Hujan
Ilustrasi hujan. Foto: Andrei/Pexels
Solo -

Awal musim hujan di Jawa Tengah diprakirakan mundur. Hal itu disebabkan oleh musim kemarau yang lebih panjang tahun ini.

"Kalau awal musim hujan diprediksi mundur terhadap normal akibat dampak dari musim kemarau yang lebih panjang dibanding normalnya," kata Analis Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana lewat zoom meeting terkait prediksi awal musim hujan, Rabu (30/9/2026).

Zauyik menjelaskan, fenomena yang memengaruhi mundurnya musim hujan yaitu El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) juga menunjukkan hasil positif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga wilayah Jateng ini musim kemarau akan lebih panjang dari normalnya," jelasnya.

Normalnya musim hujan 2026 diprediksi terjadi mulai bulan November 2026. Namun awal musim hujan kini diprediksi akan mundur bahkan ada yang lebih dari 3 dasarian atau lebih dari sebulan.

ADVERTISEMENT

"Ada mundur lebih dari 3 dasarian atau sebulan sebesar 87 persen luasan wilayah Jateng atau 45 ZOM (zona musim), diprediksi meliputi sebagian besar Jateng. Mundur 2 dasarian ada 9 persen, mundur 1 dasarian ada 4 persen," tegasnya.

Dari data yang diperoleh detikJateng, daerah yang mundur lebih dari 3 dasarian yaitu Grobogan, Jepara, Kudus, Demak, Grobogan, Sragen, Solo, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Salatiga, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kendal, Temanggung, Purworejo, Wonosobo, Batang, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, selatan Brebes, selatan Kabupaten Tegal, selatan Kabupaten Pekalongan, sebagian Pemalang, sebagian Jepara, sebagian Pati, sebagian Rembang, sebagian Blora, sebagian Kabupaten Magelang.

Kemudian daerah yang mundur 2 dasarian atau sekitar 20 hari yaitu Kota Magelang, sebagian Kabupaten Magelang, sebagian Pemalang, sebagian Jepara, sebagian pati, sebagian Rembang, sebagian Blora.

Sedangkan yang diprakirakan mundur 1 dasarian yaitu utara Brebes, Kota Tegal, utara Kabupaten Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan.

Terkait puncak musim hujan, Zauyik menjelaskan ada sebagian yang terjadi pada bulan Januari 2027, kemudian Februari 2027 dan sebagian kecil di bulan Maret 2027.

"Prediksi puncak musim hujan terbanyak berdasar jumlah zona musim terjadi Januari, sebanyak 24 zona musim atau sekitar 40 persen luasan wilayah Jateng. Diikuti Februari 22 zona musim atau 45 persen, Maret 8 zona musim atau 15 persen," terangnya.

Berikut data BMKG terkait daerah di Jateng dan puncak musim hujannya di tahun 2027:

1. Daerah-daerah Kabupaten yang puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari 2027 meliputi:
Kepulauan Karimunjawa, Kota Tegal, dan Magelang; Kab. Jepara, dan Kudus, sebagian besar wilayah Banyumas, Kebumen, Magelang, Grobogan, Pati, dan Demak, sebagian wilayah Brebes, Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Temanggung, Boyolali, Sragen, dan Rembang, sebagian kecil wilayah Kabupaten Tegal, Cilacap, Wonosobo, Semarang dan Blora.

2. Daerah-daerah Kabupaten yang puncak musim hujan terjadi pada bulan Februari 2027 meliputi:
Kota Pekalongan, dan Surakarta, Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Karanganyar, Klaten, dan Sukoharjo, sebagian besar wilayah Kabupaten Tegal, Kendal, Blora, dan Wonogiri, sebagian wilayah Kota Semarang, dan Salatiga, Kabupaten Brebes, Purbalingga, Purworejo, Boyolali, Grobogan, Sragen, dan Rembang, sebagian kecil wilayah Kab. Semarang, Temanggung, Kebumen, Magelang, Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Wonosobo, Demak dan Pati.

3. Daerah-daerah Kabupaten yang puncak musim hujan terjadi pada bulan Maret 2027 meliputi:
Sebagian besar wilayah Kabupaten Semarang, Wonosobo, sebagian wilayah Kota Semarang dan Salatiga, Kabupaten Brebes, Cilacap, dan Banjarnegara, sebagian kecil
wilayah Kabupaten Banyumas, Temanggung, Demak, Grobogan, Boyolali, dan Wonogiri.

Zauyik juga menyebut durasi musim hujan di Jawa tengah 2026/2027 diprediksi lebih pendek. Secara umum musim hujan akan berlangsung lima sampai enam bulan, namun kali ini lebih pendek bahkan ada yang lebih singkat 3 dasarian.

"Durasi lebih pendek dibanding normal, prediksi 1 hingga 3 dasarian," katanya.



(alg/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads