3 Sedekah Paling Utama Menurut Hadits Nabi SAW

3 Sedekah Paling Utama Menurut Hadits Nabi SAW

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Jumat, 30 Okt 2026 09:30 WIB
Prank sedekah makanan. Ilustrasi
Ilustrasi sedekah. Foto: iStock
Jakarta -

Kemuliaan sedekah tidak dinilai semata-mata dari besarnya nominal atau materi yang diberikan. Dalam syariat Islam, nilai suatu sedekah bergantung kuat kepada niat, tingkat keikhlasan, serta perjuangan pergolakan batin saat mengeluarkannya.

Para sahabat di zaman Rasulullah SAW bertanya mengenai sedekah apa yang paling utama. Nabi SAW menjawab sesuai dengan keadaan pemberi sedekah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedekah Paling Utama

Setidaknya ada tiga jenis sedekah yang utama sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Berikut di antaranya.

1. Sedekah kepada Kerabat Dekat yang Memusuhi

Memberi orang yang berbuat baik kepada kita adalah hal lumrah. Namun, mengulurkan tangan kepada keluarga dekat yang membenci dan memusuhi kita merupakan hal yang terpuji. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya sedekah paling utama adalah yang diberikan kepada kerabat yang memusuhi." (HR Ahmad, Thabrani, dan Abu Dawud)

ADVERTISEMENT

Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam Akhlak Islam memberikan penjelasan tentang sebab sedekah ini berada pada derajat tertinggi. Pertama, penerimanya adalah kerabat dekat, dan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan selalu lebih utama daripada sedekah kepada orang lain.

Kedua, karena penerima adalah orang yang memusuhi, maka si pemberi sedekah dipastikan tidak memberi demi mencari simpati, pujian, atau balasan cinta, melainkan murni semata-mata ikhlas dan mengharap rida Allah SWT.

Selain itu, dalam buku Hidup Berkah karya Ustadz Masykur Arif dikatakan sedekah jenis ini menjadi peredam api dendam agar hati keluarga melunak dan tali kekeluargaan tidak putus. Islam melarang keras memutus silaturahmi sebagaimana ancaman laknat dalam Al-Qur'an surah Muhammad ayat 22-23.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ

Artinya: "Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka."

Rasulullah SAW menyebutkan pahala ganda bagi mereka yang bersedekah kepada kerabat, "Sedekah untuk orang miskin, nilainya hanya sedekah. Sementara sedekah untuk kerabat, nilainya dua; sedekah dan silaturahmi." (HR an-Nasa'i)

2. Sedekah Saat Diri Masih Sehat, Pelit, dan Takut Jatuh Miskin

Mengutip buku 77 Pesan Abadi Nabi untuk Wanita karya Muhammad Khalil Itani, Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa ada seorang sahabat bertanya tentang amalan paling utama, lalu Rasulullah SAW bersabda:

"Kamu bersedekah ketika kamu dalam keadaan sehat, sangat menginginkan harta (pelit), berharap kaya dan takut fakir, dan janganlah menunda-nunda hingga nyawa mencapai kerongkongan" (HR Bukhari)

Sifat manusia ketika sehat dan normal adalah mencintai harta serta enggan berbagi karena takut berkurang. Ketika seseorang mampu menghilangkan rasa pelitnya di saat sedang ingin menimbun kekayaan, nilai sedekah tersebut menjadi hal yang mulia. Allah SWT menegaskan prinsip ini dalam firman-Nya surah Ali 'Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Artinya: "Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya."

Dalil-dalil tersebut sekaligus menjadi peringatan keras agar tidak menunda beramal saleh hingga saat sakaratul maut tiba. Ketika ajal mendekat dan seseorang baru berwasiat membagi-bagikan hartanya, sedekah tersebut terganjal hak ahli waris dan secara fikih hanya dibolehkan maksimal sepertiga dari harta kekayaan.

3. Sedekah Orang yang Kekurangan

Masih dalam buku Akhlak Islam, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi mengutip sabda Nabi SAW, "Sedekah paling utama adalah yang dilakukan susah payah oleh orang yang berkekurangan. Mulailah dari orang yang engkau nafkahi." (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan ini diilustrasikan secara gamblang melalui perumpamaan: "Satu dirham telah mengungguli seratus ribu dirham. Seorang lelaki hanya memiliki dua dirham, lalu ia ambil salah satunya untuk ia sedekahkan. Dan seorang lelaki lain memiliki harta sangat banyak, lalu ia mengambil darinya uang seratus ribu dirham untuk ia sedekahkan."

Seseorang yang hanya memiliki simpanan dua dirham lalu menyedekahkan satu dirham, sejatinya telah menginfakkan separuh dari total seluruh kekayaan yang dimilikinya di saat ia sendiri sangat membutuhkannya.

Sementara orang kaya raya yang menyedekahkan seratus ribu dirham dari hartanya yang berlimpah, secara persentase hanya mengeluarkan secuil dari kekayaannya tanpa merasakan kekurangan sedikit pun.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads