8 Amalan Sunnah Bulan Dzulhijjah Lengkap Keutamaan dan Larangannya

8 Amalan Sunnah Bulan Dzulhijjah Lengkap Keutamaan dan Larangannya

Desi Rahmawati - detikJateng
Selasa, 19 Mei 2026 09:11 WIB
Ilustrasi Amalan Sunnah Dzulhijjah
Ilustrasi Amalan Sunnah Dzulhijjah (Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash)
Solo -

Dzulhijjah merupakan salah satu bulan istimewa dalam Islam yang penuh dengan keutamaan dan kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan iman dan takwa.

Dirujuk dari buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa oleh Miftah Fauzi, Dzulhijjah adalah bulan ke-12 dalam kalender Hijriah dan sering disebut sebagai "Bulan Haji" karena menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Selain itu, terdapat pula momen penting seperti puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah dan Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah yang identik dengan ibadah kurban.

Besarnya keutamaan di bulan Dzulhijjah membuat umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Lantas, apa saja amalan sunnah yang bisa dilakukan selama bulan Dzulhijjah? Apa saja hal yang dilarang? Berikut penjelasan lengkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amalan Sunnah Bulan Dzulhijjah dan Keutamaannya

Dihimpun dari penjelasan NU Online, MUI, dan buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa karya Miftah Fauzi, terdapat sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan selama bulan Dzulhijjah, mulai dari puasa, memperbanyak dzikir, hingga berkurban dan menunaikan ibadah haji. Berikut pembahasan ringkas plus keutamaannya yang penting dipahami umat Islam.

ADVERTISEMENT

1. Berpuasa pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Amalan yang pertama adalah berpuasa. Umat Islam disunnahkan melaksanakan puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Puasa pada tanggal 1 hingga 7 disebut puasa Dzulhijjah, tanggal 8 disebut puasa Tarwiyah, sedangkan tanggal 9 disebut puasa Arafah.

Amalan puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut sebagai amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Bukhari berikut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ أَنَّهُ قَالَ: مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

Artinya: "Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: 'Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah).' Para sahabat bertanya: 'Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?' Rasulullah saw menjawab: 'Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang dari padanya'." (HR Bukhari)

Disebutkan bahwa bagi siapa saja yang mengamalkan ibadah ini, maka akan diampuni dosa-dosanya dan dilipatgandakan pahalanya.

2. Menghidupkan Malam 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan menghidupkan malam-malam di sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan ibadah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hari-hari tersebut sangat dicintai Allah sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada malam harinya. Keutamaan amalan ini disebutkan dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi berikut.

عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: "Dari Qatadah, dari Ibnu Al-Musayyib, dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad SAW bersabda: Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat disenangi oleh Allah, karenanya beribadahlah pada-Nya, dirikanlah puasa dan hidupkanlah malam seperti menghidupi Lailatul Qadar." (HR Imam Tirmidzi)

3. Memperbanyak Dzikir

Pada bulan Dzulhijjah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak dzikir seperti membaca takbir, tahmid, dan tahlil. Amalan dzikir menjadi salah satu ibadah yang disyariatkan pada 10 hari pertama Dzulhijjah sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya: "Dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat diagungkan dan disenangi oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid.'" (HR Imam Ahmad)

4. Memperbanyak Amal Saleh

Umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal saleh secara umum selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Amalan ini sesuai dengan yang disunnahkan Rasulullah SAW berikut.

قَوْلُهُ ﷺ: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Artinya: "Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Beramal saleh di saat sepuluh hari pertama merupakan amal yang sangat disukai oleh Allah." (HR Imam Ahmad)

Dikutip dari laman NU Online, amal saleh yang dimaksud dalam hadits tersebut mencakup seluruh amal kebaikan secara umum.

5. Melaksanakan Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah. Dalam penjelasan NU Online disebutkan bahwa mayoritas ulama menganjurkan melaksanakan puasa Tarwiyah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qarafi berikut.

وفي الجواهر يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة

Artinya: "Menurut pendapat ulama mayoritas, berpuasa pada hari Tasu'a dan Tarwiyah disunnahkan. Sesungguhnya sudah disebutkan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah sama dengan puasa satu tahun, berpuasa pada bulan Haram dan Syaban, Dzulhijjah. Dan sesungguhnya diriwayatkan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan setahun." (Al-Qarafi, Adzakhirah Lil Qarafi)

Sementara itu, dalam buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa dijelaskan bahwa hadits mengenai puasa Tarwiyah dinilai dhaif oleh sebagian ulama hadits. Meski begitu, banyak ulama tetap membolehkan mengamalkannya dalam rangka fadha'ilul a'mal atau memperoleh keutamaan amal baik.

6. Melaksanakan Puasa Arafah

Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah atau sehari sebelum Idul Adha. Puasa ini memiliki keutamaan besar karena dapat menghapus dosa dua tahun. Amalan ini tentu memiliki keutamaan yang besar sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Muslim berikut.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya: "Dari Abi Qatadah, Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Arafah. Nabi menjawab: 'Puasa tersebut akan melebur dosa yang lampau maupun yang akan datang.'" (HR Muslim)

7. Berkurban

Pada bulan Dzulhijjah, terdapat hari raya besar Islam, yakni Idul Adha. Pada hari raya inilah, ibadah kurban dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah sebagai bentuk rasa syukur dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Ibadah kurban juga menjadi pengingat atas keteguhan iman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Perintah berkurban ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Kautsar ayat 2.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Artinya: "Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS Al-Kautsar ayat 2)

Dalam buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa dijelaskan bahwa kurban menjadi simbol rasa syukur, kepedulian sosial, serta penyembelihan sifat kebinatangan dalam diri manusia.

8. Menunaikan Ibadah Haji

Ibadah haji juga menjadi salah satu amalan utama pada bulan Dzulhijjah. Ibadah haji termasuk amalan paling utama yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 27 mengenai ibadah haji.

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Artinya: "Dan berserulah kepada manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

Disebutkan bahwa ibadah haji merupakan salah satu amal paling utama yang dikerjakan pada bulan Dzulhijjah karena pelaksanaannya memang terkhusus pada waktu tersebut.

Larangan-larangan Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu bulan istimewa dalam Islam. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu dihindari, khususnya bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah kurban.

Berdasarkan penjelasan Ustadz Adi Hidayat dalam video YouTube berjudul "Perhatikan Larangan dan Anjuran Bulan Dzulhijjah- Ustadz Adi Hidayat" di kanal Adi Hidayat Official, buku Kamus Praktis Muslim dari A sampai Z karya Abdullah bin Ahmad Al-'Allaf Al-Ghamidi, dan buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari oleh Muhammad Habibillah, berikut sederet larangan di bulan Dzulhijjah.

1. Memotong Rambut dan Kuku bagi Orang yang Hendak Berkurban

Larangan yang pertama adalah apabila seseorang ingin berkurban dan telah memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka ia dilarang untuk memotong rambut maupun kukunya hingga hewan kurban disembelih.

Larangan tersebut didasarkan pada hadits dari Ummu Salamah RA dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut.

إِذَا دَخَلَتِ العَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Artinya: "Apabila telah masuk sepuluh hari pertama (Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, hendaklah ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kukunya." (HR Ahmad dan Muslim)

Larangan ini berlaku setelah seseorang berniat untuk berkurban. Oleh karena itu, apabila rambut atau kuku dipotong sebelum berniat kurban, maka hal tersebut tidak menjadi masalah.

Sementara itu, dalam penjelasan Ustadz Adi Hidayat disebutkan bahwa larangan tersebut berlaku sejak hewan kurban telah disiapkan atau dibeli hingga proses penyembelihan selesai dilakukan.

Ustadz Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa larangan ini tidak hanya berlaku pada rambut kepala, tetapi juga rambut lain di tubuh. Selain itu, sebagian ulama memahami larangan tersebut sebagai bentuk penyerupaan dengan jamaah haji yang sedang berihram, karena jamaah haji juga tidak diperbolehkan memotong rambut dan kuku saat ihram.

Meski demikian, larangan tersebut tidak berlaku bagi anggota keluarga orang yang berkurban. Karena itu, keluarga tetap diperbolehkan memotong rambut maupun kuku mereka selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

2. Berpuasa saat Hari Raya Idul Adha

Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan Hari Raya Idul Adha yang menjadi hari raya besar umat Islam. Pada hari tersebut, umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin maupun keluarga agar semua dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.

3. Berpuasa pada Hari Tasyrik

Selain Hari Raya Idul Adha, umat Islam juga dilarang berpuasa pada Hari Tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari tersebut masih termasuk suasana perayaan Idul Adha sehingga umat Islam tidak diperbolehkan berpuasa. Meski demikian, terdapat sebagian pendapat ulama yang menyebut hukumnya makruh, bukan haram.

Larangan tersebut sesuai yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

"Sesungguhnya, Hari Tasyrik itu adalah hari makan, minum, dan dzikrullah." (HR Muslim)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Hari Tasyrik merupakan waktu untuk menikmati nikmat Allah SWT, makan dan minum, serta memperbanyak dzikir kepada-Nya.

Itulah sejumlah amalan bulan Dzulhijjah lengkap keutamaan dan larangannya yang umat Islam perlu pahami. Semoga bermanfaat, ya!

Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads