Hari Sumpah Pemuda 2026: Sejarah, Tema, Makna Logo, dan Link Download

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 27 Okt 2026 10:52 WIB
Foto: Istimewa
Bandung -

Setiap tahunnya, tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang lahirnya semangat persatuan generasi muda Indonesia yang tercetus melalui ikrar Sumpah Pemuda pada 1928.

Pada 2026, peringatan Hari Sumpah Pemuda memasuki usia ke-98 tahun. Hari Sumpah Pemuda diperingati dengan tema dan logo khusus setiap tahunnya.

Logo tersebut dapat digunakan oleh berbagai instansi, perusahaan, hingga lembaga pendidikan untuk memeriahkan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Simak sejarah singkat Sumpah Pemuda, tema Hari Sumpah Pemuda 2026, makna logo, dan link downloadnya berikut ini!

Sejarah Singkat Hari Sumpah Pemuda

Dilansir dari buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya Bagi Pergerakan Nasional, lahirnya Sumpah Pemuda berawal dari tumbuhnya semangat kebangsaan di kalangan organisasi pemuda dari berbagai daerah.

Salah satu tokoh yang berperan dalam proses tersebut adalah Mohammad Tabrani, wartawan muda dari harian Hindia Baroe. Ia menginisiasi Konferensi Organisasi Pemuda Nasional pertama pada 15 November 1925 di Gedung Lux Orientis, Jakarta.

Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan sejumlah organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen. Konferensi ini kemudian mendorong penyelenggaraan Kongres Pemuda I pada 30 April hingga 2 Mei 1926 di Jakarta.

Kongres Pemuda I menjadi salah satu langkah awal untuk mempererat hubungan antar kelompok pemuda yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara.

Upaya menyatukan pemuda berlanjut melalui Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut berlangsung di tiga lokasi, yaitu Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan rumah milik Sie Kong Lian di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta.

Di lokasi terakhir tersebut, ikrar Sumpah Pemuda dibacakan pada penutupan kongres. Pada kesempatan yang sama, lagu "Indonesia Raya" ciptaan Wage Rudolf Supratman diperdengarkan untuk pertama kalinya menggunakan biola.

Lagu tersebut dinyanyikan oleh Theodora Atia atau Dolly Salim, putri Haji Agus Salim. Penyajiannya dilakukan dengan penyesuaian agar tidak memancing kecurigaan pemerintah kolonial Belanda.

Peristiwa ini menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan nasional karena memperkuat gagasan persatuan di tengah keberagaman suku, daerah, dan organisasi pemuda.



Simak Video "KNPI Gelar Doa Bersama Agar Pemilu Damai Hingga Hari Pelantikan"


(tya/tya)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork