Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meresmikan taman dan monumen Raden Mas (RM) Bambang Soeprapto di Gajahmungkur, Kota Semarang, pada Jumat, 9 Januari 2026. Dalam acara itu, Ahmad Luthfi menyatakan bakal mengusulkan RM Bambang Soeprapto sebagai pahlawan nasional.
"Monumen ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda, di sini merupakan tetenger atau penanda bahwa dulu pernah terjadi Pertempuran Lima Hari Semarang, yang salah satunya dimotori oleh putra terbaik Jawa Tengah dan Semarang, yaitu RM Bambang Soeprapto," ujarnya, dilansir situs resmi Pemprov Jawa Tengah.
"Kita akan terus berjuang, agar tahun 2026 RM Bambang Soeprapto mendapatkan gelar pahlawan nasional," kata gubernur Jawa Tengah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, patung RM Bambang Soeprapto berukuran tinggi 10 meter. Patung buatan Heru Joning Siswanto itu berdiri kokoh di tengah taman seluas 70 x 24 meter yang didesain oleh Seno Aditya dan M Danar Sasmito.
Sebenarnya, siapa RM Bambang Soeprapto? Simak profilnya di bawah ini.
Kiprah RM Bambang Soeprapto Masa Jepang
Tak banyak yang diketahui mengenai sosok pejuang satu ini. Padahal, kiprahnya bagi Indonesia dan terkhusus Semarang, tidak bisa diremehkan.
Diringkas dari laman resmi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Semarang, pada 1943, RM Bambang Soeprapto ditugaskan menjadi anggota Sendenbu di Semarang. Penugasan itu terjadi setelah ia menyelesaikan pendidikan di Jakarta.
Sebagai informasi, Sendenbu adalah departemen propaganda Jepang yang berada di bawah yurisdiksi Gunseikanbu. Departemen ini dibentuk pada 1942, bertanggung jawab atas propaganda dan informasi seputar pemerintahan sipil, menurut penjelasan dalam dokumen unggahan Repository Unsada.
Di samping menjadi anggota Sendenbu, Soeprapto juga bertugas menghimpun pemuda dalam rangka membangun pondasi kemerdekaan. Bersama para pemuda itu, ia membangun jaringan di Jalan Bojong dan Purusara.
Selama masa penjajahan Jepang, RM Bambang Soeprapto pernah ditugaskan sebagai wakil komandan kompi Tokubetsu Keisatsu Tai. Dikutip dari jurnal berjudul 'Perkembangan Polisi Pengawas Aliran Masyarakat (PAM) di Indonesia Tahun 1945-1950' oleh Annisa Tri Wahyuni, satuan polisi ini dibentuk pada 1944.
Tujuan awal pembangunan Tokubetsu Keisatsu Tai adalah keinginan militer Jepang untuk memiliki unit cadangan polisi yang mampu bergerak cepat. Anggotanya diambil dari para Polisi Muda dan Pemuda Polisi di setiap karesidenan Jawa-Madura.
Perjuangan RM Bambang Soeprapto dalam Pertempuran Lima Hari Semarang
Dirujuk dari buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Jawa Tengah yang disusun Drs Wiyono MA dkk, berakhirnya pemerintahan pendudukan Jepang di Semarang disusul pendirian Komite Nasional. Komite ini bertujuan membantu penyelenggaraan pemerintahan RI di Semarang.
Pada rapat yang digelar per 28 Agustus 1945 di Gedung Djawa Hokokai, RM Bambang Soeprapto diangkat sebagai Ketua Muda bersama Dr Soedjono Djoened Poesponegoro. Sosoknya juga tercatat terpilih sebagai ketua Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) lewat konferensi kilat di Semarang. Dalam pertempuran yang akan pecah beberapa bulan kemudian, AMRI turut serta secara aktif.
Menurut uraian di buku Dunia Revolusi: Perspektif dan Dinamika Lokal Pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 tulisan Bambang Purwanto dan Gerry van Klinken, Pertempuran Lima Hari Semarang terjadi antara tanggal 14 dan 19 Oktober 1945.
Dalam pertempuran berdarah itu, RM Bambang Soeprapto menduduki posisi-posisi strategis. Pasukannya diketahui menjaga tempat-tempat vital. Sebut saja Kantor RRI Semarang, dan penampungan air Siranda.
Saat pasukan Jepang menyerbu dengan kekuatan 1.000 orang, Bambang Soeprapto bersama pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bertahan dengan hebat. Mereka berjibaku mempertahankan kawasan bekas markas Kempetai dan sekitar Tugu Muda.
Peran Bambang Soeprapto dalam Pertempuran Lima Hari Semarang sudah dimulai sejak beberapa saat sebelumnya. Pada 5 September 1945, ia merebut gudang senjata Jepang di Kembang Pakis. Senjata-senjata itu dibagikan ke anggota BKR dan AMRI. Lalu, pada 7 Oktober 1945, Bambang Soeprapto, dibersamai BKR dan AMRI, menyerbu markas Kido Butai di Jatingaleh. Serbuan itu menghasilkan tak kurang 160 pucuk senjata.
Peran RM Bambang Soeprapto Mempertahankan Kemerdekaan
RM Bambang Soeprapto terlibat dalam berbagai perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di antaranya:
- Menghadapi Agresi Militer Belanda I di Bobotsari, Sukaraja, Purwokerto, hingga Karangnangka selama rentang Juli-Desember 1947.
- Mengumpulkan unsur TKR, PTL, dan TP untuk menyerang pertahanan Belanda di perbatasan Banyumas-Pekalongan.
- Menghadapi kerusuhan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jogja, Solo, Blora, dan Pati pada Juli-Agustus 1948.
- Menumpas PKI Madiun pada September 1948.
- Menghabisi PKI di Gundi, Wirosari, Tlawah, dan Purwodadi pada Oktober 1948.
- Melawan pemberontakan Yon Panembahan Senopati pada Novemebr 1948.
- Mempertahankan Banjarnegara dari Agresi Militer II Belanda pada Desember 1948.
- Menghadang serangan Belanda pada 28 Januari 1949 di Boja, Cilacap.
Akhir Hayat RM Bambang Soeprapto
Frans Hitipeuw dalam buku Karel Sadsuitubun menjelaskan bahwasanya gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menyebar dari Jawa Barat ke daerah lain, termasuk Jawa Tengah. Di Jawa Tengah, mereka muncul setelah Agresi Militer Belanda II.
Amir Fatah sebagai pemimpinnya membentuk TII, organisasi kepolisian bernama Barisan Keamanan Negara (BKN), dan Pahlawan Darul Islam (PADI). Amir tidak mengakui NKRI karena menurutnya, Indonesia telah 'hilang' setelah Soekarno ditangkap dan dibuang Belanda ke Bangka.
Amir Fatah mulai menjalankan aksinya di Jawa Tengah. Pada 27 April 1947, ia menangkap RM Bambang Soeprapto yang kala itu menjabat sebagai komandan Mobile Brigade Karesidenan Banyumas. Rombongan RM Bambang Soeprapto dicegat saat menempuh perjalanan menuju markas di daerah Cikokol.
Salah seorang anggota rombongan Soeprapto, bernama Suwarno, lolos dari cegatan Amir Fatah. Ia memberitahu kabar itu ke markas Cikokol. Pasukan pengawal langsung berangkat untuk menjemput RM Bambang Soeprapto. Namun, meski mulanya disambut baik, pasukan itu disergap, dilucuti, dan ditawan oleh Kompi Subechi dari pasukan Amir Fatah.
Pada akhirnya, seluruh pasukan pengawal dibebaskan. Namun, RM Bambang Soeprapto yang menjadi jaminan dibunuh pada 28 Mei 1949 di Kalisat, Brebes. Pada 1951, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang.
Demikian profil ringkas RM Bambang Soeprapto. Semoga bermanfaat!
(par/par)
