Tanggal 24 Januari 2026 menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan ratusan warga Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Malam itu udara terasa begitu dingin. Saat sebagian besar warga terlelap, bencana datang tanpa aba-aba. Longsor tiba-tiba meluncur deras, membawa campuran tanah, air, serta bebatuan yang diduga berasal dari lereng Gunung Burangrang. Dalam hitungan menit, puluhan rumah luluh lantak tersapu material dari atas perbukitan.
Tragedi itu menelan korban jiwa. Sejumlah warga yang berhasil menyelamatkan diri berupaya menolong keluarga dan tetangga mereka. Namun banyak yang tak tertolong karena telah tertimbun timbunan tanah dan batu yang menutup bangunan tempat mereka berlindung.
Sedikitnya tiga kampung terdampak peristiwa tersebut, yakni Kampung Babakan, Kampung Pasir Kuning, dan Kampung Pasir Kuda. Hunian yang berada tepat di jalur terjangan longsor hancur dan nyaris tak menyisakan bentuk aslinya.
"Kejadiannya itu sekitar jam 3 pagi, sebelumnya ada hujan dulu. Longsor dari puncak Gunung Burangrang," kata Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis saat itu, Sabtu (24/1/2026).
Analisis Citra Satelit
Citra satelit memperlihatkan perubahan mencolok di lereng Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dalam rentang waktu kurang dari setahun.
Pada rekaman Mei 2025, hamparan hijau tampak mendominasi perbukitan. Vegetasi menutup rapat lereng, membentuk kontur alami yang utuh tanpa bekas gangguan berarti. Permukiman warga di bagian bawah terlihat tenang, berdampingan dengan lanskap pegunungan yang masih stabil.
Namun kondisi itu berubah drastis pada citra Februari 2026. Sebuah guratan panjang berwarna cokelat kemerahan membelah lereng dari bagian atas hingga ke bawah. Jalur tersebut tampak seperti luka terbuka di tengah hamparan hijau. Vegetasi di sepanjang lintasan itu hilang, tergantikan oleh tanah terbuka dan material yang diduga terbawa longsoran.
Garis memanjang itu menunjukkan arah pergerakan massa tanah dari puncak menuju area hilir. Polanya linear dan konsisten, mengindikasikan material bergerak mengikuti kemiringan alami lereng dengan volume yang tidak sedikit. Di bagian bawah, rona tanah terlihat lebih keruh dibandingkan citra sebelumnya, memperlihatkan indikasi endapan material yang mencapai wilayah dekat permukiman.
Rangkuman Pencarian Korban
Tim SAR gabungan langsung dikerahkan sesaat setelah longsor menerjang kawasan Gunung Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Proses evakuasi terkendala cuaca karena hujan telah mengguyur wilayah tersebut sejak malam sebelum kejadian.
Data korban sempat berubah-ubah. Awalnya dilaporkan 111 orang terdampak, dengan rincian enam meninggal dunia, 21 selamat, dan 84 masih dalam pencarian. Namun belum dipastikan apakah seluruh 84 orang itu tertimbun atau sebagian telah mengungsi secara mandiri.
Incident Commander (IC) Longsor Cisarua, Ade Zakir, kemudian memperbarui data menjadi 158 orang terdampak, terdiri dari 78 selamat dan 80 orang tertimbun. Di tengah operasi, beredar pula informasi adanya 23 prajurit TNI yang menjadi korban saat menjalani latihan di Gunung Burangrang.
Pencarian berlangsung di tengah cuaca yang tak menentu. Saat kondisi cerah, operasi dimaksimalkan dengan melibatkan sekitar 3.000 personel gabungan. Sepekan pertama, tim berhasil menemukan 60 kantong jenazah, menyisakan sekitar 20 korban yang masih harus dievakuasi.
Memasuki hari ketujuh, SAR Mission Coordinator (SMC) bersama Incident Commander memutuskan memperpanjang masa pencarian selama sepekan, menyesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemkab Bandung Barat.
Setelah 14 hari, tercatat 48 rumah hancur dan 80 warga dilaporkan meninggal dunia, sementara ratusan lainnya mengungsi. Pada Jumat (6/2/2026), status tanggap darurat resmi dicabut. Hingga hari terakhir operasi tanggap darurat, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 94 kantong jenazah dari daftar 80 korban pencarian. Seluruhnya diserahkan ke posko DVI Polda Jawa Barat untuk proses identifikasi.
Berdasarkan rilis resmi DVI Polri per 6 Februari 2026 pukul 14.00 WIB, sebanyak 74 korban telah teridentifikasi dari 77 kantong jenazah, sementara sisanya masih dalam proses forensik.
Meski status tanggap darurat berakhir, pencarian korban masih dilanjutkan dalam masa transisi menuju pemulihan dengan pola operasi terbatas. Basarnas bersama unsur gabungan menyatakan tetap siap menindaklanjuti jika ada temuan atau informasi baru terkait dugaan korban tertimbun.
Selama 22 hari pelaksanaan operasi, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 101 bodypack. Kemudian sebanyak 83 korban telah berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat.
(yum/yum)