Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Yayasan Harika untuk Kemanusiaan meluncurkan Program Dai Sejuta Mimbar. Program ini dibentuk untuk mendorong generasi muda agar dapat memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan dakwah yang kreatif, inspiratif, dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan kesadaran mempersiapkan ibadah haji sejak dini.
Melalui program ini, generasi muda diharapkan tidak hanya memahami pentingnya persiapan ibadah menuju Baitullah, tetapi juga berperan aktif menyebarkan pengetahuan dan pesan kebaikan melalui karya digital.
BPKH Dorong Persiapan Haji Sejak Usia Muda
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, mengatakan persiapan ibadah haji perlu dilakukan sejak usia muda. Menurutnya, kesiapan tersebut mencakup aspek spiritual, pemahaman mengenai ibadah haji, serta perencanaan keuangan yang matang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masa tunggu keberangkatan haji yang panjang menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi sejak dini agar masyarakat dapat merencanakan perjalanan ibadah dengan lebih terarah.
"Persiapan ibadah haji perlu dimulai sejak usia muda. Haji bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang membangun komitmen jangka panjang melalui perencanaan keuangan yang disiplin. Karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri sejak dini, baik dari sisi spiritual maupun finansial, sesuai dengan kemampuan masing-masing," ujar Harry pada peluncuran dan sosialisasi Dai Sejuta Mimbar yang berlangsung di Auditorium Gedung B.J. Habibie, BRIN, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Melalui Program Haji Muda, BPKH mendorong masyarakat memahami pengelolaan keuangan, membangun kebiasaan menabung, serta memperoleh informasi haji yang tepat sebagai bagian dari persiapan menuju Baitullah.
Sementara itu, Program Dai Sejuta Mimbar memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui konten digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Melalui Dai Sejuta Mimbar, kami ingin membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menyebarkan pesan kebaikan melalui platform digital. Konten dakwah tidak hanya perlu kreatif dan menarik, tetapi juga harus memiliki substansi yang kuat, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tambah Harry.
BRIN Tekankan Pentingnya Kualitas Dakwah Digital
Kepala BRIN, Arif Satria, menilai perkembangan teknologi digital membuka peluang lebih luas bagi dakwah untuk menjangkau masyarakat. Berbagai platform media sosial, video pendek, podcast, dan berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan keislaman dengan pendekatan yang lebih kreatif dan sesuai dengan karakter generasi muda.
"Dakwah di era digital tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dan jangkauan yang luas, tetapi juga harus didukung oleh substansi pengetahuan yang kuat dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Melalui Program Dai Sejuta Mimbar, kita ingin mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan kebaikan sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat. Keberhasilan dakwah digital perlu dilihat dari manfaat dan dampak nyata yang dihasilkan," kata Arif dalam sambutannya.
Kolaborasi BPKH, BRIN, dan Yayasan Harika untuk Kemanusiaan diharapkan dapat mempertemukan edukasi kelembagaan, riset dan inovasi, serta partisipasi komunitas dakwah.
Sinergi tersebut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemampuan memproduksi konten, serta membangun jejaring dakwah digital yang inklusif dan berkelanjutan.
