Kompak Berkebun Bareng, Ibu-Ibu Desa Tebing Tinggi Buktikan Gotong Royong Masih Hidup
KUANTAN SINGINGI - Ada yang beda dari pekarangan rumah warga Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, belakangan ini. Bukan cuma tanaman yang makin subur, tapi juga kekompakan ibu-ibu di sana yang makin erat gara-gara satu kegiatan bareng: belajar berkebun sekaligus jaga alam sekitar.
Semua bermula waktu Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Islam Riau (UIR) mengajak ibu-ibu rumah tangga desa untuk ikut program Rumah Pangan Lestari (RPL), sejak April 2026 sampai sekarang. Puncaknya, 13 Juli 2026 lalu, satu kelompok ibu-ibu ramai-ramai kumpul untuk workshop bareng lima mahasiswa pendamping. Kegiatan ini didukung dana dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi lewat skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) 2026, tapi yang bikin acara ini hidup ya semangat gotong royong warganya sendiri.
Yang menarik, bukan cuma soal panen sayur. Komunitas ibu-ibu ini juga diajak barengan menjaga nibung, tanaman yang jadi maskot flora Riau. Jadi sambil ngumpul dan ngobrol, mereka juga sama-sama menanam bibit nibung di pekarangan dan ruang terbuka hijau desa, kompak menjaga identitas kampung halaman mereka sendiri.
Belajar Bareng, Praktik Bareng, Untung Bareng
Selama pelatihan, ibu-ibu nggak cuma duduk manis dengar penjelasan. Mereka barengan turun tangan: sama-sama menata pekarangan untuk sayuran dan tanaman obat keluarga (TOGA), gotong royong mengolah sampah dapur jadi kompos dan pupuk organik cair, sampai kompak belajar bikin vertical garden buat yang halamannya pas-pasan.
Kekompakan ini juga kelihatan waktu alat dan perlengkapan teknologi tepat guna dibagikan ke kelompok. Bukan cuma dipakai sendiri-sendiri, tapi jadi modal bareng yang bisa saling dipinjam dan ditularkan ilmunya antar tetangga. Ditambah ada sesi pendampingan lanjutan, jadi ibu-ibu tetap saling mengingatkan dan menyemangati meski workshop sudah kelar.
Hasilnya, komunitas ini makin solid. Peserta aktif diskusi bareng, praktek bikin kompos bareng, sampai tanam bibit nibung bareng-bareng juga. Bukan cuma pekarangan yang makin hijau, tapi ikatan antarwarga juga makin kuat.
Suara dari Warga, Bukan Cuma dari Panggung
Kepala Desa Tebing Tinggi, Andrisman, jadi salah satu yang paling gembira lihat warganya kompak begini. Baginya, kegiatan ini pas banget nyambung dengan apa yang memang dibutuhkan komunitas ibu-ibu di desanya.
"Masyarakat berterima kasih, sangat antusias, dan merasa terbantu karena kegiatan yang diberikan dapat meningkatkan kapasitas dan pengetahuan ibu-ibu, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat," ungkapnya.
Dari pihak pendamping, Ketua Tim PKM, Dr. Desti, S.Si., M.Si., berharap kekompakan yang terbangun ini nggak berhenti di satu acara saja.
"Kegiatan ini diharapkan mampu terus diterapkan oleh masyarakat dalam pengelolaan pekarangan dan RTH, serta dapat mendukung konservasi nibung sebagai flora identitas Riau," ujarnya.
Senada, dua anggota tim lainnya, Dra. Suryanti, M.Si. dan Adelina Maryanti, S.Si., M.Sc., berharap kebersamaan warga ini juga berbuah manis buat ekonomi keluarga masing-masing.
"Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat ke depan, dan dapat mendukung pertanian berkelanjutan," kata mereka.
Tapi yang paling menyentuh justru datang langsung dari komunitasnya sendiri. Fanda Tatiana, salah satu ibu yang ikut dari awal sampai akhir, cerita betapa serunya punya kegiatan bareng yang baru pertama kali ada di desanya.
"Ibu-ibu sangat semangat mengikuti seluruh rangkaian acara karena baru pertama kali dilakukan kegiatan seperti ini. Inovasi berupa vertical garden, kompos organik, dan pupuk cair organik ini bisa terus kami lanjutkan karena bahan bakunya gampang didapat," katanya.
Modal Sosial yang Nggak Kalah Penting dari Panen
Di balik hasil sayur dan kompos, ada yang lebih berharga: rasa saling percaya dan kebiasaan gotong royong yang kembali hidup di antara ibu-ibu Tebing Tinggi. Kegiatan ini jadi bukti bahwa kegiatan pengabdian kampus, dalam hal ini oleh dosen dan mahasiswa UIR, bisa jadi pemantik, tapi yang menjaga apinya tetap menyala adalah komunitas itu sendiri.
Tim pendamping berharap model kebersamaan seperti ini bisa ditiru komunitas ibu-ibu di desa-desa lain se-Riau. Karena pada akhirnya, ketahanan pangan keluarga, ekonomi warga, sampai kelestarian nibung sebagai ikon flora Riau, semuanya bakal lebih kuat kalau dikerjakan bareng-bareng, bukan sendiri-sendiri.
(community connect/community connect)
Terpopuler
Live TV
Kirim Tulisan
detikNews
detikFinance
detikInet
detikHot
detikSport
Sepakbola
detikOto
detikTravel
detikFood
detikHealth
Wolipop
DetikX
20Detik
detikFoto
detikEdu
detikHikmah
detikProperti
detikJateng
detikJatim
detikJabar
detikSulsel
detikSumut
detikSumbagsel
detikJogja
Pasang Mata
adsmart
detikEvent
Trans Snow World
Trans Studio
Flying Over Indonesia
berbuatbaik.id
ziswafctarsa.id
Bingkai.id
Hai Bunda
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Beautynesia
Female Daily
CXO Media