8 Mukadimah Ceramah Ramadan, Bisa untuk Kultum dan Pengajian

8 Mukadimah Ceramah Ramadan, Bisa untuk Kultum dan Pengajian

Nur Umar Akashi - detikJateng
Selasa, 24 Feb 2026 14:50 WIB
Ceramah Ramadhan
Ilustrasi ceramah Ramadan. (Foto: storyset/Freepik)
Solo -

Sebelum masuk inti ceramah atau kuliah tujuh menit (kultum), khatib akan mengucapkan sekalimat atau dua kalimat pembukaan guna menarik perhatian audiens. Dalam bahasa Arab, pembukaan alias pengantar dikenal dengan sebutan mukadimah.

Mukadimah ceramah atau kultum Ramadan bisa dibawakan dengan bahasa Indonesia. Ada juga penceramah yang menggunakan lafal Arab atau mengombinasikan keduanya. Mukadimah singkat ini diharapkan mampu membuka hati jamaah agar lebih siap menerima nasihat.

Tahun ini, pemerintah menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Sejak bulan puasa yang mulia dimulai, sudah berlalu sederet momen kultum dan ceramah. Namun, Ramadan masih panjang sehingga detikers berkesempatan menyiapkan materi yang lebih bermutu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di samping isi ceramah, mukadimah berkualitas juga diperlukan. Jangan sampai, nasihat-nasihat penting jadi tidak tersampaikan akibat pendengar kurang antusias. Lantas, seperti apa mukadimah ceramah Ramadan? Yuk, simak beberapa contohnya di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Mukadimah Ceramah Ramadan untuk Kultum dan Pengajian

Sebagaimana telah disinggung di atas, mukadimah bisa menggunakan bahasa Arab semata, bahasa Indonesia, atau kombinasi keduanya. Ini contoh-contohnya sebagai referensi:

A. Mukadimah Ceramah Ramadan Bahasa Arab

Mukadimah-mukadimah berikut ini diambil dari buku Doa dan Zikir Makbul tulisan Abu Hurairah Abdul.

Mukadimah #1

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

Arab Latin: Assalāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Innal-ḥamda lillāhi naḥmaduhū wa nasta'īnuhū wa nastaghfiruhū wa nastahdīh, wa na'ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi'āti a'mālinā. Man yahdihillāhu falā muḍilla lah, wa man yuḍlil falā hādiya lah. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik 'alā Muḥammad wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī wa man ihtadā bihudāhū ilā yaumil-qiyāmah. Ammā ba'du.

Mukadimah #2

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا، تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ

Arab Latin: Assalāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Al-ḥamdu lillāhilladzī kāna bi'ibādihī khabīran baṣīrā, tabārakalladzī ja'ala fis-samā'i burūjā wa ja'ala fīhā sirājan wa qamaran munīrā. Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluhulladzī ba'atsahū bil-ḥaqqi basyīran wa nadhīrā, wa dā'iyan ilal-ḥaqqi bi-idznihī wa sirājan munīrā. Allāhumma ṣalli 'alaihi wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallim taslīman katsīrā. Ammā ba'du.

Mukadimah #3

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالإِسْلامِ وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ الْأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ

Arab Latin: Assalāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Al-ḥamdu lillāhilladzī an'amanā bini'matil-īmāni wal-islām, wa nuṣallī wa nusallimu 'alā khairil-anām sayyidinā Muḥammad wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma'īn. Ammā ba'du.

Mukadimah #4

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَلَى آبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Arab Latin: Al-ḥamdu lillāh, wa ṣallallāhu 'alā sayyidinā Muḥammad ibni 'Abdillāh, wa 'alā ābā'ihī wa ikhwānihī minal-anbiyā'i wal-mursalīn, wa 'alā āli baitihī wa aṣḥābihī wa man sāra 'alā nahjihim ilā yaumid-dīn.

Mukadimah #5

الْحَمْدُ لِلَّهِ الذِي أَنْزَلَ عَلَيْنَا أَشْرَفَ كُتُبِهِ وَأَرْسَلَ عَلَيْنَا أَفْضَلَ رُسُلِهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَمُعَلِّمِ الْبَشَرِيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ .

Arab Latin: Al-ḥamdu lillāhilladzī anzala 'alainā asyrafa kutubihī wa arsala 'alainā afḍala rusulihī, waṣ-ṣalātu was-salāmu 'alā khairil-bariyyah wa mu'allimil-basyariyyah sayyidinā Muḥammad, wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma'īn.

B. Mukadimah Ceramah Ramadan Bahasa Arab dan Indonesia

Contoh mukadimah kedua di bawah ini diambil dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online:

Mukadimah #1

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang dengan rahmat-Nya masih mengizinkan kita menghirup udara di bulan yang penuh keberkahan ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita, yang telah membawa cahaya Islam hingga sampai ke relung hati kita hari ini. Tidak ada kata yang lebih pantas kita ucapkan selain rasa syukur, karena di detik ini kita masih diberi kesempatan untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam keadaan iman yang terjaga.

Bulan Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, ia adalah "madrasah ruhaniyah" tempat kita menempa kembali disiplin diri, kejujuran, dan rasa empati kepada sesama. Hadirnya Ramadan adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya; sebuah jeda dari hiruk-pikuk dunia agar kita bisa kembali menata prioritas hidup dan mempererat ikatan dengan Al-Qur'an serta sang Pencipta.

Hadirin yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang singkat ini, mari kita buka hati dan pikiran untuk merenungkan kembali tujuan utama kita berpuasa, sebagaimana tujuan takwa yang dijanjikan-Nya. Semoga setiap rangkaian ibadah yang kita jalankan, mulai dari sahur hingga tarawih, tidak hanya menjadi rutinitas fisik semata, melainkan menjadi wasilah bagi gugurnya dosa-dosa kita di masa lalu. Marilah kita manfaatkan sisa hari-hari mulia ini dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Mukadimah #2

Salah satu ciri khas keutamaan bulan Ramadhan yang dapat kita rasakan bersama adalah keberadaannya yang selalu menjadi istimewa bagi umat Islam. Pada bulan mulia ini, kita bisa melihat masjid seolah menjadi lebih hidup, Al-Qur'an lebih sering dibaca dan terdengar di mana-mana, dan ibadah ditunaikan dengan lebih khusuk.

Dan dari sekian banyak ibadah yang kita lakukan di dalamnya, puasa menjadi ibadah yang paling menonjol dan lebih terasa daripada ibadah-ibadah yang lain. Mengapa demikian? Karena puasa tidak hanya tentang menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi juga melibatkan pengendalian diri secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut perihal hikmah-hikmah diwajibkannya puasa. Sehingga kita tidak hanya merasakan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar meresapi makna puasa dengan sebenar-benarnya.

Mukadimah #3

الحمد لله ربِّ العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيِّئات أعمالنا.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin jamaah salat Tarawih yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah SWT yang pada malam hari ini kembali mempertemukan kita dengan suasana Ramadan dan memberi kita kekuatan untuk menunaikan salat Tarawih, salah satu ibadah istimewa yang hanya kita jumpai di bulan yang mulia ini.

Salat Tarawih bukan sekadar rangkaian rakaat setelah Isya, tetapi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, melatih kesabaran, kekhusyukan, serta keistiqamahan dalam beribadah. Di balik lelahnya tubuh, tersimpan keutamaan besar bagi siapa saja yang menjalaninya dengan iman dan penuh harap akan pahala dari Allah SWT.

Oleh karena itu, sebelum kita memasuki pembahasan utama, marilah kita luruskan niat dan hadirkan hati, agar setiap langkah menuju masjid dan setiap rakaat yang kita dirikan benar-benar bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan kita.

Nah, itulah 8 mukadimah ceramah Ramadan yang bisa detikers jadikan referensi. Semoga bermanfaat!



(sto/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads