Sirip papan selancar (fins) adalah sang penjaga keseimbangan sejati. Di atas gulungan ombak raksasa dunia, benda kecil itu menahan liukan papan agar peselancar tak limbung terhempas arus.
Namun ironisnya, sang penjaga keseimbangan itu sendiri justru sedang oleng. Adalah Batik Fins Cimaja, karya handmade asal pesisir Sukabumi yang kini limbung bukan karena hantaman ombak kanan Pantai Cimaja, melainkan akibat terjangan bumerang dolar Amerika.
Di sebuah teras workshop sederhana di Kampung Marinjung Tengah, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, R. Ilham Santosa (53) kembali menghela napas panjang.
Aroma resin cair tercium menyengat, bersaing dengan deru angin pesisir. Pria yang akrab disapa Ade Rabig ini adalah maestro di balik sirip eksotis bermotif batik yang karyanya sudah melanglang buana ke Jepang, Australia, Prancis, hingga Slovenia.
Namun hari ini, reputasi global itu harus bertarung dengan realitas ekonomi yang kian mencekik.
Sebagai pelaku UMKM yang mengandalkan bahan baku kimia, Ade Rabig berada di posisi paling rentan terhadap gejolak ekonomi makro.
Dilema Lonjakan Bahan Baku dan Harga Pasar Global
Bahan dasar utama seperti resin cair dan fiberglass harganya melonjak drastis karena sangat bergantung pada harga impor yang mengikuti pergerakan dolar.
Ironisnya, Ade berada di posisi yang tidak berkutik untuk menaikkan harga jual di pasar internasional karena harus menjaga standar harga di angka kisaran 39 dolar AS per buah.
Meskipun ongkos pengiriman internasional sepenuhnya ditanggung oleh para pembeli asing, margin keuntungan yang dibawa pulang ke Sukabumi menyusut drastis karena biaya produksi di dalam negeri membengkak hebat.
"Dampak dari kenaikan dolar itu sungguh sangat berdampak sekali bagi UMKM seperti saya. Karena saya tergantung dari harga resin dan harga fiberglass. Kenaikan dolarnya itu seperti bumerang buat kita, karena saya tidak bisa menaikkan harga jual saya di pasaran," ungkap Ade Rabig dengan nada berat saat ditemui detikJabar, belum lama ini.
Keunikan proses pengerjaan fins batik ini sebenarnya menjadi daya pikat tersendiri yang membuat bengkel kerjanya tak pernah sepi. Di dalam workshop, berderet contoh motif kain batik sengaja dipajang rapi pada dinding untuk memanjakan mata para peselancar yang datang langsung.
Ade menceritakan bagaimana interaksi intim itu terbangun, di mana para peselancar mancanegara yang datang bisa bebas memilih sendiri warna dan corak batik yang paling mewakili karakter mereka sebelum akhirnya masuk proses produksi.
Geliat Pasar Digital dan Mandeknya Pendampingan Birokrasi
Tak hanya melayani pembeli yang datang langsung ke pesisir Cisolok, pesanan dari luar daerah pun mengalir deras melalui jalur digital.
Biasanya, para peselancar dari luar Sukabumi cukup menghubungi Ade melalui aplikasi pesan singkat untuk menanyakan ketersediaan motif, memilih melalui foto yang dikirimkan, lalu bertransaksi sepenuhnya secara praktis lewat WhatsApp.
Di tengah potensi pasar yang dinamis tersebut, kehadiran birokrasi dinas terkait, khususnya Dinas Koperasi dan UMKM setempat, justru dirasa mandek pada level seremonial belaka.
Alih-alih memberikan stimulus modal teknis, fasilitasi teknologi produksi, atau perlindungan pasar bagi komoditas ekspor lokal yang unik ini, Ade Rabig merasa jengah dengan pola pendampingan yang selama ini ia terima.
Kehadiran aparatur dinas dari tahun ke tahun dianggapnya tidak pernah menyentuh akar masalah, bahkan hanya berhenti pada urusan dokumentasi belaka.
"Tanjgapan dari pemerintahan setempat selama ini tidak ada. Katakan tidak ada! Karena dari tahun ke tahun cuma datang, foto-foto, tapi realisasinya tidak ada. Seperti itu," cetus Ade.
Simak Video "Video Curhat BPOM soal Pendampingan UMKM Tak Sesuai Target"
(sya/mso)