Perkiraan Idul Fitri 1447 H Versi BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU

Perkiraan Idul Fitri 1447 H Versi BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Minggu, 15 Mar 2026 11:00 WIB
Perkiraan Idul Fitri 1447 H.
Ilustrasi Pengamatan Hilal (Foto: Getty Images/JasonDoiy)
Solo -

Menjelang akhir bulan Ramadan, umat Islam mulai menantikan kepastian kapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan dirayakan. Penentuan 1 Syawal menjadi momen penting karena menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan sekaligus dimulainya hari raya yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Di Indonesia, penetapan awal Syawal dilakukan melalui mekanisme sidang isbat yang digelar pemerintah. Penentuan ini menggabungkan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Hasil perhitungan posisi bulan akan dipadukan dengan laporan pengamatan hilal dari berbagai daerah sebelum pemerintah mengumumkan keputusan resmi.

Sementara itu, sejumlah lembaga dan organisasi Islam juga telah menyampaikan prediksi awal mengenai kemungkinan tanggal Idul Fitri 1447 H berdasarkan metode dan kriteria yang mereka gunakan. Perbedaan metode ini membuat kemungkinan tanggal Lebaran bisa berbeda, meskipun semuanya tetap menunggu pengumuman resmi pemerintah melalui sidang isbat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi, kapan Idul Fitri 1447 H? Simak prediksi maupun penetapannya di bawah ini!

Penetapan Idul Fitri 1447 H Versi Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Syawal 1447 H melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.

ADVERTISEMENT

Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat. Wilayah pertama yang memenuhi parameter tersebut antara lain berada pada koordinat 64Β° 59β€² 57,47β€³ LU dan 42Β° 03β€² 3,47β€³ BT, dengan tinggi bulan sekitar 6Β° 29β€² 20β€³ serta elongasi 8Β°.

Berdasarkan hasil hisab tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Perkiraan Idul Fitri 1447 H Menurut BMKG

Menurut BMKG dalam laporan detikNews, konjungsi atau ijtimak akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB. BMKG menjelaskan bahwa konjungsi merupakan peristiwa penting dalam penentuan awal bulan hijriah karena menandai fase bulan baru secara astronomi.

"Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima' adalah peristiwa ketika bujur ekliptika bulan sama dengan bujur ekliptika matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi," demikian keterangan BMKG.

Secara astronomis pelaksanaan rukyat hilal penentu awal bulan Syawal bagi yang menggunakan metode rukyat dilakukan setelah matahari terbenam pada 19 Maret 2026.

Berdasarkan perhitungan BMKG, posisi hilal saat Matahari terbenam di Indonesia pada tanggal tersebut diperkirakan masih cukup rendah. Ketinggian hilal berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sementara itu, elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari diperkirakan berkisar antara 4,54 derajat di Waris, Papua hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

Adapun umur bulan saat Matahari terbenam diperkirakan berkisar antara 7,41 jam hingga 10,44 jam. Data tersebut menunjukkan bahwa posisi hilal masih berada di sekitar batas minimal pengamatan sehingga hasil rukyatul hilal akan sangat menentukan apakah hilal dapat terlihat atau tidak. Namun, diperkirakan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perkiraan Idul Fitri 1447 H Menurut BRIN

Dilansir detikNews, peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memprediksi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada analisis astronomi terhadap posisi hilal pada saat Magrib tanggal 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara.

Menurut Thomas, secara astronomi posisi hilal pada waktu tersebut belum memenuhi kriteria baru Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang digunakan oleh negara-negara Asia Tenggara.

"Fakta astronomi, pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, ditunjukkan pada kurva kuning yang melintasi Asia Tengah," kata Thomas.

Kriteria MABIMS sendiri menetapkan bahwa awal bulan hijriah dapat dimulai jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dengan kondisi tersebut, Thomas memperkirakan bahwa awal Syawal kemungkinan baru dimulai keesokan harinya.

"Maka 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026, akan menunggu keputusan sidang isbat," ujarnya.

Namun, ia juga menjelaskan bahwa hasilnya bisa berbeda apabila menggunakan kriteria lain. Berdasarkan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), posisi bulan sebenarnya sudah memenuhi syarat sehingga awal Syawal bisa jatuh pada 20 Maret 2026.

Perkiraan Idul Fitri 1447 H Versi Pemerintah dan NU

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menentukan tanggal resmi Idul Fitri melalui sidang isbat yang digelar pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H. Sidang tersebut akan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Dalam laporan detikNews, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan bahwa pelaksanaan sidang isbat dilakukan berdasarkan data hisab dan hasil rukyatulhilal yang diverifikasi.

"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik," ujarnya.

Sidang ini juga melibatkan berbagai unsur, seperti pakar astronomi dari BMKG dan BRIN, perwakilan planetarium dan observatorium, serta organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Sebelum sidang isbat digelar, rangkaian acara biasanya diawali dengan seminar posisi hilal. Setelah itu dilakukan verifikasi laporan rukyatulhilal dari berbagai titik pemantauan hilal di Indonesia sebelum pemerintah mengumumkan keputusan resmi.

Sembari menanti hasil sidang isbat, perkiraan Idul Fitri 1447 H pemerintah dapat dicek dalam Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 keluaran Kementerian Agama. Tertulis di kalender itu bahwasanya 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Informasi serupa juga bisa dicek di Almanak 2026 yang dirilis Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Bojonegoro.

Berdasarkan berbagai perhitungan yang telah disampaikan, terdapat dua kemungkinan tanggal Idul Fitri 1447 H di Indonesia. Muhammadiyah telah menetapkan Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026 berdasarkan metode hisab. Sementara itu, analisis astronomi yang menggunakan kriteria MABIMS memperkirakan kemungkinan Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026 jika hilal belum memenuhi syarat pada 19 Maret. Meski demikian, kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah yang digelar pada 19 Maret 2026 setelah mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyatulhilal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Semoga informasinya bermanfaat, ya, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads