Kabar Internasional

Ambisi Mark Zuckerberg yang Menelan Korban

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Minggu, 05 Apr 2026 20:00 WIB
Mark Zuckerberg (Foto: REUTERS/Mike Blake)
Bandung -

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara berkala sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Meta. Namun, kebijakan ini kini berjalan seiring dengan perubahan arah perusahaan yang semakin fokus pada pengembangan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg ini dilaporkan baru saja merumahkan sekitar 700 karyawan, sebagaimana dilaporkan The New York Times.

Jumlah tersebut memang relatif kecil dibandingkan total tenaga kerja global Meta yang mencapai sekitar 78.000 orang. Meski begitu, PHK ini mayoritas menyasar karyawan di divisi Reality Labs, yang selama ini bertugas mengembangkan konsep Metaverse-teknologi realitas virtual yang sempat digadang-gadang oleh perusahaan.

Proyek tersebut dinilai tidak berhasil menarik minat pengguna, bahkan jauh dari ambisi awal untuk menggantikan interaksi di dunia nyata seperti yang pernah dibayangkan Zuckerberg. Selain itu, proyek ini juga disebut telah menyebabkan kerugian hingga sekitar USD 80 miliar. Pada Januari lalu, Meta sudah lebih dulu memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja di Reality Labs atau setara 1.500 orang. Hingga kini, perusahaan disebut masih mempertimbangkan apakah akan menghentikan proyek tersebut sepenuhnya.

Dalam gelombang PHK terbaru, sejumlah posisi lain yang terdampak berasal dari divisi penjualan, rekrutmen, hingga platform Facebook. Meta menyatakan langkah ini sebagai bagian dari efisiensi rutin perusahaan.

"Tim-tim di seluruh Meta secara rutin melakukan restrukturisasi atau menerapkan perubahan guna memastikan mereka berada di posisi terbaik untuk mencapai tujuan mereka. Jika memungkinkan, kami mencarikan peluang lain bagi karyawan yang posisinya mungkin terdampak," sebut jubir Meta yang dikutip detikINET dari Futurism.

Di sisi lain, penggunaan AI di internal Meta terlihat semakin luas. Zuckerberg dilaporkan tengah mengembangkan "agen AI CEO" yang dapat membantunya dalam menjalankan berbagai tugas, seperti mengakses informasi dengan cepat tanpa harus melalui rantai koordinasi secara langsung.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan tren penggunaan AI ini tidak hanya terjadi di level pimpinan, tetapi juga merambah ke seluruh karyawan. Penilaian kinerja kini turut mempertimbangkan sejauh mana karyawan memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka. Bahkan, banyak karyawan mulai bereksperimen dengan agen AI masing-masing untuk berkomunikasi, baik dengan rekan kerja maupun dengan sistem AI milik kolega lain.

Sementara karyawan beradaptasi dengan teknologi baru, jajaran eksekutif justru mendapatkan keuntungan finansial yang signifikan. Kurang dari sehari sebelum pengumuman PHK, Meta memperkenalkan program saham baru bagi para eksekutif puncaknya, yang berpotensi memberikan keuntungan hingga hampir USD 1 miliar per orang dalam lima tahun ke depan.

Berdasarkan laporan The New York Times, skema tersebut memungkinkan eksekutif membeli lebih banyak saham jika perusahaan berhasil mencapai target pertumbuhan tertentu. Target tertinggi yang ditetapkan adalah mencapai kapitalisasi pasar sebesar USD 9 triliun pada 2031. Jika tercapai, nilai kepemilikan saham beberapa eksekutif bisa mencapai USD 921 juta.

Ini menjadi pertama kalinya sejak perusahaan melantai di bursa pada 2012, Meta memberikan opsi saham kepada jajaran eksekutifnya. Menariknya, langkah ini disebut sebagai strategi untuk menjaga daya saing perusahaan di tengah persaingan industri AI.

"Ini adalah pertaruhan besar. Paket kompensasi ini tidak akan terwujud kecuali Meta mencapai kesuksesan besar di masa depan, yang akan menguntungkan seluruh pemegang saham kami," sebut Meta.

Ke depan, gelombang PHK kemungkinan masih akan berlanjut. Sumber internal yang dikutip Reuters menyebutkan perusahaan tengah bersiap untuk memangkas hingga 20 persen tenaga kerja atau sekitar 15.000 karyawan.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.




(fyk/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork