Rumah semestinya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak untuk tumbuh. Namun, bagi anak yang hidup di tengah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), rumah justru bisa menjadi ruang yang menyimpan ketakutan, luka, dan trauma berkepanjangan.
Pengalaman kelam itu menjadi benang merah dalam HELL, pameran tunggal Papa Asmodeus di TAT Art Space, Denpasar, Bali, pada 17-31 Oktober 2026. Melalui lukisan dengan tinta berbahan darah, Papa Asmodeus mengangkat kisah seorang anak perempuan yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh kekerasan.
Darah dalam pameran ini bukan sekadar pilihan material untuk menciptakan visual yang mengusik. Material tersebut menjadi bagian dari upaya mengungkap pengalaman yang kerap sulit diceritakan, terutama ketika kekerasan terjadi di dalam rumah dan berlangsung di balik pintu tertutup.
"Darah menjadi bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang sulit dibicarakan secara langsung," ungkap Asmodeus dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan kisah yang dibangun dalam pameran ini berangkat dari sudut pandang seorang anak perempuan. Melalui perspektif tersebut, HELL menyoroti bagaimana kekerasan domestik tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga membentuk cara seseorang memahami rasa aman, hubungan keluarga, dan dirinya sendiri.
Dampak kekerasan terhadap anak tidak selalu terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Ketakutan dapat tumbuh dalam keseharian, sementara pengalaman traumatis tersimpan tanpa selalu menemukan ruang untuk diungkapkan.
Di titik itulah HELL mencoba membawa persoalan domestik ke ruang publik. Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan karya seni, tetapi juga dengan cerita tentang pengalaman yang sering kali luput dari perhatian karena dianggap sebagai urusan internal keluarga.
Simak Video "Video: Keji! Ayah di Gorontalo Aniaya Bayi Sambil Video Call Istri"
(hsa/hsa)