Jalan penghubung antardesa di Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, yang terdampak longsor hingga kini masih terputus. BPBD Jawa Tengah (Jateng) menyebut pembuatan jalan darurat belum memungkinkan untuk dilakukan.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jateng, Chomsul, menyebut penanganan darurat dengan membuat jalan sementara belum bisa dilakukan karena kondisi longsor yang terbilang besar.
"Iya, itu longsorannya kan memang besar. Jadi kalau untuk penanganan daruratnya dibuat jalan sementara kok tidak memungkinkan. Kemarin penanganan awalnya BPBD baru memasang lampu untuk peringatan longsor," kata Chomsul saat dihubungi detikJateng, Kamis (8/1/2026).
Ia mengatakan, longsor itu terjadi di lereng yang konturnya labil, sehingga penanganannya perlu perhitungan matang dari sisi konstruksi. Sementara ini BPBD mengerahkan kendaraan untuk antar-jemput siswa.
"Kondisi terakhir masih putus total, masih dalam tahap rapat dengan Bupati dan pihak terkait. Dari BPBD mengerahkan beberapa kendaraan untuk antar-jemput siswa sekolah," jelasnya.
Penanganan darurat yang bisa dilakukan sementara ini ialah yakni pembuatan irigasi sementara menggunakan pipa diameter 8 inci sepanjang 50 meter dan perkuatan bambu.
"Kemudian akses jalan darurat menggunakan rencana trase jalan baru yang dipadatkan dengan material pasir dan batu (sirtu), khusus digunakan kendaraan roda dua," ungkapnya.
Berdasarkan laporan dari Temanggung, Chomsul menyebut longsor itu memiliki tinggi sekitar 50 meter dan lebar 15 meter, serta memutus akses jalan penghubung antardesa di Kecamatan Gemawang.
"Estimasi kerusakan sekitar Rp 102 juta. Tindak lanjut penanganan fisiknya masih dirapatkan, kemarin sudah proses penetapan status tanggap darurat untuk dukungan pembiayaan. Nah, mungkin setelah itu baru mulai pembangunan konstruksinya," urainya.
Chomsul menambahkan penyebab longsor diduga akibat kondisi lereng yang tidak stabil ditambah curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
"Dari gambar yang kami lihat, posisi jalan berada di lereng dan longsorannya cukup luas, mahkotanya juga tinggi. Asumsi kami, kombinasi lereng tidak stabil dan curah hujan tinggi," ungkapnya.
Ia menjelaskan penanganan awal yang sudah dilakukan di lokasi antara lain pemasangan lampu peringatan longsor serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Saat ini pemerintah daerah masih menggelar rapat lanjutan bersama Bupati Temanggung dan pihak terkait untuk menentukan langkah berikutnya.
"Sedang dirapatkan untuk penanganan lebih lanjut, termasuk proses penetapan status tanggap darurat yang berkaitan dengan dukungan pembiayaan penanganan konstruksi," jelasnya.
Terkait keterlibatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Chomsul mengatakan penanganan awal kini masih menjadi kewenangan pemerintah kabupaten. Provinsi akan memberikan atensi jika dirasa perlu.
Meski tidak ada warga yang harus mengungsi, Chomsul mengakui putusnya akses jalan ini berdampak pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, mulai dari bertambahnya jarak tempuh hingga terganggunya distribusi hasil pertanian.
"Dengan terputusnya akses, biaya operasional masyarakat bertambah dan aktivitas menjadi lebih lama. Kalau tidak segera ditangani, tentu kan berdampak pada perekonomian warga," jelas dia.
(dil/ams)