Penjualan kain tenun gringsing khas Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, meningkat hingga 100%. Meski harga kain naik sekitar 50%, tingginya permintaan membuat sejumlah perajin kewalahan memenuhi pesanan.
Salah seorang perajin kain gringsing, Ni Made Ariani (60), mengatakan peningkatan penjualan mulai terasa setelah kain tradisional khas Tenganan itu semakin dikenal luas. Popularitasnya turut meningkat sejak diperkenalkan melalui pameran Bali Bangkit setelah pandemi COVID-19.
"Penjualan kain gringsing naik sangat pesat saat ini. Kadang-kadang sampai tidak punya stok karena habis terjual," kata Ariani, Sabtu (24/10/2026).
Ariani menjelaskan sebelumnya perajin rata-rata hanya menjual 1-3 lembar kain gringsing per hari. Kini, penjualan bisa mencapai 4-6 lembar sehari. Pembeli datang langsung ke perajin maupun memesan kain dalam jumlah tertentu.
Peningkatan permintaan tersebut juga diikuti kenaikan harga kain. Menurut Ariani, kondisi ini dipengaruhi naiknya harga bahan baku serta biaya pengerjaan yang melibatkan banyak tenaga, mulai dari pemintalan benang, pewarnaan, pembuatan motif, hingga proses menenun.
"Meski jumlah perajin cukup banyak, tingginya permintaan terkadang membuat produksi kewalahan. Terlebih, proses pembuatan kain gringsing membutuhkan tahapan panjang dan keterampilan khusus," ujar Ariani.
Meningkatnya produksi turut membuat kebutuhan bahan baku bertambah. Para perajin bahkan harus mencari sejumlah bahan hingga ke luar Bali untuk memenuhi kebutuhan produksi.
Salah satunya kulit kayu sunti yang digunakan dalam proses pewarnaan, termasuk bahan lain seperti kemiri dan yang lainnya.
"Karena sekarang semakin banyak yang memproduksi kain gringsing, bahan bakunya sampai harus membeli ke Lombok untuk memenuhi kebutuhan," ucap Ariani.
Dari berbagai motif kain gringsing Pegringsingan, motif dinding ai menjadi salah satu yang paling banyak dicari konsumen saat ini. Popularitas motif tersebut meningkat setelah digunakan dalam sesi foto prewedding oleh artis Mahalini beberapa tahun yang lalu. Meski demikian, motif lain tetap memiliki peminat tersendiri, terutama dari kalangan pecinta kain tradisional dan kolektor.
Untuk harga kain gringsing bervariasi, tergantung pada ukuran, motif, kualitas dan usia kain. Untuk ukuran paling kecil, yakni sekitar 130x23 centimeter, harganya mencapai Rp 3,5 juta.
Sementara itu, kain berukuran 40x160 centimeter harganya sekitar Rp 7 juta. Adapun kain berukuran 160x60 centimeter harganya bisa mencapai Rp 16 juta.
Untuk motif tertentu yang memiliki nilai khusus, seperti Wayang Kebo, harganya bahkan bisa menembus Rp 50 juta per lembar. Motif tersebut banyak diminati berbagai kalangan, termasuk kolektor dan prajuru adat.
"Untuk harga kain gringsing saat ini naik sekitar 50 persen dari sebelumnya," kata Ariani.
Saat ini, konsumen lokal masih mendominasi penjualan kain gringsing. Pembeli banyak berasal dari sejumlah daerah di Bali, terutama Bangli dan Gianyar. Sementara itu, pembelian oleh wisatawan masih ada, tetapi dinilai tidak seramai sebelumnya.
Menenun Kain Gringsing Bisa Memakan Waktu Sebulan
Perajin lainnya, Ni Wayan Raka (50), juga mengakui permintaan kain gringsing saat ini cukup tinggi. Ia mengaku hampir setiap hari menenun, tetapi terkadang masih kewalahan memenuhi kebutuhan pembeli.
Menurut Raka, lamanya proses pengerjaan menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi permintaan. Waktu yang dibutuhkan bergantung pada ukuran kain yang dibuat.
"Untuk kain ukuran paling kecil saja, butuh waktu seminggu untuk selesai menenun. Sedangkan untuk ukuran yang lebih besar bisa sampai sebulan baru selesai," ujar Raka.
Hal itulah yang membuat terkadang stok kain bisa sampai habis saking banyaknya pembeli saat ini. Padahal di Tenganan Pegringsingan ada puluhan orang yang bisa menenun kain gringsing.
"Bangus sebenarnya banyak pembeli jadi perekonomian meningkat cuma kadang kami kewalahan saja," ujar Raka.
Simak Video "Melihat Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Pegringsingan Bali"
(nor/nor)