Rekam Jejak Panjang Timnas Indonesia di Homeless World Cup

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 07:30 WIB
Pemain Timnas Indonesia di Homeless World Cup 2024. (Foto: Dok. Istimewa/ANITA MILAS)
Bandung -

Mundurnya Indonesia dari ajang Homeless World Cup (HWC) 2026 menjadi pukulan telak bagi perjalanan panjang tim nasional sepak bola jalanan yang dikenal sebagai "Garuda Jalanan". Di balik keputusan pahit itu, tersimpan kisah lebih dari satu dekade tentang perjalanan tim yang telah banyak menorehkan prestasi di kancah internasional.

Homeless World Cup bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Sejak pertama kali digelar pada 2003, ajang ini menjadi ruang bagi individu yang pernah atau sedang mengalami tunawisma, serta mereka yang menghadapi berbagai tantangan sosial, untuk bangkit melalui olahraga.

Indonesia mulai ambil bagian pada 2011 yang diwakili oleh Rumah Cemara. Organisasi berbasis di Bandung ini menjadikan sepak bola sebagai alat pemberdayaan sosial guna menghubungkan mereka yang terpinggirkan dengan kesempatan hidup yang baru.

Para pemain yang memperkuat Garuda Jalanan bukanlah atlet profesional. Mereka datang dari latar belakang yang beragam: tunawisma, peserta rehabilitasi narkotika, pekerja informal berpenghasilan rendah, orang dengan HIV (ODHIV), hingga warga binaan pemasyarakatan.

Debut Indonesia di HWC dimulai pada 2011 di Paris, Prancis, dan langsung mencuri perhatian dunia. Kala itu, Garuda Jalanan berhasil finis di posisi keenam dan meraih penghargaan Best Newcomer Team.

Setahun berselang di Meksiko, performa tim meningkat pesat. Indonesia finis di posisi keempat sekaligus membawa pulang penghargaan individu bergengsi, Best Male Coach.

Pada 2013 di Poznan, Polandia, Indonesia finis di peringkat kedelapan. Berlanjut pada 2014 di Santiago, Cile, tim berada di posisi ke-10 namun berhasil menyabet penghargaan Best Male Player. Sementara pada 2015 di Amsterdam, Belanda, Indonesia finis di peringkat 17 meski tetap membawa pulang titel Third Trophy Winner.

Performa tim kembali menanjak pada 2016 di Glasgow, Skotlandia, dengan finis di posisi ketujuh dan meraih penghargaan Best Male Goalkeeper. Setahun kemudian di Oslo, Norwegia, Indonesia berhasil menembus posisi kelima besar.

Pada 2018, saat kembali berlaga di Meksiko, Indonesia menempati posisi ke-10 dan meraih predikat Fair Play Team. Namun, pada 2019 di Cardiff, Wales, tim harus puas mengakhiri kompetisi di peringkat ke-20.




(bba/orb)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork