KH Miftachul Akhyar Kutip Pesan Umar bin Khattab soal Jemaah dan Kepemimpinan

KH Miftachul Akhyar Kutip Pesan Umar bin Khattab soal Jemaah dan Kepemimpinan

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 01 Okt 2026 11:00 WIB
Ketum PBNU Gus Kikin dalam konferensi pers pengumuman struktur pengurus PBNU di kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar (tengah) Foto: Devi Setya/detikcom
Jakarta -

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan tanggung jawab Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus membumikan ajaran Islam melalui kekuatan jemaah dan tata kelola organisasi yang baik.

Ia juga mengutip pesan sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab yang menyampaikan korelasi antara jemaah dan kepemimpinan dalam menguatkan Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu disampaikan KH Miftach dalam acara pengumuman susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026-2031 sekaligus peluncuran Logo Hari Santri 2026 di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach menyampaikan kepengurusan PBNU periode 2026-2031 telah melalui proses pembahasan dan penyusunan selama beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT

"Agama adalah tatanan hukum aturan berupa firman-firman Allah di dalam Al-Qur'an, diterjemahkan oleh Rasulullah SAW yang berhubungan dengan af'alin mukalaf, perbuatan-perbuatan orang mukalaf. Selama disebut mukalaf, maka dia terkena sorot daripada hukmullah atau khitabullah ini tadi. Min haitsu innahum mukalaf, selama dia mukalaf. Oleh karena itu kita-kita ini mukalaf yang punya tanggung jawab untuk mensyiarkan, membumikan tatanan-tatanan Allah itu tadi," ujarnya.

NU dan Pentingnya Jemaah serta Organisasi

KH Miftach mengutip ungkapan sahabat Umar bin Khattab yang menjelaskan pentingnya jemaah dan kepemimpinan dalam kehidupan umat Islam.

"Laa islaama illa bi jama'atin, wa laa jama'ata illa bi imaratin, wa laa imarata illa bi thaa'atin. Fa man sawwadahu qaumuhu 'alal fiqhi kaana hayaatan lahu wa lahum, wa man sawwadahu qaumuhu 'ala ghairi fiqhin kaana halaakan lahu wa lahum."

Ungkapan tersebut, kata KH Miftach, memiliki makna bahwa Islam tidak akan berdiri tegak tanpa adanya pemeluk dan jemaah yang memperjuangkannya. Sementara jemaah membutuhkan aturan dan tata kelola organisasi agar dapat menjalankan tugas dengan baik.

"Jadi katakanlah jemaah ini kulturalnya. Imaroh ini strukturalnya jadi harus karena ini yang akan menata menertibkan para jemaah jemaah itu tadi. Imaroh pun tidak akan berlangsung dengan baik bahkan mungkin terjadi kekacauan manakala tidak ada ketaatan jadi taat ini menjadi penting oleh karena itu barang siapa yang dipilih oleh kaumnya berdasar fiqhin berdasarkan pemahaman berdasarkan pengetahuan berdasarkan agama, maka itulah kehidupan mereka dan kehidupan yang dipilih," katanya.

Menurut KH Miftach, kepemimpinan yang didasarkan pada pemahaman fikih dan pengetahuan agama dapat membawa kehidupan serta kemaslahatan bagi masyarakat. Sebaliknya, kepemimpinan yang tidak dilandasi ilmu agama dapat membawa kerusakan bagi pemimpin maupun umat.

Lebih lanjut, Rais 'Aam PBNU tersebut menyampaikan bahwa NU akan terus menjalankan tugas pengkhidmatannya untuk mensyiarkan hukum Allah, tatanan Allah, dan syariat-syariat Allah.

"Saya yakin NU adalah miniatur Islam itu sendiri. Semua apa yang diutarakan oleh Islam, semua yang dikampanyekan oleh semua-semua yang diperintahkan dan dilarang oleh Islam kalau kita ini NU ini miniaturnya tentu turunan-turunannya harus ada badan Nahdlatul Ulama," tuturnya.

Dalam kepengurusan PBNU Masa Khidmah 2026-2031, terdapat 210 orang yang masuk dalam jajaran kepengurusan. Ke depan, PBNU juga akan membentuk berbagai lembaga dan badan yang diperkirakan melibatkan lebih banyak pengurus untuk mengakomodasi luasnya organisasi Nahdlatul Ulama.

KH Miftach juga mengajak seluruh warga NU untuk aktif memberikan kritik, saran, maupun apresiasi terhadap kinerja para pengurus.

"Jangan sungkan-sungkan kritik, tapi manakala ada kebaikan-kebaikan juga jangan sungkan kita diberikan apresiasi sebagai penyemangat, tasji, vitamin, strong-nya untuk terus kita melaksanakan tugas-tugas," ujarnya.

Ia berharap seluruh ikhtiar kepengurusan baru tersebut mendapat ridha Allah SWT dan membawa kemajuan bagi NU, baik dalam peran kultural maupun struktural.

"Semoga Allah meridhai ikhtiar ini, para muassis merasa senang dengan perjalanan organisasi, baik secara kultural maupun struktural, sehingga menjadi sumbangan besar bagi Indonesia menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," pungkasnya.



(dvs/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads