Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Dipungut Uang Sekolah Rp 1,2 Juta

Sui Suadnyana, Ambrosius Ardin - detikBali
Kamis, 05 Feb 2026 08:49 WIB
Foto: Ilustrasi bunuh diri. (Dok.Detikcom)
Ngada -

Siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR (10), tewas gantung diri lantaran orang tuanya tak mampu belikan buku tulis dan pulpen. Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah. Padahal, lembaga tempat dia mengenyam pendidikan itu adalah SD negeri.

YBR dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. Pembayaran dicicil selama setahun. Orang tua YBR sudah membayar Rp 500 ribu untuk semester pertama. Tersisa Rp 720 ribu yang harus dilunasi secara cicil untuk semester dua.

"Itu hanya untuk kelas 4. Itu bukan dikatakan tunggakan karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester 2 ini membayar yang sisanya ini (Rp 720 ribu)," ungkap Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo, Rabu (4/2/2026) malam.

Informasi ini diperoleh Veronika dan timnya saat menemui kepala sekolah dan guru di sekolah YBR mengenyam pendidikan, Selasa (3/2/2026). Tim UPTD PPA DPMDP3A Ngada bertemu sejumlah pihak untuk menggali informasi terkait kematian YBR. Mereka bertemu keluarga YRB, masyarakat hingga sekolah.

Veronika kroscek ke sekolah terkait kemungkinan ada ancaman pengusiran terhadap YBR jika belum membayar uang sekolahnya. Ternyata ancaman itu tak ada.

Menurut Veronika, sekolah sebelumnya hanya menginformasikan kepada siswa untuk menyampaikan kepada orang tua masing-masing terkait cicilan pembayaran. Mereka dikumpulkan setelah pulang sekolah untuk menyampaikan informasi tersebut. Upaya itu dilakukan setiap hari.

"Itu yang kami kroscek ke sekolah apakah ada, misalnya kita ini budaya Flores ini usir (karena) uang sekolah, itu yang kami tanyakan ke pihak sekolah apakah ada begitu. Tetapi jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi," terang Veronika.

"Kumpulkan anak-anak jam pulang sekolah, setiap hari itu dilakukan. Kalau ada, disampaikan kepada orang tua kalau ada uang dicicil karena dia punya itu masih Rp 720 ribu. Dia punya total keuangan itu ada Rp 1.220.000, yang sudah dibayarkan Rp 500 ribu, sisanya Rp 720 ribu," imbuh Veronika.

Veronika mengatakan siswa di sekolah tersebut umumnya dari keluarga tak mampu. Pembayaran uang sekolah pun dilakukan dengan cara dicicil.

"Sekolah itu bersifat informatif dilakukan secara terus-menerus, disampaikan kepada anak-anak supaya disampaikan kepada orang tua kalau ada uang. Karena mereka di sana rata-rata keluarga tidak mampu, jadi harus disampaikan, ada Rp 10 ribu, Rp 20 ribu bawa, berapapun yang ada bawa supaya meringankan," jelas Veronika.

Tagih Uang PIP

YBR baru tercatat sebagai penerima bantuan dana Program Indonesia Pintar (PIP) saat kelas 4 SD. Saat kelas 1-3, dia tidak dapat bantuan tersebut karena terkendala administrasi kependudukan (adminduk). Namanya tercatat dalam kartu keluarga (KK) ibunya yang masih beralamat di Nagekeo.

YBR kemudian gabung dengan KK neneknya yang beralamat di Ngada sehingga namanya bisa diusulkan sekolah untuk mendapat bantuan PIP tersebut. Namun, dana itu belum dicairkan karena YBR keburu gantung diri.

Dana PIP itu diketahui sudah masuk ke rekeningnya. Belum bisa dicairkan bank karena kendala adminduk ibunya sebagai wali saat melakukan pencairan di bank. Ibunya yang ber-KTP Nagekeo diminta membuat surat keterangan domisili tinggal di Ngada sesuai alamat tinggalnya saat ini.

Selama tiga hari sebelum gantung diri itu, YBR nginap di rumah ibunya. Dia beberapa kali menanyakan pencairan PIP itu kepada ibunya. Ibunya menjawab yang sama, yakni dana itu belum bicara dicairkan karena dia harus buat surat keterangan domisili dahulu di pemerintah desa (pemdes) setempat.

Dana PIP itu awalnya hendak dijadwalkan dicairkan pada Senin (26/1/2026). Ibunya dan guru sekolah YBR sudah datang ke bank di Bajawa untuk mengurus pencairan dana PIP itu. Bank minta ibu YBR untuk buat keterangan domisili dari pemdes.

Malam harinya, YBR datang ke rumah ibunya menanyakan pencairan dana PIP itu. YBR sejak balita tinggal bersama neneknya, beda desa dengan alamat tinggal ibunya. Ibunya menjelaskan alasan dana itu belum dicairkan.

"Dia hanya mengecek mamanya apakah uang PIP, dia ada dapat bantuan PIP di kelas 4 ini, senilai Rp 450 ribu itu, apakah sudah dicairkan atau belum. Jawab mamanya hari Senin itu belum jadi dicairkan karena mamanya ini KTP-nya (Nagekeo)," ungkap Veronika.

"Hari Senin malam itu dia bertanya, 'mama saya punya dana PIP sudah cair ka?. Mamanya bilang belum. Kenapa belum? Karena mama masih warga Nagekeo, mama harus urus surat keterangan domisili di desa," lanjut Veronika mengutip percakapan mereka.

Veronika mengatakan saat menanyakan pencairan PIP itu, YRB tak menceritakan informasi yang disampaikan guru terkait cicilan pembayaran uang sekolah. Selama tiga hari bersama ibunya, tak ada tanda-tanda tak wajar pada perilaku YBR.

"Cerita mamanya, anak ini tiga hari bersama mama, tidak menunjukkan tanda-tanda dia sedang murung, ada masalah, tidak ada," ujar Veronika.

Keesokan harinya, ibunya menyuruh YBR masuk sekolah. Sepulang sekolah, dia bersama kakaknya memetik pala di kebun. Mereka mendapat uang Rp 175 ribu hasil penjualan pala itu. Sang kakak membagi uang itu: Rp 50 ribu untuk ibunya, Rp 5 ribu untuk YRB, dan Rp 120 untuk kakaknya.

Keesokannya lagi, YBR masih di rumah ibunya, tetapi tidak masuk sekolah. Ibunya memberi dia yang Rp 5 ribu untuk bayar sanksi tidak masuk sekolah. YBR kemudian pulang pada Kamis (29/2/2026) ke pondok bambu di kebun, tempat dia dan neneknya tinggal. Dia ternyata tidak ke sekolah pagi itu, tetapi gantung diri di pohon cengkih di dekat pondok tersebut.

Polisi kemudian menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR. Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap Ibunya. YBR dalam surat itu menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.



Simak Video "Keindahan Air Terjun Mataru yang Menakjubkan di Nusa Tenggara Timur"


(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB