Lirik Sholawat Burdah Mawlaya Shalli yang Sering Dibaca di Majelis

Lirik Sholawat Burdah Mawlaya Shalli yang Sering Dibaca di Majelis

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Selasa, 22 Sep 2026 17:00 WIB
referensi
Ilustrasi bersholawat. (Foto: Freepik/Freepik)
Jakarta -

Lantunan bait sholawat "mawlaya shalli wa sallim da'iman abada" sudah sangat melekat di setiap majelis, maulid, maupun pengajian. Irama yang syahdu dan sendu sangat nyaman untuk didengarkan dan membuat suasana menjadi semakin khidmat.

Untaian syair indah ini merupakan bagian dari Qasidah Burdah, salah satu sholawat populer yang memiliki sejarah mengharukan dari penggubahnya. Sering kali sholawat ini dilantunkan dengan niat meminta kesembuhan kepada Allah SWT melalui syafaat Nabi SAW.

Lirik Sholawat Burdah Mawlaya Shalli

Mengutip laman NU, berikut lirik sholawat burdah yang biasa dilantunkan:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلَّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كلهم

Maulâya shalli wa sallim dâ'iman abadan 'alâ habîbika khairil-khalqi kullihimi

ADVERTISEMENT

Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat takzim dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk

أَمِنْ تَذَكَّرِ جِيرَانٍ بِذِي سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

amin tadzakkuri jîrânin bidzî salami mazajta dam'an jarâ min muqlatin bidami

Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana, Engkau deraikan air mata dengan darah duka?

أَمْ هَبَّتِ الرِّيحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الْظُّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ

Am habbatir-rîhu min tilqâ'i kâdzimatin wa aumadlal-barqu fidl-dhalmâ'i min idlami

Ataukah karena embusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah (Madinah), atau sebab kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman Lembah Idlam?

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقُ يَهِمِ

Fa mâ li 'ainaika in qultak-fufâ hamatâ wa mâ liqalbika in qultas-tafiq yahimi

Lalu mengapa kedua air matamu tetap meneteskan air mata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya.

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمُ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ

Ayahsabush-shabbu annal-hubba munkatimun mâ baina mun sajimin minhu wa muditharimi

Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan di antara derai air mata dan hati yang terbakar asmara?

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ وَلَا أُرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ

Lau lâl-hawâ lam turiq dam'an 'alâ thalalin wa lâ ariqta lidzikril-bâni wal-'alami

Andaikan bukan karena cinta, tentu kau tak akan meratapi puing-puing kenangan masa lalu. Kau juga tak akan terjaga mengenang pohon al-Ban dan Bukit Alam.

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

Fakaifa tunkiru hubban ba'da mâ syahidat bihi 'alaika 'udûlud-dam'i was-saqami

Bagaimana kau dapat mengingkari cinta, sedangkan derai air mata dan derita telah menjadi saksi tak terbantahkan atas rindumu?

وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَّى مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ

Wa atsbatal-wajdu khaththai 'abratin wa dlanan mitslal-bahâri 'alâ khaddaika wal-'anami

Duka nestapa meninggalkan garis di kedua pipi, menandai bekas isak tangis dan laramu, bagai bunga bahar dan dahan anam.

نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرْقَنِي وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

Na'am sarâ thaifu man ahwâ fa arraqanî wal-hubbu ya'taridlul-ladzdzâti bil-alami

Memang, bayangan orang yang kucinta selalu hadir dan membuatku terjaga. Cinta menghalangi segala kesenangan dengan derita

يَا لَائِمِي فِي الْهَوَى الْعُذْرِي مَعْذِرَةً مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَكُم

Yâ lâ'imî fil-hawâl-'udzriyyi ma'dziratan minnî ilaika wa lau anshafta lam talumi

Wahai pencaci derita cinta, kusampaikan maaf padamu. Aku yakin andai kaurasakan derita cinta ini, tak mungkin engkau mencaci maki.

عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِي بِمُسْتَتِرٍ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِي بِمُنْحَسِمِ

'adatka hâliya lâ sirrî bimustatirin 'anil-wusyâti wa lâ dâ'î bimunhasimi

Kini kautahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Derita cintaku tiada kunjung sirna.

مَحَضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعَذَالِ فِي صَمَمِ

Mahhadltanî-nushha lakin lastu asma'uhu innal-muhibba 'anil-'udzdzâli fî shamami

Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela.

إِنِّي اتَّهَمْتُ نَصِيحَ الشَّيْبِ فِي عَذَلٍ وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحٍ عَنِ النُّهَمِ

Innît tahamtu nashîhasy-syaibi fî 'adzalin wasy-syaibu ab'adu fî nushhin 'anit-tuhami

Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.

Sejarah dan Keutamaan Sholawat Burdah

Mengutip buku Tasawuf dalam Dimensi Zaman oleh Yandi Irsyad Badruzzaman, kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel. Dalam riwayat lain disebutkan sholawat burdah berasal dari kata bur'ah yang berarti shifa atau kesembuhan. Penamaan ini tidak lepas dari sejarah penggubahnya, yaitu Imam al-Bushiri.

Dikisahkan, Imam Al-Bushiri menderita penyakit lumpuh yang membuatnya tidak berdaya dan divonis sulit sembuh oleh para tabib. Di tengah keputusasaan fisik dan rasa sakit yang mendalam, beliau menyusun syair-syair pujian tulus kepada Rasulullah SAW dengan harapan dapat menjadi wasilah turunnya syafaat dan kesembuhan dari Allah SWT.

Saat tertidur usai menyusun syair tersebut, Imam Al-Bushiri bermimpi didatangi langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam mimpinya, Nabi SAW mengusap bagian tubuhnya yang lumpuh, lalu menyelimutinya dengan jubah (burdah).

Begitu terbangun dari tidurnya, keajaiban pun terjadi. Imam Al-Bushiri sembuh total tanpa rasa sakit sedikit pun. Sejak peristiwa menakjubkan itulah, rangkaian syair ini dinamakan Qasidah Al-Burdah, dan sering dibacakan sebagai wasilah untuk meminta kesembuhan melalui syafaat Rasulullah SAW.

Adapun keutamaan Qasidah Burdah adalah dapat menjadi wasilah untuk memohon kepada Allah SWT agar dipenuhi segala kebutuhan. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ali al-Qari dalam az-Zubdah fî Syarhil Burdah,

"Qasidah Burdah sangat mujarab (dijadikan media) untuk memohon pemenuhan berbagai hajat dan suksesnya berbagai kepentingan."

Wallahu a'lam.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads