Pesan Pakar Unpad ke Pengelola Baru Bandung Zoo

Wisma Putra - detikJabar
Selasa, 30 Jun 2026 17:00 WIB
Bandung Zoo (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

PT Fauna Land Ancol atau Faunaland, ditunjuk Pemerintah Kota Bandung untuk mengelola kebun binatang Bandung atau Bandung Zoo dengan durasi kontrak selama 26 tahun.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Fakultas Komunikasi Unpad Herlina Agustin berpesan, agar pengelola Bandung Zoo bisa mengedepankan edukasi bagi pengunjungnya nanti.

"Sesungguhnya saya agak pesimis. Karena mereka arahnya sangat komersial. Memang hampir semua bisnis mengarah ke komersial, tetapi ini bicaranya adalah bisnis sosial. Harapan saya, aspek edukasinya lebih ditonjolkan. Jangan sampai isinya hanya sirkus dan atraksi satwa melulu, seperti yang ada di Ancol," kata Herlina kepada detikJabar, Selasa (30/6/2026).

Herlina sebut, seperti di Faunaland Ancol, dibandingkan edukasi, porsinya lebih banyak ke atraksi satwa dan interaksi langsung dengan pengunjung.

"Menurut saya itu kurang bagus karena minim edukasi," ujarnya.

Selain itu, ia juga menyebut luasan kandang hewan juga perlu dievaluasi kembali. Sebab, ada beberapa jenis satwa yang hidup di kandang yang sempit, dan membuatnya kesulitan bergerak seperti di habitat aslinya.

Ia mencontohkan kasus macan tutul, yang terlihat kurang bergerak aktif. Diduga hewan tersebut mengalami kelebihan berat bedan.

"Itu artinya dia stres, dia cuma tidur dan makan karena kurang gerak. Jadi kandangnya harus dipikirkan agar mereka bisa lebih banyak bergerak," ucapnya.

Ia berharap Faunaland bisa mengembalikan fungsi utama kebun binatang, sebagai tempat konservasi dan edukasi.

"Kembali ke fungsi utama kebun binatang, yaitu edukasi dan konservasi, sedangkan hiburan itu harus diletakkan di nomor terakhir," tegasnya.

Herlina mengungkapkan, interaksi satwa dan pengunjung harus dibatasi, terutama satwa langka. Jangan sampai karena interaksi satwa dan pengunjung tidak dibatasi membuat perilaku satwa berubah tidak sesuai kodratnya.

"Edukasinya harus tepat. Kalau kita melihat satwa di kebun binatang biasa meminta-minta makanan, nanti cara kita memikirkan satwa liar di hutan akan keliru. Orang-orang harus diajarkan bahwa satwa itu bukan cuma bisa dipelihara atau dilatih, tetapi mereka memiliki fungsi dan peran penting di alam. Ini yang sering dilupakan," ungkapnya.

"Satwa tidak boleh dijadikan aktor atau atraktor semata, mereka harus tetap berfungsi sebagai satwa liar," pungkasnya.




(wip/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork