Mengenal Kuliner Ekstrem Ayam 'Setengah Jadi'

Andi Annisa Dwi R - detikJabar
Minggu, 08 Mar 2026 00:05 WIB
Balut, makanan ekstrem dari Filipina. (Foto: Taste Atlas)
Jakarta -

Balut kerap disebut sebagai salah satu kuliner paling ekstrem di dunia. Lantas, apa yang membuatnya disebut kuliner ekstrem?

Makanan khas Filipina ini terlihat sederhana dari luar, sekilas hanya telur rebus biasa. Namun begitu cangkangnya dibuka, isinya kerap membuat orang terhenyak: embrio bebek yang sudah terbentuk.

Tak heran jika balut sering viral di media sosial, terutama di kalangan pencinta makanan unik dan menantang adrenalin. Proses pembuatannya memang tidak lazim. Telur ayam atau bebek dierami selama 14 hingga 21 hari sampai janin unggas terbentuk, lalu direbus hingga matang dan disantap selagi hangat.

Di Filipina, balut bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Meski begitu, popularitasnya juga diiringi kontroversi. Banyak pihak menilai balut problematis, baik dari sudut pandang agama, kemanusiaan, hingga kesejahteraan hewan.

Bagi yang pernah mencicipinya, balut disebut memiliki rasa gurih dengan tekstur yang unik. Bagian dagingnya kenyal, sementara tulang embrio terasa lunak dan sedikit renyah saat digigit. Untuk menambah cita rasa, balut kerap disantap dengan bumbu sederhana seperti cabai, bawang putih, dan cuka. Di beberapa wilayah lain seperti Kamboja, balut disajikan hangat dengan perasan jeruk nipis dan taburan merica.

Namun bagi umat Muslim, balut tidak bisa dikonsumsi. Edukator halal Anca melalui akun Instagram @anca.id menjelaskan alasan keharamannya. Ia menegaskan bahwa balut sudah mengandung embrio yang bernyawa.

"Sudah ada nyawanya dan binatang yang sudah ada nyawanya itu harus disembelih sesuai syariah supaya menjadi halal. Kalau nggak, ya kamu akan makan bangkai dan jadinya haram," jelasnya.

Di luar persoalan halal-haram, balut juga menuai kritik dari sisi etika. Di sejumlah negara seperti Inggris, terdapat undang-undang yang melindungi embrio hewan. Bahkan, beberapa organisasi internasional pernah mengajukan petisi untuk menghentikan konsumsi balut.

Dari aspek kesehatan, balut juga kerap dipertanyakan. Telur dengan embrio ini berpotensi mengandung bakteri seperti Salmonella yang bisa membahayakan tubuh jika tidak diolah atau dikonsumsi dengan benar.

Balut mungkin menjadi simbol keberanian kuliner bagi sebagian orang. Namun di balik keunikannya, makanan ini menyimpan perdebatan panjang, dari tradisi, etika, hingga keyakinan agama.

Artikel ini telah tayang di detikFood




(adr/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork