Ciri-Ciri Pendusta Agama dalam Surat Al-Ma'un

Ciri-Ciri Pendusta Agama dalam Surat Al-Ma'un

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Rabu, 04 Nov 2026 05:45 WIB
Ilustrasi membaca Alquran.
Ilustrasi membaca Surat Al-Ma'un. Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash
Jakarta -

Pendusta agama tidak selalu ditandai dengan orang yang terang-terangan mengingkari keberadaan Allah SWT atau menolak ajaran Islam. Ada pula perilaku sehari-hari yang termasuk ciri pendusta agama. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam Surat Al-Ma'un yang memuat gambaran tentang orang-orang yang mendustakan agama.

Ciri-Ciri Pendusta Agama Berdasarkan Surat Al-Ma'un

1. Menghardik dan Berbuat Zalim kepada Anak Yatim

Dalam Surat Al-Ma'un, Allah SWT menjelaskan salah satu ciri orang yang mendustakan agama, yaitu menghardik anak yatim. Berdasarkan Tafsir Ringkas Kemenag, perilaku ini mencakup tindakan menyakiti perasaan anak yatim, menzalimi, serta menahan hak-hak yang seharusnya mereka terima. Mereka juga tidak peduli terhadap anak-anak yang kehilangan sandaran hidupnya.

Penghardikan tersebut dapat berupa penolakan dan bentakan terhadap anak yatim yang meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sikap ini lahir dari kesombongan dan penghinaan terhadap orang-orang lemah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip buku Dahsyatnya Doa Anak Yatim karya M. Khalilurrahman al-Mahfani, para ahli tafsir memaknai tindakan menghardik sebagai perilaku sewenang-wenang, tidak memberikan hak anak yatim, hingga menganiayanya. Salah satu riwayat asbabun nuzul ayat pertama Surat Al-Ma'un mengisahkan Abu Sufyan yang memukul seorang anak yatim ketika meminta makanan.

2. Enggan Memberi Makan Fakir Miskin

Ciri berikutnya adalah enggan memberi makan orang miskin. Dalam Surat Al-Ma'un, Allah SWT menggambarkan pendusta agama sebagai orang yang tidak peduli terhadap nasib fakir miskin dan enggan membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup.

ADVERTISEMENT

Menurut Tafsir Kemenag, sikap tersebut juga terlihat dari keengganan menganjurkan orang lain untuk membantu kaum miskin. Sifat kikir dan terlalu mementingkan harta membuat seseorang tidak tergerak untuk mengajak sesama berbuat baik.

Padahal, seseorang yang belum mampu membantu secara materi tetap bisa menganjurkan orang lain untuk memberikan bantuan. Sikap tidak peduli terhadap kebutuhan orang miskin inilah yang menjadi salah satu gambaran pendusta agama dalam Surat Al-Ma'un.

3. Lalai dalam Mendirikan Salat

Mengutip buku Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur Jilid 4 karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, lalai dalam salat tidak hanya berkaitan dengan waktu pelaksanaannya. Hal ini juga mencakup salat yang sebatas gerakan tubuh dan ucapan lisan, tanpa disertai kehadiran hati serta penghayatan terhadap maknanya.

Akibatnya, orang yang salat tidak memahami bacaan maupun gerakan yang dikerjakan. Salatnya pun tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku, seperti mencegah perbuatan keji dan membentuk hati yang lebih lembut.

Sementara itu, dalam buku Tafsir Al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah dijelaskan bahwa lalai dalam salat juga mencakup kebiasaan menunda-nunda hingga melewati waktu yang semestinya. Termasuk pula orang yang sengaja mengerjakan salat di luar waktunya tanpa uzur yang dibenarkan.

4. Melakukan Salat secara Riya

Ciri berikutnya adalah berbuat riya dalam beribadah. Riya terjadi ketika seseorang melakukan amal bukan karena Allah SWT, melainkan ingin dilihat, dipuji, atau mendapat pengakuan dari orang lain. Dalam hal salat, orang yang riya mengerjakannya demi menunjukkan kesalehan di hadapan manusia, bukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.

Perbuatan ini menghilangkan keikhlasan dalam salat. Akibatnya, ibadah yang seharusnya dilakukan untuk mencari ridha Allah SWT justru dijadikan sarana memperoleh pujian dari sesama manusia.

5. Bersikap Kikir dan Menolak Memberi Bantuan

Ciri terakhir yang disebutkan dalam Surat Al-Ma'un adalah enggan memberikan bantuan, termasuk meminjamkan barang-barang yang bermanfaat bagi orang lain. Sikap ini menunjukkan sifat kikir dan tidak adanya kepedulian terhadap kebutuhan sesama.

Bahkan, mereka enggan meminjamkan barang sederhana yang biasa digunakan sehari-hari, seperti cangkul, periuk, atau peralatan rumah tangga. Padahal, barang-barang tersebut dapat membantu meringankan kebutuhan orang lain. Sikap enggan berbagi ini menjadi salah satu gambaran buruknya kepedulian sosial orang yang mendustakan agama.

Wallahu a'lam.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads