Di tengah menjamurnya coffee shop modern dengan interior estetik, pendingin ruangan, dan fasilitas lengkap, warung kopi atau warkop justru menolak tersingkir. Tanpa sofa empuk dan playlist senyap, warkop tetap menjadi ruang makan dan nongkrong yang setia menemani masyarakat, terutama mereka yang ingin kenyang tanpa menguras dompet.
Fenomena itu tampak jelas di Warkop ADD dan Warkop H. Mahmud. Keduanya sama-sama buka 24 jam, sama-sama ramai, namun memiliki karakter yang berbeda. Di antara gempuran tren ngopi kekinian, dua warkop ini menjadi bukti bahwa perubahan zaman tak serta-merta menghapus kebiasaan lama.
Warkop ADD: Sederhana, Murah, dan Tak Pernah Sepi
Di balik etalase sederhana Warkop ADD , Topik Hidayah sudah lebih dari setahun menjalani rutinitas kerja bergiliran. Warkop yang berlokasi di Jalan Lengkong Besar ini beroperasi 24 jam nonstop dengan sistem shift 12 jam. Menurutnya, denyut paling ramai justru terasa saat malam hari, ketika mahasiswa dan para pekerja datang mengisi perut dan melepas penat.
"Menurut saya, warkop emang harus dipertahankan ciri khasnya, tapi makin ke sini udah modern juga sih, baik dari segi makanan dan pelayanannya. Di sini bayar udah bisa pake QRIS walaupun untuk wifi memang belum ada," ujarnya saat ditemui oleh detikJabar belum lama ini.
Ketiadaan WiFi bukan masalah besar. Warkop ADD justru hidup dari keramaian obrolan. Strateginya pun sederhana, berada di lokasi yang tepat.
"Strategi kami adalah menemukan tempat paling ramai, dekat mahasiswa atau sekolah. Alhamdulillah, ramai terus," tambahnya.
Bagi Topik, coffee shop bukanlah ancaman selama warkop setia pada keunggulannya, harga.
"Di warkop itu identiknya murah dan enak. Paling murah 10 ribu sudah sama minum, paling mahal cuma 25 ribu. Kalau di coffee shop kan 25 ribu kadang cuma dapet minum, itu pun rasanya kurang puas," ungkapnya.
Antara Dompet dan Kebutuhan
Di salah satu meja, Resha, seorang mahasiswi, duduk bersama teman-temannya seusai kuliah. Baginya, warkop bukan sekadar tempat makan, melainkan solusi finansial.
"Warkop masih dinikmati karena lebih affordable, terjangkau buat harga pelajar yang uangnya harus ditabung," kata Resha.
Ia melihat warkop dan coffee shop memiliki peran berbeda.
"Coffee shop itu buat orang yang mau WFC (Work From Cafe), karena lebih tenang dan tidak berisik. Kalau warkop kan terbuka, jadi kurang nyaman buat kerja serius. Tapi warkop menang di porsi standar dan harga murah. Kalau uang lagi mepet ya ke warkop, kalau lagi banyak uang dan mau menenangkan pikiran baru ke coffee shop," jelasnya.
Pandangan serupa diungkapkan Fatur, pengunjung lainnya. "Bedanya cuma di AC aja, kenyamanan hampir sama. Di warkop kita bisa lebih terbuka, lebih berisik, dan ngobrol suasana keras karena tidak banyak aturan," tuturnya.
Ia menilai warkop tetap bertahan karena memiliki menu khas yang jarang ditemui di coffee shop modern.
(dir/dir)