Kisah Heroik Pejuang Uhud Disangka Syahid Ternyata Penghuni Neraka

Kisah Heroik Pejuang Uhud Disangka Syahid Ternyata Penghuni Neraka

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Selasa, 29 Sep 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Perang Uhud
Ilustrasi Perang Uhud. Foto: freepik/Freepik
Jakarta -

Dalam sejarah perjuangan Islam, keteguhan hati dan niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT merupakan tolok ukur utama diterimanya suatu amalan. Betapapun hebatnya aksi lahiriah seseorang di medan laga, ketulusan iman di akhir hayatlah yang menentukan tempat kembalinya.

Salah satu peristiwa sarat pelajaran terjadi pada masa Perang Uhud, yakni kisah seorang lelaki bernama Quzman yang tampak heroik namun berakhir tragis. Kisah ini menjadi pengingat bahwa niat dan ketabahan dapat menjadi kunci keselamatan hidup.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Lelaki yang Mengakhiri Hidup karena Tak Tahan Sakit

Dikisahkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari melalui penuturan sahabat Sahl bin Sa'id, ada seorang lelaki yang bertempur dengan luar biasa gagah berani. Pedangnya senantiasa terhunus menumpas orang-orang kafir Quraisy, baik yang bergerak sendirian maupun berkelompok.

Melihat kehebatannya, para sahabat berdecak kagum dan berkata kepada Rasulullah SAW mengenai besarnya pahala yang akan diraih orang tersebut. Namun, Rasulullah SAW memberikan jawaban yang sangat mengejutkan, "Sesungguhnya orang itu adalah penghuni neraka."

ADVERTISEMENT

Merujuk buku Berguru dengan Sahabat Nabi karya Syaikh Sayyid Muhammad Nuh serta buku Reminder karya Maulana Irpan, sosok tersebut bernama Quzman. Dalam kecamuk Perang Uhud, Quzman berhasil menumbangkan banyak musuh sebelum akhirnya tubuhnya dipenuhi luka parah.

Ketika tubuhnya bersimbah darah dan tak berdaya, Quzman dibawa ke perkampungan Bani Dhafar. Kaum muslimin yang menjenguknya berkata, "Demi Allah, hari ini kamu diuji, maka berbahagialah, wahai Quzman!"

Secara mengejutkan, Quzman justru menolak kabar gembira tersebut dan membuka isi hatinya yang sesungguhnya. Ia berkata, "Kenapa aku harus bahagia? Sungguh, aku berperang hanya demi kemuliaan kaumku. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan berperang." (HR Ahmad dan Thabrani)

Rasa sakit dari luka-luka perang kian menusuk dan tak tertahankan. Karena hilang kesabaran dan berputus asa dari rahmat Allah, Quzman mengambil anak panah dari tempatnya, lalu menusukkannya ke tubuhnya sendiri hingga tewas.

Dalam riwayat Sahl bin Sa'id, ia menancapkan gagang pedangnya ke tanah dan meletakkan ujung mata pedang di dadanya, lalu merebahkan diri hingga tembus ke punggung. Sahabat yang menyaksikan peristiwa itu segera bergegas menemui Nabi SAW dan bersaksi, "Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah SWT."

Mendengar penuturan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga sebagaimana yang tampak di hadapan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan ada seseorang yang melakukan amalan penghuni neraka sebagaimana yang tampak di hadapan manusia, padahal ia termasuk penghuni surga." (HR Bukhari)

Pesan Ketegasan Rasulullah SAW

Peristiwa ini meninggalkan pesan yang sangat mendalam bagi umat Islam:

1. Sikap Tegas Nabi terhadap Pelaku Bunuh Diri

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa pernah didatangkan jenazah seorang laki-laki yang mengakhiri hidupnya dengan anak panah, dan Rasulullah SAW secara tegas menolak untuk menyalatinya secara langsung sebagai bentuk teguran dan peringatan keras bagi umat.

2. Ancaman Balasan di Akhirat

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membunuh diri dengan besi, maka besi itu akan dipegang dan ditusukkan ke perutnya di neraka secara terus-menerus dan selamanya. Barang siapa membunuh diri dengan racun, maka racun itu akan terus diminumnya di neraka Jahannam. Dan barang siapa bunuh diri dengan terjun dari gunung, maka ia akan terjun di neraka secara terus-menerus dan selamanya." (HR Bukhari dan Muslim)

2. Pentingnya Sabar Menghadapi Ujian Sakit

Rasa sakit dan musibah fisik sejatinya merupakan penggugur dosa bagi seorang mukmin selama dihadapi dengan rida dan sabar. Menyerah dan mengakhiri hidup justru merusak seluruh amal kebaikan yang telah diperbuat.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads