Belakangan ini, nama Iran kembali mencuat dalam berbagai pemberitaan Internasional. Kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut memicu perbincangan mengenai ketegangan geopolitik di wilayah Asia Barat itu.
Perbincangan tersebut tak jarang memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai Iran yang mayoritas penduduknya menganut Syiah. Hal ini cukup menarik perhatian lantaran banyak negara Muslim lain, seperti halnya Indonesia,mayoritasnya menganut ajaran Sunni.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara Syiah serta Sunni dan seperti apa sejarah kemunculan kedua kelompok tersebut? Untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Munculnya Sunni dan Syiah
Perbedaan antara Sunni dan Syiah bermula dari persoalan kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632 M. Saat itu, muncul perbedaan pandangan mengenai siapa yang paling berhak menjadi pemimpin umat Islam.
Dikutip dari buku Pengaruh Politik Sunni dan Syiah terhadap Perkembangan Ilmu Hadis karangan Helmi Chandra dkk, kelompok Sunni berpendapat bahwa pemimpin umat Islam sebaiknya dipilih melalui musyawarah di antara sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Dari proses tersebut, Abu Bakar terpilih dan diangkat menjadi khalifah pertama.
Sementara itu, kelompok Syiah berpendapat bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya berada pada jalur keluarga Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib adalah kandidat terkuat karena merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah.
Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi dua kelompok dalam Islam. Syiah sendiri berasal dari kata sya'a-syiya'an yang berarti menemani, dan juga asy-syi'ah yang berarti sahabat.Diksi ini merujuk pada kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, Sunni atau Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dapat diartikan sebagai pengikut sunnah, yakni ajaran Nabi Muhammad SAW yang berlandaskan Al Quran dan sunnah, serta mengakui empat khilafah sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah.
Perbedaan Pandangan dalam Kepemimpinan
Salah satu perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah terletak pada konsep kepemimpinannya. Dalam tradisi Sunni, pemimpin umat Islam atau khalifah dipilih melalui kesepakatan bersama. Para khalifah setelah Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai pemimpin politik sekaligus tonggak estafet pemerintahan umat Islam.
Berbeda dengan konsep kepemimpinan Sunni, kelompok Syiah menggunakan konsep yang disebut imamah. Mereka beranggapan bahwa kepemimpinan adalah anugerah dari sang Ilahi yang tidak bisa ditentukan melalui musyawarah. Dalam keyakinan kelompok Syiah, imamah dimulai dari garis keturunan Nabi melalui Ali dan seterusnya secara turun temurun.
Perbedaan dalam Praktik Keagamaan
Selain memiliki perbedaan pandangan soal kepemimpinan, terdapat pula perbedaan dalam praktik keagamaan. Salah satunya terlihat di konsep keimanan yang dianut. Dikutip dari artikel jurnal berjudul Melacak Akar Permasalahan Hubungan Antara Sunni dan Syi'ah karangan Abdullah AF dkk, dalam ajaran Sunni, terdapat enam rukun iman, yakni iman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari kiamat, serta qadha dan qadar. Di sisi lain, dalam ajarah Syiah, terdapat lima rukun iman, meliputi tauhid, nubuwwah atau kenabian, ma'ad atau kepercayaan terhadap akhirat, imamah, serta adl atau Ilahiah.
Selain itu, dalam ajaran Sunni, rukun Islam terdiri atas syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Adapun dalam ajaran Syiah, rukun Islam mencakup sholat, puasa, zakat, haji, serta kesetiaan terhadap kepemimpinan imam.
Kelompok Syiah dan Sunni juga memiliki perbedaan dalam sumber keilmuan Islam. Dalam tradisi Sunni, hadits yang menjadi rujukan berasal dari para sahabat Nabi Muhammad SAW secara luas. Sementara itu, kelompok Syiah menganggap bahwa sumber yang paling dipercaya umumnya diriwayatkan melalui jalur Ahlul Bait atau keluarga Nabi, terutama dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib. Perbedaan ini kemudian memengaruhi perkembangan kitab hadits, otoritas ulama, serta tradisi keilmuan dalam masing-masing kelompok dalam memahami ajaran Islam.
Demikian penjelasan tentang perbedaan Syiah dan Sunni beserta sejarah kemunculannya. Meski berbeda pandangan, kedua kelompok ini tetap menjadi bagian dari sejarah perkembangan pemikiran Islam. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/alg)
