I Nyoman Gede Subratayasa berenang di kolam berbentuk setengah lingkaran di Taman Magenda Eco Park, Gianyar, Bali. Sesekali pria berusia 35 tahun itu bersandar di tepi kolam dan membiarkan tubuhnya terpapar sinar matahari.
Puas berenang, Subratayasa, mengambil kain untuk menutupi celana pendeknya. Warga Banjar Melinggih, Payangan, tersebut lalu bersimpuh dan berdoa di Pura Taman Magenda.
Subratayasa kemudian melukat (membersihkan diri) di sebuah kolam dengan lima pancuran (petirtaan). Terdapat sejumlah ikan di kolam yang dasarnya terlihat tersebut.
Subratayasa terbiasa berenang, berdoa, lalu melukat di Taman Magenda. "Tadi berdoa karena pas Purnama," tuturnya kepada detikBali, Minggu, (31/5/2026). Purnama adalah salah satu hari suci bagi umat Hindu.
Subratayasa menuturkan dulunya Taman Magenda hanya menjadi tempat berdoa dan melukat. Air yang mengalir melalui celah bebatuan bak air terjun yang berada di sisi Pura Taman Magenda juga tampak kotor karena terhalang ranting dan daun.
Bahkan, umat Hindu yang hendak berdoa di Pura Taman Magenda perlu berjalan melalui tepi kali kecil. "Rumput-rumput ini juga baru ditata," ungkapnya merujuk ke rumput yang berada di depan air terjun.
detikBali melali (pelesiran) ke Taman Magenda Eco Park pada Minggu (31/5). Objek wisata tersebut baru dibuka untuk umum pada Januari 2026.
Terdapat Pura Taman Magenda, air yang mengalir melalui bebatuan bak air terjun, dan kolam alami di objek wisata tersebut. Air terjun diapit oleh pura dan kolam serta di depannya terdapat rerumputan hijau. Pepohonan mengelilingi tempat pelesiran yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Bukian tersebut.
detikBali mencoba berenang di kolam Taman Magenda. Byur! Sejuknya hawa pegunungan berpadu dengan dinginnya air membuat badan menggigil saat awal berenang. Namun, seiring matahari yang meninggi, rasa adem berangsur-angsur berkurang sehingga berendam dan berenang jadi lebih nyaman.
Air kolam juga sangat bening sehingga dasarnya terlihat. Sebuah patung perempuan dengan kain putih yang menutup perut hingga kaki yang berdiri di tepi kolam menambah estetik kolam renang tersebut. Para pengunjung sesekali berada di bawah patung itu untuk merasakan sensasi air yang keluar dari patung tersebut.
Pengelola Taman Magenda Eco Park juga menyediakan satu kamar mandi pria dan satu kamar mandi perempuan. Di samping toilet terdapat tempat bilas dengan dua pancuran. Sayangnya, pintu kamar mandi tidak bisa dikunci dan muncul antrean saat ramai wisatawan.
Fasilitas lain adalah gazebo dan tempat parkir kendaraan yang luas. Sejumlah tempat sampah pun disebar di beberapa titik untuk memudahkan wisatawan dan pemedek membuang sampah. Namun, detikers sebaiknya membawa bekal karena di Taman Magenda Eco Park hanya ada satu pelapak yang menjual makanan dan minuman ringan.
Simak Video "Video: Melukat, Tradisi Suci Bali yang Kini Jadi Tren Global"
(gsp/iws)