Curug Ciranca, Ruang Sunyi di Kaki Perbukitan Dukupuntang

Devteo Mahardika - detikJabar
Senin, 25 Mei 2026 06:00 WIB
Suasana Curug Ciranca Kabupaten Cirebon (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Kabut tipis masih menggantung di sela perbukitan ketika langkah demi langkah mulai menapaki jalan setapak yang membelah ilalang. Udara pagi terasa lembap dan dingin. Dari kejauhan, suara gemericik air terdengar samar, bersahut dengan desir angin yang mengusap pucuk-pucuk daun.

Perjalanan menuju Curug Ciranca bukan sekadar wisata biasa. Ia lebih menyerupai perjalanan pulang menuju alam yang lama terlupakan.

Di sepanjang jalur menuju Desa Kedondong Kidul, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, hamparan sawah membentang seperti permadani hijau yang belum selesai ditenun. Jalan kecil yang melewati Desa Girinata hingga Desa Cipanas perlahan menjauhkan pengunjung dari kebisingan kota.

Tak ada suara kendaraan. Tak ada hiruk-pikuk pusat wisata modern. Hanya suara alam yang berjalan perlahan mengiringi perjalanan.

Sesekali, burung liar berkicau dari balik pepohonan. Di beberapa titik, aliran sungai kecil memotong jalur trekking yang dipenuhi bebatuan dan tanah basah. Namun justru di situlah daya tarik Curug Ciranca terasa berbeda.

Air terjun setinggi sekitar 30 meter itu berdiri tenang di balik perbukitan, seolah sengaja disembunyikan alam. Dari kejauhan, aliran airnya tampak seperti kain putih panjang yang dijatuhkan dari langit. Air jatuh deras menghantam bebatuan hitam di bawahnya, menciptakan percikan embun yang beterbangan hingga membasahi dedaunan liar di sekitar curug.

Tak ada ornamen berlebihan di tempat ini. Curug Ciranca memikat lewat kesederhanaannya. Tebing-tebing batu menjulang alami tanpa sentuhan beton. Akar-akar pohon menggantung bebas di sela dinding tebing, sementara sungai kecil di bawah air terjun mengalir jernih membelah bebatuan.

Perjalanan menuju titik air terjun memang membutuhkan usaha lebih. Setelah kendaraan diparkir di sekitar permukiman warga atau kantor desa, pengunjung masih harus berjalan kaki melewati pematang sawah, jalan setapak, hingga pinggiran sungai. Beberapa bagian jalur cukup licin, terutama selepas hujan turun.

Namun medan itulah yang justru membuat pengalaman menuju Curug Ciranca terasa utuh.

Suasana Curug Ciranca Kabupaten Cirebon Foto: Devteo Mahardika/detikJabar

Setiap pijakan seolah mengajarkan cara menikmati perjalanan dengan lebih perlahan. Banyak pengunjung memilih berhenti sejenak untuk mengatur napas sambil menikmati bentang hijau perbukitan. Sebagian lainnya duduk di atas batu sungai, membiarkan suara air mengambil alih percakapan.

Curug Ciranca kini mulai dikenal sebagai salah satu "hidden gem" di Cirebon. Lokasinya yang tersembunyi membuat kawasan ini tetap terasa alami dan belum kehilangan karakter aslinya. Airnya yang berasal langsung dari mata air pegunungan juga dikenal sangat segar.

Bagi sebagian orang, tempat ini bukan hanya tujuan wisata, melainkan ruang untuk beristirahat dari kebisingan hidup sehari-hari.

Di bawah suara air yang jatuh tanpa henti, waktu terasa berjalan lebih lambat. Telepon genggam kehilangan daya tariknya. Orang-orang datang bukan untuk tergesa-gesa, melainkan untuk diam, mendengar, dan merasakan.

Penjabat Kuwu Desa Kedondong Kidul, Nana Surana, mengatakan Curug Ciranca hampir selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan.

"Setiap akhir pekan Curug Ciranca ramai dikunjungi pengunjung untuk menikmati keindahan alamnya," ujar Nana saat ditemui, Minggu (17/5/2026).

Menurut dia, pengunjung datang dari berbagai daerah di sekitar Cirebon karena mencari suasana alam yang masih asri dan jauh dari keramaian wisata modern.

Meski demikian, Nana mengingatkan wisatawan agar mempersiapkan diri sebelum datang karena akses menuju curug masih berupa jalur trekking alami.

"Pengunjung yang akan ke Curug Ciranca diimbau untuk menggunakan sepatu atau sandal gunung trekking," katanya.

Imbauan itu bukan tanpa alasan. Jalur menuju air terjun dipenuhi ilalang, akar pohon, serta batu-batu licin. Namun bagi para pecinta alam, medan seperti itu justru menghadirkan sensasi petualangan yang mulai jarang ditemukan.

Di sekitar kawasan curug, suasana sederhana terasa begitu hidup. Sebagian pengunjung membawa bekal dan menikmati makan siang di atas batu sungai. Ada yang menyeduh kopi hangat sambil memandangi derasnya aliran air. Anak-anak muda sibuk mengabadikan momen dengan kamera dan telepon genggam, sementara lainnya memilih bermain air di tepian sungai yang dangkal.

Meski belum berkembang menjadi destinasi wisata besar, nama Curug Ciranca perlahan menyebar lewat cerita dari mulut ke mulut dan media sosial. Foto-foto tebing batu serta aliran airnya yang megah mulai sering muncul di lini masa para pelancong.

Bagi masyarakat Desa Kedondong Kidul, Curug Ciranca bukan sekadar panorama alam. Tempat itu juga menyimpan harapan tentang masa depan desa.

"Kami berharap Curug Ciranca ini menjadi destinasi wisata yang mampu mendongkrak ekonomi Desa Kedondong Kidul," pungkas Nana.

Harapan itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna besar. Di tengah derasnya pembangunan dan cepatnya perubahan zaman, tempat-tempat seperti Curug Ciranca menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya objek wisata, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.

Menjelang sore, cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan. Suara air Curug Ciranca masih jatuh dengan irama yang sama deras, tenang, dan setia mengisi sunyi perbukitan Dukupuntang.

Satu per satu pengunjung mulai beranjak pulang dengan langkah pelan. Sebagian membawa pakaian yang basah oleh percikan air, sebagian lainnya membawa sesuatu yang tak terlihat: perasaan yang terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin memang seperti itulah cara alam bekerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu tahu bagaimana membuat manusia pulang dengan hati yang berbeda.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork