Diprotes Warga, Ahli Waris Pagari Makam Samping Masjid Gribig Kudus

Dian Utoro Aji - detikJateng
Rabu, 08 Jul 2026 18:11 WIB
Makam yang ada di samping Masjid Al-Magfiroh dekat dengan rumah warga Dukuh Muneng Desa Gribig Kecamatan Gebog, Rabu (8/7/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Kudus -

Keberadaan makam di samping masjid Al-Magfiroh Dukuh Muneng Desa Gribig Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus menuai protes warga. Keluarga ahli waris pun memilih untuk membuat pagar tembok tinggi mengelilingi makam itu.

Makam itu merupakan milik dari almarhum Musdiyono yang meninggal pada Rabu (1/7) lalu. Keluarga memakamkan di samping masjid ini karena berdasarkan wasiat almarhum ketika masih hidup.

Akan tetapi keberadaan makam ini dekat dengan rumah warga. Hanya berjarak 100 meter dari permukiman warga. Jarak itu dipisahkan dengan sebuah jalan desa. Kondisi inilah yang membuat warga protes dengan keberadaan makam tersebut.

Ahli Waris, Zainul Musthofa, mengatakan status almarhum Musdiyono adalah pendiri Masjid Al-Magfiroh dan ponpes yang tidak jauh dari makam. Menurutnya almarhum memberikan wasiat agar dimakamkan di samping masjid.

"Kemudian di belakang tanah milik almarhum. Beliau wasiat ketika beliau meninggal dunia bisa dimakamkan di tanah tersebut karena beliau pendiri ponpes di sini. Tujuannya ketika santri di sini bisa untuk ziarah, bisa mengaji biar pahalanya sampai ke bapak itu wasiat," jelas dia.

Dijelaskan almarhum meninggal pada Rabu kemarin. Almarhum meninggal pada usia 49 tahun.

"Wasiat ini ketika bapak dan kami keluarga kumpul ketika di rumah. Bapak bilang begini besok nang nik aku meninggal dunia tolong dikhatami selama 7 hari berturut-turut bersama santri-santri dan dimakamkan di samping masjid sebagai pendiri Masjid," jelas dia.

Menurutnya berdasarkan wasiat itu kompleks makam itu akan didirikan tembok. Selanjutnya rencana akan dibuatkan bangunan pondok pesantren. Mengingat almarhum merupakan pendiri ponpes di Dukuh Muneng.

"Wasiat bapak itu nanti bisa dibangun tempat layak untuk mengaji, jadi bukan Makam tok. Jadi nanti seiring waktu akan kelihatan tidak hanya Makam tok tapi bisa bangunan pondok itu," jelasnya.

Akan tetapi kondisinya keburu ada yang lapor protes terkait keberadaan makam tersebut.

"Padahal meninggal bapak ini jam 9, jam 10 pagi wasiat kami sampaikan kepada pak modin rembukan dan koordinasi dengan kepala Desa ini atas nama almarhum minta dimakamkan di samping masjid," jelas dia.

"Itu silakan tapi nanti izinya bisa diurus. Padahal meninggal jam 9. Kami berkoordinasi dengan Pak Kades jam 11 dan pemakaman jam 16.00 WIB kita ajukan jam 11 itu tidak ada masalah. Jedanya panjang kalau warga tidak setuju diselesaikan dengan baik-baik," dia melanjutkan.

Zainul mengaku sempat diadakan audiensi dengan pemerintah desa dan warga yang lapor. Akan tetapi tidak menemui titik temu. Karena itulah, keluarga ahli waris pada hari ke-7 setelah kematian almarhum membuat pagar tembok tinggi. Tujuannya untuk menutup makam agar tidak langsung dekat dengan rumah warga.

"Akhirnya setelah 7 hari kematian sudah kita, kalau pada takut akhirnya kita akan tutup tembok permanen biar ini dikira bangunan bukan makam. Padahal ini kita masih berduka, baru kematian 7 hari, 4 hari sudah diusik seperti itu," jelasnya.

"Akhirnya seperti itu kita sudah ambil pemborong silakan dibangun. Intinya ke depan kita buat sebagai tempat penyiar agama. Ini akan tutup keliling 4 meter. Kita tidak ingin mencari permusuhan tidak. Kasihan ibuk di rumah," pungkas Zainul.

Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan makam di pekarangan samping masjid Dukuh Muneng RT 5 RW 3 Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus menuai protes sejumlah warga. Makam itu ternyata milik pendiri masjid setempat.

Pantauan detikJateng di lokasi, Rabu (8/7), makam yang berada di dekat Masjid Al-Magfiroh itu merupakan persemayaman mendiang Musdiyono. Mendiang meninggal dunia pada Rabu (1/7) pekan lalu. Tampak makam itu dikelilingi dengan sebuah banner sebagai penutup.

Terlihat sejumlah pekerja berada di lokasi. Mereka tampak membangun sebuah tembok tinggi agar makam tersebut tidak kelihatan mencolok di permukiman warga setempat.



Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"

(apl/afn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork