Lorong loket penjualan tiket itu kini sudah sepi, tak ada lalu lalang penumpang, apalagi antrean. Petugas penjual tiket yang biasanya agresif menyambut penumpang pun hanya bisa duduk di kursi panjang. Daripada menjual tiket, mereka lebih banyak bersenda gurau dengan sesama penjual tiket lainnya.
Suasana lengang tak hanya terlihat di area loket penjualan tiket. Lapangan Terminal Cicaheum, yang biasanya dipadati bus antarkota-antarprovinsi, kini tampak sepi. Jumlah armada yang terparkir di dalam terminal bahkan bisa dihitung dengan jari.
Bukan hanya itu, kondisi di terminal ini kian memprihatinkan. Para pedagang hanya duduk termenung di dalam kiosnya sambil menatap kosong ke arah lapangan terminal.
Kondisi Terminal Cicaheum menjadi sepi karena operasional armada bus dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang. Selain itu, eks terminal ini akan dijadikan Depo Bus Rapid Transit atau BRT.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan Ridwan, pengurus PO Hiba Putra. Pria berumur 48 tahun itu mengatakan, dia masih bertahan di Terminal Cicaheum karena masih ada penumpang.
"Diarahkan pindah ke sana (Terminal Lewipanjang) tanggal 25 kemarin. Ya, berhubung penumpang kita yang masih terlanjur beli di sini, baik penumpang yang beli online, kita sendiri yang memohon. Supaya terminal ini sebelum dibongkar, bisa numpang masuklah sebentar. Jadi intinya bukan kita ngelawan pemerintah, bukan," kata Ridwan kepada detikJabar.
Ridwan juga menilai Terminal Leuwipanjang masih harus berbenah untuk menerima semua bus pindahan dari Terminal Cicaheum. Secara bertahap, penyesuaian pun akan terjadi.
"Hiba Putra sudah masuk kesana. Udah saya masukin sesuai aturan dari perintah kementerian. Udah kita ikutin. Cuma masih ada jemputan kita di sini yang udah terlanjur beli online ataupun redbus yang terdekat dengan Cicaheum," ungkapnya.
Disinggung sampai kapan bertahan di Terminal Cicaheum, Ridwan menyebut akan bertahan sampai terminal itu dibongkar. "Sampai terminal ini dibongkar atau sampai tidak bisa masuk," tambahnya.
Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
(wip/mso)