Langkah kaki Mochammad Malik Akbhar (26) tak hanya menghubungkan jarak antarkota, tetapi juga menjadi simbol perjalanan hidup yang ia lalui. Konten kreator asal Jakarta Timur dengan akun Instagram @akbarberkelana_ itu kini tengah menyusuri jalan dari Sukabumi menuju Nusa Tenggara Timur (NTT), membawa misi kemanusiaan bertajuk 1 tujuan 1 juta kebaikan.
Namun, di balik semangat berbagi yang kini melekat pada dirinya, Akbar menyimpan masa lalu yang tak mudah. Lulusan SMK ini pernah bekerja di berbagai perusahaan, termasuk di lingkungan yang ia sebut sebagai 'dunia yang cukup kelam'. Sebelum menjadi konten kreator ia pernah bekerja di bar yang berkaitan alkohol dan hal-hal negatif lainnya.
"Dulu sempat kerja di dunia yang gelap itu. Tapi saya memutuskan resign karena ingin ke arah yang lebih baik," kata Akbar ketika diwawancarai detikJabar beberapa waktu lalu saat singgah di Majalengka.
Keputusan melepas pekerjaan yang dinilai kelam itu, bertepatan dengan pertemuannya bersama sang istri yang agamis. Tiga bulan sebelum menikah, Akbar memilih berhenti bekerja. Namun ujian justru datang bertubi-tubi.
"Saya sempat tertipu hingga terlilit utang untuk biaya pernikahan. Setelah menikah pun, saya masih menganggur selama berbulan-bulan," ujarnya.
Dalam kondisi terjepit itulah Akbar mulai mencoba peruntungan di media sosial. Ia sempat terjun ke dunia affiliate. Lima video pertamanya sepi penonton dan pembeli. Hingga di unggahan keenam, satu orang membeli produknya. Momen kecil itu membuatnya terharu dan menjadi titik balik hidupnya.
Video tersebut kemudian meledak. Puluhan juta penonton menyaksikannya. Namun popularitas itu justru menimbulkan perasaan tak nyaman. Banyak orang merasa kasihan kepadanya.
"Saya nggak mau dikasihanin. Saya masih muda, masih bisa ngelakuin sesuatu," ucapnya.
Dari situlah lahir ide untuk mengubah arah konten. Akbar yang gemar bepergian mulai menjajal dunia backpacker bersama sang istri. Namun respons masih biasa saja. Hingga akhirnya ia mencari ide yang lebih ekstrem, yakni berjalan kaki sambil berbuat kebaikan.
"Awalnya, kegiatan sosialnya sangat sederhana, sekadar membelikan satu dagangan pedagang kecil, lalu mempromosikannya. Tapi yang saya angkat itu seperti sosok inspiratif, seperti lansia berusia 70-an yang masih berjualan atau anak sekolah yang mencari nafkah kayak gitu," ujarnya saat bercerita.
Seiring berjalannya waktu, dukungan datang dari para donatur. Dukungan besar mulai ia rasakan sejak Agustus 2025, setelah rutin membuat konten sosial sejak Januari. Salah satu pihak yang kini mendampingi perjalanannya adalah Sobat Qurani dari Yayasan Ayo Masuk Surga. Menariknya, dukungan itu datang tanpa tuntutan promosi atau kolaborasi wajib.
"Mereka memang ingin menyalurkan bantuan ke masyarakat. Saya cuma jadi perantara," katanya.
Dari yang awalnya hanya mampu membeli satu dagangan, kini Akbar bisa memborong satu gerobak penuh. Aksi sosialnya pun meningkat, seiring langkah kakinya yang makin jauh.
Perjalanan ekstrem pertamanya dimulai dari Jakarta ke Bandung. Lalu berlanjut hingga kini, dari Sukabumi menuju NTT. Destinasi terakhir ini bukan tanpa tujuan. Di sana, Akbar menargetkan pembangunan sumber mata air bersih dan renovasi sekolah.
"Di NTT masih banyak yang kekurangan air bersih. Itu salah satu tujuan besar saya," ucapnya.
Dalam setiap langkah, Akbar tak hanya berjalan. Ia juga mempromosikan UMKM, mengangkat wisata lokal, budaya, hingga sejarah daerah yang ia lewati. Ia ingin anak-anak muda lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mereka.
"Intinya hidup saya ingin bermanfaat, konten-konten saya harus bermanfaat," jelasnya.
Perjalanan jauh itu tentu penuh risiko. Akbar mengaku melakukan riset jalur, mengatur estimasi waktu, menyiapkan P3K, vitamin, hingga perlengkapan kaki yang memadai. Medan menanjak, cuaca ekstrem, hingga hujan menjadi tantangan harian.
"Kalau kendala lainnya nggak ada, karena persiapan saya mateng sebelum berangkat. Kalau tantangannya karena sekarang musim hujan, itu aja mungkin kendala terbesar," ujarnya.
Di Majalengka, Akbar telah menempuh hampir satu bulan perjalanan dengan melewati sedikitnya lima daerah. Soal target waktu sampai NTT, ia memilih tak memasang batas.
"Kalau target waktu, gimana kaki saya melangkah aja," ujar Akbar sambil tersenyum.
Di sisi lain, ia bersyukur, kini tak lagi tidur di masjid atau ruko seperti masa-masa awal backpacker. Dukungan penonton membuatnya sering disambut dan ditampung warga di daerah yang dikunjungi. Bagi Akbar, perjalanan ini bukan sekadar konten. Ia ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa berbuat baik, di mana pun berada.
"Kalau kita berbuat baik, feedback-nya juga baik. Kalau saya jahat di jalan, nggak mungkin saya ditampung, disambut," tuturnya.
Adapun setelah dari NTT, Akbar sudah menyiapkan rencana berikutnya, yakni menjelajah Indonesia dari Sabang sampai Merauke menggunakan camper van bersama sang istri. Di setiap daerah, ia berencana memasak bersama warga, menjelajah wisata, dan terus menebar kebaikan.
Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
(dir/dir)