Kalender Hijriah Hari Ini 23 Januari 2026 dan Cara Nabi SAW Obati Demam

Kalender Hijriah Hari Ini 23 Januari 2026 dan Cara Nabi SAW Obati Demam

Nur Umar Akashi - detikJateng
Jumat, 23 Jan 2026 08:42 WIB
Fever, Close-up medical thermometer, Parent / Father measuring temperature of his ill kid, Asian 3 - 4 years old toddler boy gets high fever lying on bed with cold compress on forehead to cool a fever
Ilustrasi demam. (Foto: Getty Images/iStockphoto/yaoinlove)
Solo -

Perbedaan patokan kalender Masehi dan Hijriah dalam menentukan awal bulan menyebabkan tanggal yang berlainan pula. Kalender Masehi menggunakan dasar pergerakan Matahari, sedangkan kalender Hijriah mengacu pada Bulan.

Masyarakat Indonesia biasa menjadikan tanggalan Masehi sebagai panduan hidup sehari-hari. Padanya, tanggal-tanggal peringatan besar, baik nasional maupun internasional, ditetapkan. Begitu pula libur nasional dan cuti bersama.

Namun, tanggalan Hijriah tetap diperlukan. Mengingat, mayoritas orang Indonesia menganut agama Islam dan syariat-syariatnya dikerjakan berdasar kalender Hijriah. Di antaranya adalah sholat Idul Fitri, puasa sunnah Ayyamul Bidh, dan penyembelihan hewan kurban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengetahui tanggal Hijriah yang tepat setiap hari. Bagaimana dengan hari ini? Simak konversi Jumat, 23 Januari 2026, ke dalam tanggalan Hijriah menurut pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah via uraian berikut.

ADVERTISEMENT

Kalender Hijriah Hari Ini 23 Januari 2026

Kalender Hijriah 23 Januari 2026 Menurut Pemerintah

Tanggal resmi pemerintah dapat disimak via Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dirilis oleh Kementerian Agama. Dalam kalender itu, Januari 2026 tampak beririsan dengan dua bulan hijriah, yakni Rajab dan Syaban.

Rajab atau Rejeb dalam bahasa Jawa berakhir per Senin, 19 Januari 2026. Adapun Syaban, tanggal pertama bulan ini bertepatan dengan Selasa, 20 Januari 2026. Namun, berhubung waktu pergantian hari kalender Hijriah terjadi saat Matahari terbenam, sejatinya, Syaban sudah dimulai sejak Senin malam, 19 Januari 2026.

Singkat kata, menurut versi pemerintah, 23 Januari 2026 dikonversi menjadi 4 Syaban 1447 H.

Kalender Hijriah 23 Januari 2026 Menurut NU

Dilihat dari akun Instagram resminya, @falakiyahnu, Lembaga Falakiyah NU telah mengeluarkan keputusan berkaitan dengan awal Syaban 1447 H. Keputusan itu tercantum dalam Pengumuman Nomor: 116/PB.08/A.II.11.13/13/01/2026 tentang Awal Bulan Sya'ban 1447 H.

"Sebagai tindak lanjutnya maka awal bulan Sya'ban 1447 H bertepatan dengan Selasa Pahing 20 Januari 2026 M (mulai malam Selasa) atas dasar rukyah," bunyi poin II dalam pengumuman itu.

Informasi serupa juga tertera dalam Almanak 2026 yang dikeluarkan Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro. Kalender yang dibuat dengan mempertimbangkan kriteria imkanur rukyat NU itu menyebut 1 Syaban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 20 Januari 2026.

Dengan demikian, menurut NU, 23 Januari 2026 bertepatan dengan 4 Syaban 1447 H.

Kalender Hijriah 23 Januari 2026 Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)-nya menginformasikan bahwa Januari 2026 berbarengan dengan 2 bulan Hijriah. Keduanya adalah Rajab dan Syaban.

Rajab versi Muhammadiyah diawali pada 21 Desember 2025 lalu dan berakhir per Senin, 19 Januari 2026. Setelahnya, Syaban dimulai dan berjalan 29 hari hingga 17 Februari 2026 mendatang. Berakhirnya Syaban menandakan kedatangan Ramadhan.

Dengan demikian, Muhammadiyah menetapkan 23 Januari 2026 sebagai 4 Syaban 1447 H.

Untuk tambahan informasi, dilihat dari laman Suara Muhammadiyah, KHGT mulai dipakai pada awal 1447 H. Kalender ini bertujuan untuk menyatukan tanggalan umat Islam seluruh dunia sehingga tidak ada lagi perbedaan waktu.

Sekilas Mengenai Demam

Demam adalah kondisi kesehatan yang agaknya pernah dialami setiap orang. Di media sosial, kerap beredar selorohan akan para lelaki yang tidak kuasa menghadapi demam. Padahal, untuk penyakit-penyakit fisik lain, seperti keseleo atau tertusuk pecahan kaca, respons kaum pria lebih santai.

Anekdot itu bertransformasi menjadi 'keyakinan' bahwasanya demam benar-benar membuat tubuh tidak bisa berbuat apa-apa. Namun sebenarnya, apa itu demam?

Dilansir Health Direct, demam adalah kondisi suhu tubuh yang lebih tinggi dari normalnya. Biasanya yang dianggap memenuhi kriteria demam adalah suhu di atas 38℃. Gejalanya meliputi keringat, gemetar, hingga otot dan sendi yang sakit.

Penyebab demam sangat bervariasi. Medical News Today menyebut demam mungkin disebabkan pilek, flu, infeksi telinga, gastroenteritis, rubella, radang amandel, panas Matahari, dan demam berdarah.

Demam tidak melulu mesti diatasi dengan pengobatan. Ada kalanya demam mereda dengan sendirinya. Namun, jika perlu diobati, maka dokter-dokter modern akan meminta pasien minum banyak air, mengonsumsi antibiotik, hingga menelan obat antipiretik, tergantung tipe demamnya.

Cara Nabi Muhammad SAW Obati Demam

Jauh sebelum ilmu kedokteran modern muncul, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan bagaimana cara mengatasi demam. Diambil dari laman resmi Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz, metodenya diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhu:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَطْفِئُوهَا بِالْمَاءِ قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ اكْشِفْ عَنَّا الرِّجْزَ

Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, 'Demam itu berasal dari tiupan neraka jahannam maka redakanlah dengan air.' Nafi' berkata: 'Sedangkan Abdullah pernah mengatakan, "Hindarkanlah kami dari azab." (HR Bukhari)

Ada juga hadits lain dari Abu Jamrah adl-Dluba'iy:

كُنْتُ أُجَالِسُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَأَخَذَتْنِي الْحُمَّى فَقَالَ أَبْرِدْهَا عَنْكَ بِمَاءِ زَمْزَمَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ أَوْ قَالَ بِمَاءِ زَمْزَمَ شَكَّ هَمَّامٌ

Artinya: "Aku pernah bermajelis dengan Ibnu 'Abbas di Makkah kemudian aku terkena penyakit panas." Maka dia berkata, 'Dinginkanlah penyakit itu dari kamu dengan menggunakan air zamzam. Karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Penyakit panas (demam) berasal dari hembusan api jahannam maka itu redakanlah dengan air", atau Beliau bersabda, "Dengan air zamzam." Dalam hal ini Hammam ragu.'" (HR Bukhari)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam buku Kedokteran Ala Nabi yang diterjemahkan Muhammad Abid Hadlori SAg Lc mengatakan bahwa demam yang dimaksud Nabi SAW adalah demam akibat panas Matahari. Ia menulis:

"Jika ini dipahami, maka khitab beliau dalam hadits ini khusus untuk penduduk Hijaz dan sekitarnya, karena kebanyakan demam yang menimpa mereka adalah jenis demam harian yang terjadi karena panasnya sinar Matahari yang keras."

Saat menghadapi demam semacam ini, umat Islam dapat meniru cara Nabi SAW, yakni mendinginkannya dengan air. Air yang digunakan boleh apa saja, tetapi diutamakan dengan air zamzam. Cara menggunakan air tersebut adalah menuangkannya ke tubuh.

Abu Nu'aim meriwayatkan hadits dari Anas secara marfu', "Jika salah seorang dari kalian demam, maka hendaklah ia menyiramkan air dingin padanya tiga malam dari waktu sahur."

Juga hadits dalam Sunan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, "Demam adalah tungku dari tungku-tungku Jahannam, maka jauhkanlah dari kalian dengan air dingin.

Pun, ada hadits al-Hasan dari Samurah secara marfu', "Demam adalah sepotong dari api, maka dinginkanlah dari kalian dengan air dingin. Rasulullah SAW jika demam meminta qirbah (wadah kulit) berisi air, lalu menuangkannya di atas kepalanya dan mandi."

Seorang muslim sudah sepantasnya menjauhkan mulutnya dari cacian saat demam mendera. Sebab, demam menghapus dosa-dosa orang yang terkena. Diambil dari laman resmi Pesantren Islam Al-Irsyad, dasarnya adalah hadits:

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ أَوْ أُمِّ الْمُسَيَّبِ فَقَالَ: (مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ؟) قَالَتْ: (الْحُمَّى, لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا) فَقَالَ: (لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيد)

Artinya: "Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam pernah menjenguk Ummu As-Saaib atau Ummu Al-Musayyib lalu bertanya, 'Wahai Ummu As-Saaib atau Ummu Al-Musayyib, kenapa kamu menggigil?' Dia menjawab, '(Aku sakit) demam, semoga Allah tidak memberkahinya.' Lalu beliau bersabda, 'Janganlah kamu mencela sakit demam. Karena penyakit demam itu menghapus dosa-dosa anak cucu Adam (maksudnya; orang-orang yang beriman -pent) sebagaimana perapian bisa menghilangkan kotoran besi.'" (HR Muslim no 4672)

Demikian kalender Hijriah hari ini 23 Januari 2026 dan cara Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam obati demam. Semoga informasinya bermanfaat, ya, detikers!



(sto/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads