Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali menyoroti perubahan pola kunjungan wisata turis asal China di Pulau Dewata. Perubahan itu disebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi para pelaku agen wisata di Bali.
Ketua Asita Bali I Putu Winastra mengungkapkan arah baru pasar wisata mulai terlihat pascapandemi COVID-19. Sebelum pandemi, dia berujar, wisatawan China selalu bepergian dalam bentuk grup dan berbelanja di setiap kunjungan.
"Tetapi setelah adanya pandemi COVID-19, pola perjalanan berubah. Mereka cenderung melakukan perjalanan dengan independen, individual, dan juga kalau pun grup mungkin grup family," kata Winastra, Minggu (8/3/2026).
Winastra mengatakan perubahan pola perjalanan turis China ini menjadi tantangan bagi pelaku agen wisata di Bali. Selain itu, dia melanjutkan, wisatawan China saat ini rata-rata adalah anak muda yang telah melek teknologi dan terbiasa memesan melalui aplikasi ketimbang secara offline.
"Artinya market China yang anak-anak muda ini lebih cenderung bepergian melalui platform aplikasi dan cenderung independen tanpa menggunakan lokal agen," ungkap Winastra.
Simak Video "Video: ASITA Bali Buka-bukaan Soal Peluang Bisnis Pariwisata di Era Perang Timur Tengah"
(iws/iws)