Pesawat yang terkena sambaran petir memang terdengar menakutkan. Namun dalam praktik penerbangan, kejadian tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. Pilot menegaskan bahwa pesawat komersial telah dirancang sedemikian rupa agar tetap aman meskipun tersambar petir saat berada di udara.
Cuaca buruk yang disertai kilat dan petir kerap memicu kekhawatiran, termasuk bagi penumpang pesawat. Meski demikian, insiden kecelakaan akibat sambaran petir tergolong sangat jarang.
Salah satu alasannya, kebanyakan pilot memilih untuk tidak terbang ketika terdapat badai petir, terutama jika berkaitan dengan proses pendaratan.
"Pergeseran angin adalah perubahan mendadak pada kecepatan dan/atau arah angin, yang dapat berbahaya bagi pesawat di ketinggian rendah," kata Patrick Smith, seorang kapten maskapai penerbangan, dikutip dari Popular Science, Selasa (24/2/2026).
Dengan dukungan teknologi modern, pesawat dan bandara kini mampu memberikan peringatan apabila terdeteksi pergeseran angin. Jika kondisi cuaca belum mendukung untuk mendarat, pilot biasanya akan menunggu di udara hingga situasi membaik sebelum melanjutkan pendaratan.
"Keputusan-keputusan itu biasanya dibuat antara pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara di darat," kata dia.
Keputusan terbang atau tidak sangat dipengaruhi oleh pemantauan cuaca. Ahli meteorologi, pengatur lalu lintas udara, serta kru penerbangan akan saling berkoordinasi secara intens, baik sebelum keberangkatan maupun selama penerbangan berlangsung.
Smith menjelaskan bahwa sebelum lepas landas, pilot sudah menerima laporan serta prakiraan kemungkinan terjadinya badai. Namun informasi tersebut bersifat awal, sementara pemantauan lanjutan mengandalkan perangkat yang mampu memberikan data secara langsung.
Salah satu tanggung jawab pilot adalah terus memeriksa radar pesawat serta Sistem Penghindaran Cuaca (WAS) yang terpasang di dalam kokpit.
"(Pilot terus memantau) di mana badai berada, seberapa tinggi badai itu, seberapa cepat badai itu bergerak, arah pergerakannya, dan sebagainya," kata dia.
Selain mengandalkan peralatan, pilot juga memperoleh laporan dari rekan sesama pilot yang telah lebih dulu melintasi jalur tersebut.
Dalam praktiknya, pilot tidak selalu bisa sepenuhnya menghindari badai di rute penerbangan. Biasanya, mereka akan memilih melintas melalui celah di antara awan badai ketimbang mengambil jalur memutar yang terlalu jauh dari rencana awal.
"Anda tidak akan terbang ke jantung badai, tetapi Anda mungkin akan berada di pinggirannya dari waktu ke waktu," ujar Smith.
Smith menambahkan, terbang tepat di atas badai bukanlah pilihan yang dianjurkan. Hal itu karena badai dapat berkembang dengan cepat dan membesar, sehingga berisiko jika dilintasi dari atas.
"Badai petir dapat meluas hingga ke ketinggian yang kita sebut ketinggian penerbangan, hingga 40 atau bahkan 50.000 kaki (12-15 km)," kata dia.
Meski demikian, Smith dan sejumlah pilot lainnya sepakat bahwa menghadapi badai petir tidak selalu seberbahaya seperti gambaran di film. Walau begitu, turbulensi kuat yang membuat penumpang merasa tidak nyaman tetap bisa terjadi saat pesawat berada di sekitar badai.
Adapun jika pesawat benar-benar tersambar petir, arus listrik biasanya hanya mengalir di bagian luar badan pesawat. Mantan pilot Tom Bunn menyebut penumpang umumnya hanya akan melihat kilatan cahaya disertai suara keras.
"Jika (pesawat) Anda tersambar petir, Anda hanya akan melihat kilatan cahaya dan suara keras," kata dia.
Artikel ini telah tayang di detikTravel
(yum/yum)