Nay Sulap Kopi-Jelaga Asap Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Siti Fatimah - detikJabar
Minggu, 30 Nov 2025 12:31 WIB
Nay Sunarya, pelukis asal Sukabumi yang sulap kopi dan jelaga asap jadi karya seni bernilai tinggi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar).
Sukabumi -

Di sebuah sudut ruang sederhana di Kampung Selajambu, Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedas, Kabupaten Sukabumi, aroma kopi pekat dan jelaga asap bercampur jadi satu. Di sanalah Nay Sunarya, seorang seniman 43 tahun, menorehkan karya seni hanya dengan media kopi dan asap api lampu minyak tanah.

Dengan hentakan tangan yang tenang, Nay mengarahkan api kecil ke atas kertas. Asap yang menebal perlahan membentuk guratan wajah manusia.

"Karakter asap itu paling sulit, kalau kena gores tangan sedikit aja langsung hilang," katanya sambil tersenyum, matanya tak lepas dari kertas yang digenggam kuat oleh penjepit besi saat ditemui detikJabar beberapa waktu lalu.

Nay Sunarya saat sedang mengerjakan karyanya (Foto: Siti Fatimah/detikJabar).

Nay bercerita, kecintaannya pada seni lukis sudah tumbuh sejak duduk di bangku SD. Setelah lulus SMP, ia memilih fokus di dunia lukis mulai dari airbrush hingga sketsa pensil.

"Dulu belajar dari teman komunitas, ikut pameran, exploring terus. Alhamdulillah akhirnya ketemu teknik kopi dan asap ini," tuturnya.

Teknik asap mulai ia tekuni pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, sementara lukisan kopi sudah lebih dulu ia kerjakan. Baginya, medium ini punya nilai rasa yang berbeda.

"Karena saya pecinta kopi juga, akhirnya saya mengalihkan minat ke kopi di kanvas. Jadi bukan cuma diminum aja," ucapnya sambil tertawa kecil.

Melukis Tokoh Nasional dan Pameran Internasional

Sejak beberapa tahun ke belakang, Nay telah melukis banyak tokoh nasional. Ia menyebut beberapa nama yang pernah ia tuangkan dalam karya, mulai dari tokoh publik, akademisi hingga pejabat negara. Harga karyanya bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta tergantung ukuran.

Karyanya bahkan dua kali dipamerkan di Brasil, akhir 2024 dan Oktober 2025, melalui kolaborasi komunitas internasional dari 30 negara. Namun semua dicapai dengan modal sendiri.

"Biaya kirim karya aja lumayan. Dari pemerintah belum ada dukungan materi. Yang penting karya terus jalan," ujarnya.


(mso/mso)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork