Warga Dukuh Muneng RT 5 RW 3 Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, resah dengan keberadaan makam di pekarangan samping masjid setempat. Ahli waris mengungkap mereka berusaha memenuhi wasiat keluarga yang minta dimakamkan di sana.
Makam di dekat Masjid Al-Magfiroh itu diketahui merupakan peristirahatan terakhir tokoh setempat bernama Musdiyono, yang meninggal pada Rabu (1/7) lalu. ampak makam itu dikelilingi dengan sebuah banner sebagai penutup.
Kuburan itu berhadapan dengan rumah warga setempat. Jarak makam dengan permukiman hanya dipisahkan jalan desa sepanjang sekitar 100 meter.
Warga Ngaku Sungkan untuk Protes
Salah satu warga, Rohmad, menjadi pihak yang terganggu dengan keberadaan makam Musdiyono itu. Ia mengungkapkan pihak keluarga tidak mempunyai iktikad baik untuk datang kepadanya dan memberitahukan soal makam tersebut.
"Saya setelah kerja terus ke sini tiba-tiba kaget kok tiba-tiba ada makam seperti ini di depan rumah saya tidak diizini dari pihak meninggal tadi. Keluarga tidak ada iktikad baik datang ke rumah," jelas Rohmad kepada wartawan di lokasi, Rabu (8/7/2026).
Meski begitu, dia mengaku sungkan untuk langsung protes kepada pihak keluarga. Pasalnya, sosok Musdiyono yang merupakan tokoh desa setempat.
"Cuma pada sungkan karena beliau tokoh yang ada di sini," jelasnya.
Warga lainnya, Rian, juga mengaku resah karena dia mempunyai anak yang masih kecil.
"Dulu nggak pernah kayak malam itu lihat-lihat atas terus, biasanya main biasa saja kalau malam sekarang lihat atas," terang Rian.
Keluarga Berusaha Penuhi Wasiat Almarhum
Pihak ahli waris, Zainul Musthofa, menjelaskan almarhum yang merupakan pendiri masjid serta pondok pesantren di Dukuh Muneng itu sempat menitipkan wasiat ingin dimakamkan di tanah miliknya yang berlokasi di samping masjid. Tujuannya, supaya santri bisa berdoa di sekitar pusara.
"Jadi status almarhum Bapak Musdiyono adalah pendiri Masjid Al-Magfiroh kemudian di belakang tanah milik almarhum. Beliau wasiat ketika beliau meninggal dunia bisa dimakamkan di tanah tersebut karena beliau pendiri ponpes di sini. Tujuannya ketika santri di sini bisa untuk ziarah, bisa mengaji biar pahalanya sampai ke bapak itu wasiat," jelas Zainul yang merupakan menantu almarhum ditemui di lokasi siang ini.
Selain minta dimakamkan di tanah samping masjid, nantinya daerah tersebut akan dibangun ponpes.
"Wasiat ini ketika bapak dan kami keluarga kumpul ketika di rumah. Bapak bilang begini 'besok nik aku meninggal dunia tolong dikhatami selama 7 hari berturut-turut bersama santri-santri dan dimakamkan di samping masjid sebagai pendiri masjid'," jelas dia.
"Wasiat bapak itu nanti bisa dibangun tempat layak untuk mengaji, jadi bukan makam tok. Jadi nanti seiring waktu akan kelihatan tidak hanya makam tok tapi bisa bangunan pondok itu," lanjut dia.
(apu/afn)