Suasana penuh antusiasme dan semangat gotong royong menyelimuti Desa Adat Akah, Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu (24/10/2026). Warga setempat menggelar rangkaian upacara Nyenuk, Kebat Daun, Mebangun Ayu, hingga Penyineb Nuwek Bagia sebagai penutup rangkaian Karya Agung yang telah berlangsung sejak 12 Oktober lalu.
Upacara ini menjadi pamungkas dari rangkaian Karya Pamungkah Tawur Agung Nabung Pedagingan, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Agung yang dipusatkan di tiga pura sekaligus, yakni Pura Desa, Pura Puseh, serta Pura Taman Pucak Sari.
Bendesa Adat Akah I Ketut Wirta mengungkapkan momen ini terasa sangat istimewa bagi warga. Pasalnya, upacara besar yang melibatkan tiga pura sekaligus ini baru bisa dilaksanakan kembali setelah 37 tahun.
"Terakhir kali karya agung tiga pura dilaksanakan pada 1989. Desa Adat Akah terdiri dari 6 banjar dan memiliki 4 pura. Setelah seluruh pura selesai direnovasi, tahun ini kami melangsungkan karya suci untuk tiga pura sekaligus, dengan puncak karya yang telah sukses dilaksanakan pada Senin (19/10/2026) lalu," ujar Ketut Wirta pada detikBali, Sabtu (24/10/2026).
Ketut Wirta menjelaskan prosesi Nyenuk yang dipuput oleh Ida Pedanda Gde Batuaji dari Griya Batuaji Desa Akah ini merupakan wujud rasa syukur mendalam atas kelancaran seluruh tahapan karya suci.
Dalam ritual tersebut, warga beriringan membawa aneka sarana upakara dan hasil bumi (pula kerti). Prosesi ini melambangkan turunnya para dewata untuk menganugerahkan kedamaian, kemakmuran, dan kerahayuan.
"Selanjutnya, ritual Mebangun Ayu dan Kebat Daun diselenggarakan sebagai simbol penataan keharmonisan antara alam semesta (palemahan), hubungan sosial masyarakat (pawongan), dan spiritual (parahyangan)," jelasnya.
Seluruh rangkaian kemudian diakhiri dengan prosesi Penyineb dan Nuwek Bagia Pulakerti. Ritual Nuwek Bagia sendiri menjadi simbol penguncian serta penetapan segala doa kebaikan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh krama Desa Adat Akah.
Mengingat skalanya yang cukup besar dan mencakup tiga lokasi pura, dana yang dibutuhkan untuk menggelar karya suci ini mencapai miliaran rupiah. Anggaran tersebut bersumber dari bantuan pemerintah daerah serta swadaya (punia) dari krama adat setempat.
"Melalui pelaksanaan karya suci ini, kami berharap semangat gotong royong dan menyama braya warga Desa Adat Akah semakin erat sebagai wujud sradha bhakti kita kehadapan Ida Sesuhunan," pungkas Wirta.
Simak Video "Merasakan Kedamaian Pagi yang Tenang di Desa Adat Duarato, Nusa Tenggara Timur"
(nor/nor)