Beberapa bulan terakhir, teror ular king cobra menghantui warga Tabanan. Hanya dalam tiga bulan, Juni hingga September 2026, Yayasan Reptil Asih Tabanan telah mengevakuasi 18 ekor king cobra atau yang dikenal nama ular selan bukit di Bali itu.
Satu hal yang cukup meresahkan, sebagian besar king cobra ditangkap dari wilayah permukiman warga Kabupaten Lumbung Padi. Bahkan, di wilayah Banjar Penulisan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, dua hari lalu, seekor king cobra dengan panjang lebih dari 3 meter dievakuasi setelah sembunyi di bawah dipan di dalam kamar rumah selama dua hari.
Musim Hujan, Ular Cari Pasangan
Memasuki musim penghujan, diprediksi keberadaan ular akan meningkat. Menurut Ketua Yayasan Reptil Asih Tabanan, Ni Putu Astridayanti, selama September hingga Desember adalah periode ular mencari pasangan maupun membuat sarang.
"Memasuki September sampai Desember biasanya king cobra mulai banyak bermunculan. Mereka mencari sarang dan pasangan. Kadang sampai Januari masih ditemukan karena ada yang menetas pada bulan tersebut," ujar Astridayanti.
Astridayanti mengatakan kondisi king cobra yang dievakuasi juga beragam. Dari 18 ekor yang ditemukan, beberapa di antaranya dalam kondisi siap bertelur, sementara ada juga yang ditemukan dalam kondisi luka.
Seluruh ular hasil evakuasi selanjutnya dibawa ke yayasan untuk mendapatkan penanganan dan dikonservasi. Langkah tersebut dilakukan agar ular tidak kembali membahayakan warga sekaligus menjaga keberadaan satwa tersebut di alam.
Menurut dia, musim kawin king cobra umumnya berlangsung sekitar Juli, Agustus, hingga September. Pergerakan ular pada periode tersebut membuat satwa melata ini lebih sering terlihat di sekitar permukiman warga.
Kemunculan king cobra tidak selalu berkaitan dengan keberadaan makanan di rumah warga. Ular tersebut diketahui memangsa sesama reptil, terutama ular dengan ukuran lebih kecil. Sehingga terkadang kerap masuk ke kawasan permukiman ketika mengejar mangsanya.
"Selama ini lokasi penangkapan cukup dominan di permukiman warga. Ada yang ditemukan di kamar, di bawah tempat tidur, depan rumah, hingga halaman," jelasnya.
Wilayah temuan tersebar di sejumlah kecamatan di Gumi Lumbung Beras di antaranya Tabanan, Marga, Penebel, Baturiti, Kerambitan, Selemadeg Timur, dan Selemadeg Barat.
Salah satu proses evakuasi yang cukup sulit terjadi di Banjar Sekartaji, Desa Sesandan. Ular ditemukan berada di dalam gorong-gorong air, tepat di depan rumah Sekda Tabanan, I Gede Susila.
Tim evakuasi bahkan sempat melibatkan petugas pemadam kebakaran untuk membantu mengeluarkan ular dari gorong-gorong. Bahkan evakuasi baru berhasil sekitar 5,5 jam hingga ular berhasil dikeluarkan.
Astridayanti mengimbau masyarakat tidak panik ketika menemukan ular king kobra. Warga diminta tidak mencoba menangkap, mengejar, atau mengganggu ular tersebut karena dapat memicu tindakan defensif.
"Kalau melihat ular kobra jangan panik dan jangan diganggu. Segera laporkan kepada kami agar bisa dievakuasi dengan aman," pungkasnya.
Simak Video "Video Prabowo: Hormati Guru-Jangan Jelekin Orang, Itu Kunci Keberhasilan"
(hsa/iws)