Sejarah Idul Adha, Bermula dari Pengorbanan Nabi Ibrahim

Sejarah Idul Adha, Bermula dari Pengorbanan Nabi Ibrahim

Nilam Isneni - detikHikmah
Kamis, 15 Jun 2023 05:45 WIB
Sejarah Idul Adha, Bermula dari Pengorbanan Nabi Ibrahim
Ilustrasi sejarah Idul Adha. Foto: Getty Images/iStockphoto/Ulrike Leone
Jakarta -

Sejarah Idul Adha bermula pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Idul Adha biasa dirayakan oleh umat Islam setiap 10 Zulhijah.

Hal ini diceritakan oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Qashash al-Anbiyaa bahwa ketika Nabi Ismail AS semakin besar dan mampu untuk membantu pekerjaan ayahnya, pada saat itulah Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk menyembelih Nabi Ismail AS.

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan secara marfu' disebutkan: "Mimpi para nabi adalah wahyu." Ubaid bin Umair juga mengatakan hal yang sama. (HR Bukhari)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ibnu Katsir, perintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS merupakan ujian dari Allah SWT terhadap Nabi Ibrahim AS. Ia diperintahkan untuk menyembelih putranya itu yang lahir ketika Nabi Ibrahim AS sudah berusia tua.

Pada akhirnya, Nabi Ibrahim AS menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya. Ia menyampaikan perintah Allah SWT tersebut kepada putranya agar dapat menenangkan hatinya dan memudahkan penyembelihannya, tanpa ada paksaan.

ADVERTISEMENT

Kisah ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ§ Ø¨ŲŽŲ„ŲŽØēŲŽ Ų…ŲŽØšŲŽŲ‡Ų Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽØšŲ’ŲŠŲŽ Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ ŲŠŲ°Ø¨ŲŲ†ŲŽŲŠŲ‘ŲŽ Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŲŠŲ’Ų“ Ø§ŲŽØąŲ°Ų‰ ؁ؐ؉ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲ†ŲŽØ§Ų…Ų Ø§ŲŽŲ†Ų‘ŲŲŠŲ’Ų“ Ø§ŲŽØ°Ų’Ø¨ŲŽØ­ŲŲƒŲŽ ŲŲŽØ§Ų†Ų’Ø¸ŲØąŲ’ Ų…ŲŽØ§Ø°ŲŽØ§ ØĒŲŽØąŲ°Ų‰Û— Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ ŲŠŲ°Ų“Ø§ŲŽØ¨ŲŽØĒؐ Ø§ŲŲ’ØšŲŽŲ„Ų’ Ų…ŲŽØ§ ØĒŲØ¤Ų’Ų…ŲŽØąŲÛ– ØŗŲŽØĒŲŽØŦŲØ¯ŲŲ†ŲŲŠŲ’Ų“ Ø§ŲŲ†Ų’ Ø´ŲŽØ§Û¤ØĄŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų Ų…ŲŲ†ŲŽ Ø§Ų„ØĩŲ‘Ų°Ø¨ŲØąŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲĄŲ Ųĸ

Artinya: "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102)

Diceritakan pula bahwa Nabi Ibrahim AS membaringkan Nabi Ismail AS seperti dibaringkannya hewan sembelihan, yaitu dengan meletakkan pipi Nabi Ismail AS hingga menempel ke tanah. Nabi Ibrahim AS lalu menyebut Asma Allah SWT dengan bertakbir, bersaksi dan menyerahkan sepenuhnya kematian putranya kepada Allah SWT.

As-Sadi dan ulama lainnya berkata, "Ibrahim menggoreskan goloknya pada leher Ismail, tetapi tidak melukai sedikit pun." Ada juga yang berpendapat, "Antara golok dan leher Ismail terdapat lempengan logam." Wallahu a'lam.

Pada saat yang sangat kritis itu lalu terdengar dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam surah As-Saffat ayat 104-105,

ŲˆŲŽŲ†ŲŽØ§Ø¯ŲŽŲŠŲ’Ų†Ų°Ų‡Ų Ø§ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘Ų°Ų“Ø§ŲØ¨Ų’ØąŲ°Ų‡ŲŲŠŲ’Ų…Ų ۙ ŲĄŲ Ų¤ Ų‚ŲŽØ¯Ų’ ØĩŲŽØ¯Ų‘ŲŽŲ‚Ų’ØĒŲŽ Ø§Ų„ØąŲ‘ŲØĄŲ’ŲŠŲŽØ§ ÛšØ§ŲŲ†Ų‘ŲŽØ§ ŲƒŲŽØ°Ų°Ų„ŲŲƒŲŽ Ų†ŲŽØŦŲ’Ø˛ŲŲ‰ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØ­Ų’ØŗŲŲ†ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲĄŲ ŲĨ

Artinya, "Kami memanggil dia, "Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan."

Akhirnya Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor kambing. Di mana menurut pendapat mayoritas ulama yang masyhur bahwa pengganti Ismail AS dengan seekor kibasy (kambing besar) berwarna putih, bermata hitam, dan bertanduk besar.

Nabi Ibrahim AS melihat kambing itu telah terikat dengan tali berwarna cokelat di Gunung Tsabir. Ats-Tsauri juga meriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata, "Yaitu kambing yang digembalakan di surga selama empat puluh musim."

Sa'id bin Jubair berkata, "Kambing itu digembalakan di surga hingga Gunung Tsabir pun terpecah karena kehadirannya."

Dari kisah inilah awal mula diperintahkannya kurban pada Hari Raya Idul Adha. Hal ini dijelaskan pula oleh Otong Surasman dalam buku Bercermin pada Nabi Ibrahim AS.

Ia menerangkan, dari kisah ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS untuk memenuhi perintah Allah SWT ini bisa dipetik sebuah pelajaran penting bagi umat Islam. Di mana umat Islam harus mampu untuk mengorbankan harta yang dicintainya karena hal itu semua semata-mata hanya titipan dari Allah SWT.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads