Para Pekerja Pariwisata Labuan Bajo Terancam Dirumahkan

Ambrosius Ardin - detikBali
Sabtu, 31 Jan 2026 08:33 WIB
Foto: Suasana RDP DPRD Manggarai Barat dengan perwakilan sejumlah asosiasi pariwisata di Labuan Bajo membahas penutupan pelayaran kapal wisata, Jumat (30/1/2026). (Ambrosius Ardin/detikBali)
Manggarai Barat -

Pelaku pariwisata mengeluhkan penutupan total pelayararan kapal wisata yang terus diperpanjang di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penutupan layanan wisata sudah berlangsung satu bulan lebih. Jika kebijakan itu terus berlanjut maka ada potensi para pekerja pariwisata di Labuan Bajo dirumahkan.

Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of The Indonesian Tours and Travel Agent/Asita) Manggarai Barat, Sebastian Pandang, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Manggarai Barat, Jumat (30/1/2026) sore. RDP itu dihadiri Asita dan asosiasi wisata lainnya di Labuan Bajo.

"Ada dampak lain, yaitu saya dengar, mungkin ada tambahan dari HPI dan PHRI sebentar, ada beberapa karyawan, manajer, sudah ada isu supaya kalau nanti sambung Februari, Maret, April tetap ditutup maka karyawannya dirumahkan. Ini dampak besar juga," tegas Sebastian.

Ia mengatakan penutupan layanan kapal wisata yang sudah berlangsung sejak akhir Desember 2026 ini telah menyebabkan kerugian besar bagi pelaku pariwisata Labuan Bajo. Sebab, banyak wisatawan membatalkan rencana perjalanan wisata ke Labuan Bajo.

Wisatawan yang sudah membayar down payment (DP) atau yang sudah membayar lunas pemesanan perjalanan wisata ke Labuan Bajo, juga telah minta dikembalikan (refund) seluruhnya uang tersebut.

"Cancel itu bukan hanya cancel perjalanannya, tetapi cancel juga anggaran perjalanannya. Jadi cost, budget tour yang sudah DP, yang sudah lunas itu di-refund, dikembalikan," ungkap Sebastian.

"Karena dalam aturan itu termasuk bencana yaitu cuaca iklim yang ekstrim di suatu destinasi itu bisa dibatalkan dengan catatan semua full refund. Jadi kita sekarang kosong, rugi besar," lanjut dia.

Sebastian mengatakan penutupan terus-menerus akses wisatawan ke Taman Nasional Komodo dan destinasi lain di perairan Labuan Bajo itu juga akan berdampak terhadap realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebab tak ada wisatawan datang berkunjung.

"Kalau memang dampak penutupan sampai April, Maret, gangguan terhadap PAD tentunya sangat besar karena Flores ini NTT ini adalah indikator aktivitas pergerakan industri pariwisata yang paling besar, salah satu pintu masuk utama di NTT khususnya Flores barat," jelas Sebastian.

Ia menilai ada anomali kebijakan penutupan pelayaran kapal wisata pada awal tahun ini yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Padahal kondisi cuaca perairan nyaris sama tiap tahun di Labuan Bajo. Sebastian menilai ada benturan antara prakiraan cuaca yang dirilis BMKG dengan kebijakan KSOP Labuan Bajo menutup pelayararan kapal wisata sebulan terakhir.

"Kebijakan operasional berlayar yang berbasis zonasi dan risiko dengan mempertimbangkan karakteristik perairan, jenis kapal, waktu dan jarak dari dan ke Labuan Bajo, ini artinya ada anomali kebijakan informasi BMKG dan KSOP, ada benturan-benturan," kata Sebastian.



Simak Video "#Tanyadetikfinance IHSG Kebakaran, Apa Artinya buat Ekonomi RI?"


(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork