Kabar Internasional

Cara Orang Utan Bahagiakan Anaknya

Kalila Untsa - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 07:30 WIB
Orang Utan Foto: Istimewa (dok Instagram/@zoo_aquarium_madrid)
Jakarta -

Meski dikenal sebagai primata yang gemar menyendiri, induk orang utan ternyata memiliki sisi pengasuhan yang luar biasa. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa induk orang utan liar rela menempuh perjalanan jauh dan mengurangi porsi makannya demi memberikan kesempatan bagi anaknya untuk bersosialisasi dan bermain dengan rekan sebaya.

Temuan ini mematahkan persepsi lama mengenai pola hidup soliter orang utan. Riset jangka panjang yang dilakukan di hutan Indonesia menunjukkan bahwa di balik kesunyian hidup mereka, terdapat upaya besar dari sang induk untuk memastikan perkembangan sosial anaknya tidak terhambat, meski harus mengorbankan waktu dan energi pribadi.

Melansir detikEdu, penelitian bertajuk Maternal ranging strategies facilitate offspring social play at energetic cost in the most solitary ape ini telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Secara alami, orang utan Kalimantan hidup mandiri dengan jarak kelahiran antar-anak mencapai 7,6 tahun. Kondisi ini menyebabkan anak orang utan jarang memiliki saudara kandung untuk diajak bermain. Padahal, aktivitas bermain sangat krusial untuk melatih motorik dan kemampuan interaksi sosial mereka.

Dr. Odd Jacobson, peneliti utama dari Max Planck Institute of Animal Behavior (MPI-AB), menjelaskan perbedaan mencolok ini dengan spesies lain. "Dalam banyak spesies sosial, teman bermain datang secara alami karena mereka hidup berkelompok," kata Jacobson dikutip dari Earth.

Bagi orang utan, tantangan muncul karena mereka menghabiskan sebagian besar waktu hanya berdua antara induk dan anak. Tanpa upaya aktif, kesempatan untuk bertemu keluarga lain guna bersosialisasi sangatlah minim.

Navigasi Sosial di Stasiun Tuanan

Untuk membedah fenomena ini, tim peneliti menganalisis data pengamatan selama lebih dari 32.600 jam di Stasiun Penelitian Tuanan, Indonesia. Data yang dihimpun sejak 2003 hingga 2018 ini mencakup perilaku 31 anak orang utan dan 14 induknya.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa anak-anak orang utan dengan usia yang berdekatan lebih sering bertemu untuk bermain karena induk mereka sengaja berada di area hutan yang sama. Pola ini tetap konsisten bahkan setelah mempertimbangkan faktor kekerabatan dan ketersediaan sumber pangan.

"Para induk tampaknya mencocokkan anak-anak mereka dengan teman bermain yang sesuai secara fisik dan tahap perkembangannya," ujar Jacobson.

Menariknya, para induk tidak mengubah batas wilayah jelajah mereka, melainkan mengatur pergerakan di dalam wilayah yang sudah mereka kuasai. Meski begitu, kesempatan bermain ini tergolong langka, yakni hanya terjadi pada 6,32% dari total hari pengamatan.

Dr. Maria van Noordwijk dari University of Zurich menjelaskan bahwa interaksi ini biasanya dipicu oleh pertemuan dengan kerabat atau saat musim buah melimpah. Walaupun induknya cenderung menjaga jarak, anak-anak mereka justru sangat antusias saat bertemu.

"Mereka langsung mendekat satu sama lain, bermain kasar, menggigit, dan bergulat. Anak orang utan seolah memiliki 'tombol bermain' yang hanya bisa dimatikan oleh induknya ketika memutuskan bahwa sudah waktunya beralih ke aktivitas lain," kata van Noordwijk.

Strategi 'Gosip Hutan'

Peneliti menemukan pola pergerakan yang terencana: sehari sebelum sesi bermain, induk cenderung bergerak menuju lokasi yang sering dikunjungi keluarga lain. Setelah bermain selesai, mereka akan kembali ke pusat wilayah kekuasaannya.

"Untuk menemukan teman bermain yang cocok, tampaknya mereka memosisikan diri secara spasial untuk meningkatkan kemungkinan bertemu dengan induk yang memiliki anak seusia," jelas Jacobson.

Van Noordwijk menambahkan bahwa orang utan menggunakan kemampuan navigasi mereka tidak hanya untuk mencari makan, tetapi juga untuk kebutuhan sosial anak. "Sekarang kami menunjukkan bahwa mereka menggabungkan peta kognitif, bukan hanya untuk mencari makanan, tetapi juga untuk menemukan sumber daya sosial demi memenuhi kebutuhan anak-anak mereka," ujarnya.

Ia mengistilahkan pengetahuan orang utan tentang keberadaan tetangganya sebagai 'gosip hutan'. Induk orang utan diduga mampu memprediksi lokasi tetangga mereka berdasarkan pengalaman bertahun-tahun hidup berdampingan.




(dir/dir)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork