Lorong Waktu

Bogor dan Riwayat 'Emas Hijau' Bangsa-bangsa Eropa

Andry Haryanto - detikJabar
Selasa, 20 Jan 2026 10:00 WIB
Kebun Raya Bogor masuk dalam daftar kebun raya yang paling banyak dicari di Google Maps 2025. Didirikan pada 1817, kebun botani tertua di Asia Tenggara ini memiliki sekitar 15.000 jenis tanaman. (Adriana Adie/NurPhoto via Getty Images)
Bogor -

Ketika pemerintah sibuk mengejar emas kuning tambang di kawasan Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, mereka lupa bahwa kota ini dulu diperebutkan Eropa karena 'emas hijau'-nya, yaitu Ilmu botani, warisan Kebun Raya yang lebih berharga dari sekadar batangan logam mulia di perut bumi.

Di balik hiruk-pikuk tambang hari ini, ada jejak masa lalu yang nyaris terlupakan, yaitu kisah bagaimana Kebun Raya Bogor menjadi laboratorium raksasa tempat bangsa-bangsa Eropa berebut menguasai pengetahuan tentang alam tropis.

Bagi banyak orang, Kebun Raya Bogor hanya dikenal sebagai ruang hijau untuk berlibur. Namun dalam sejarahnya, tempat ini pernah menjadi jantung dari perebutan global atas apa yang oleh para ilmuwan disebut sebagai 'emas hijau', berupa tanaman tropis bernilai ekonomi tinggi yang diperebutkan bangsa-bangsa Eropa.

Gambaran itu diungkap dalam jurnal ilmiah Laborious Transformations: Plants and Politics at the Bogor Botanical Gardens yang ditulis dua sejarawan sains, Andreas Weber dan Robert-Jan Wille, terbit tahun 2018 dalam jurnal Studium (Vol. 11, No. 3, hlm. 169-177).

Dalam jurnal tersebut, sejak awal berdirinya pada 1817, Kebun Raya Bogor yang kala itu bernama 's Lands Plantentuin di Buitenzorg (sekarang Bogor), tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai taman. Ia dirancang sebagai instrumen kolonial untuk mengelola alam tropis.

Para peneliti menegaskan bahwa hubungan antara sains dan politik di Bogor tidak pernah terpisah. Keduanya tumbuh saling membentuk dalam satu sistem.

"The relationship between science and politics at the Bogor Botanical Gardens can best be described as co-evolutionary," tulis Weber & Wille (hal. 170). (Hubungan antara sains dan politik di Kebun Raya Bogor paling tepat digambarkan sebagai hubungan ko-evolusioner).

Dalam praktiknya, ilmuwan kebun bukan sekadar akademisi. Mereka justru menjadi bagian langsung dari struktur kekuasaan kolonial yang menentukan kebijakan pertanian dan ekonomi.

"The directors of the gardens were deeply embedded in the colonial infrastructure as high-ranking government officials, whose advice was crucial for actual policy making," jelas Weber & Wille (hal. 171). (Para direktur kebun terikat erat dalam infrastruktur kolonial sebagai pejabat tinggi pemerintahan, yang nasihatnya sangat menentukan kebijakan nyata).

Dari mekanisme itulah lahir sistem kerja yang rapi. Bogor menjadi pusat eksperimen tropis, sementara Leiden di Belanda berperan sebagai pusat legitimasi ilmiah. Spesimen tanaman yang dikumpulkan di Jawa dikirim ke Eropa untuk diklasifikasi, diberi nama ilmiah, lalu dikembalikan sebagai kebijakan resmi kolonial.

"The Botanical Gardens in Buitenzorg (1817), the National Museum of Natural History in Leiden (1820), and the National Herbarium (1829) were established to support colonial agricultural and economic policies," terang kedua peneliti (hal. 172). (Kebun Raya di Buitenzorg, Museum Sejarah Alam Leiden, dan Herbarium Nasional didirikan untuk mendukung kebijakan pertanian dan ekonomi kolonial).

Kebun Raya Leiden (Hortus Botanicus Leiden), merupakan pusat pengembangan botani yang terhubung dengan Kebun Raya Bogor sejak era Kolonial. Di sini terdapat berbagai macam tumbuhan yang didapatkan dari berbagai daerah koloni Belanda saat itu. Kebun Raya Leiden berada di dalam komplek Universitas Leiden, Belanda. Foto: Andry Haryanto/detikJabar

Namun kebun ini tidak hanya digerakkan oleh ilmuwan Eropa. Ribuan pekerja lokal, mulai tukang kebun, pengumpul tanaman, pemandu, hingga pedagang menjadi fondasi utama operasional kebun.

"A myriad of laborers and visitors sustained the garden not only with their hands but also with their plant-related expertise," tulis mereka (hal. 173).(Ribuan pekerja dan pengunjung menopang kebun ini bukan hanya dengan tenaga mereka, tetapi juga dengan keahlian mereka tentang tanaman).




(dir/dir)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork