detikBali

Daging Ayam dan Tarif PDAM Pemicu Inflasi NTB September 2026

Terpopuler Koleksi Pilihan

Daging Ayam dan Tarif PDAM Pemicu Inflasi NTB September 2026


Nathea Citra - detikBali

Pedagang ayam di Pasar Kebon Roek, Ampenan, beberapa waktu lalu.
Foto: Pedagang ayam di Pasar Kebon Roek, Ampenan, beberapa waktu lalu. (Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Laju pergerakan harga konsumen di Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat mengalami inflasi 0,36 persen pada September 2026. Kenaikan harga daging ayam dan tarif Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) jadi pemicu utama inflasi.

"Komoditas harga daging ayam disebabkan permintaan masyarakat yang masih cukup tinggi selama berlangsungnya perayaan Maulid Nabi hingga minggu pertama September. Kenaikan tarif air minum PAM (PDAM) terjadi di Kabupaten Sumbawa seiring dengan diberlakukannya Keputusan Bupati Sumbawa Nomor 697 Tahun 2026," kata Kepala BPS NTB Wahyudin, seusai rilis data inflasi di kantornya, Kamis (1/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Komoditas lain juga memberikan andil inflasi ialah kenaikan harga udang basah, yang disebabkan oleh berkurangnya hasil panen tambak akibat cuaca ekstrem yang memicu perubahan suhu air tambak. Sehingga menghambat pertumbuhan udang dan penurunan hasil panen," sambungnya.

Cuaca ekstrem kali ini juga memberi dampak pada hasil panen pada komoditas tomat dan cabai rawit. Akibatnya harga cabai dan tomat mulai melonjak selama musim kemarau.

ADVERTISEMENT

BPS NTB mencatat daging ayam ras memberi andil inflasi hingga 0,12 persen, disusul tarif air minum PDAM 0,08 persen, udang basah 0,07 persen, tomat 0,05 persen, dan cabai rawit 0,04 persen.

Sementara itu, beberapa komoditas justru mencatatkan deflasi pada September 2026. Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain, bawang merah 0,03 persen, cabai merah 0,02 persen, kacang panjang 0,02 persen, angkutan udara 0,02 persen, dan emas perhiasan 0,02 persen.

"Penurunan harga bawang merah dipengaruhi oleh hasil panen yang sudah memasuki pasar, sehingga stok bawang merah cukup banyak. Demikian pula dengan cabai merah yang juga mengalami penurunan harga seiring dengan produksinya yang sedang melimpah. Sementara penurunan tarif angkutan udara dilakukan maskapai untuk menarik pembelian tiket pesawat," beber Wahyudin.

Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa, sebesar 0,69 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 113,23. Kemudian disusul Kota Mataram 0,18 persen dengan IHK 113,23 dan Kota Bima mengalami inflasi 0,18 persen dengan IHK 113,51.

"Semua wilayah IHK di Provinsi NTB mengalami inflasi bulanan. Dan inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa," jelas Wahyudin.

Wahyudin mengungkapkan terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi di wilayah IHK NTB. Komoditas tersebut antara lain, daging ayam ras, tomat, akademi/perguruan tinggi, cabai rawit, daun kelor, tarif air minum PAM, udang basah, ikan nila, ikan tuna, ikan layang, dan angkutan udara.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads