Penerima bantuan sosial (bansos) bakal dilakukan pemindaian wajah. Pemindaian wajah dilakukan sebagai salah satu penerapan digitalisasi penyaluran bansos yang tengah disiapkan pemerintah.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengatakan pemerintah menggunakan face recognition atau biometrik wajah untuk meningkatkan akurasi data penerima bansos.
"Sekarang tahap pertama adalah untuk mengakurasikan data penerima bantuan sosial dengan face recognition," ujar Tito dalam acara FEKDIxIFSE di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2026) dilansir dari detikFinance.
Tito menerangkan sistem digitalisasi ini tidak hanya terhubung dengan data-data kependudukan dan catatan sipil (dukcapil) milik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kementerian dan lembaga lain, seperti Kementerian ATR/BPN, BPS hingga kepolisian juga terhubung dengan data tersebut.
"Begitu menggunakan wajahnya, face recognition, namanya langsung keluar. Lantas terkoneksi dengan Kepolisian, dia punya mobil atau enggak, punya motor atau enggak, punya tanah atau enggak dengan ATR/BPN, nanti langsung keluar tidak layak atau layak. Dia masuk desil 1, 2, 3, 4, dan seterusnya," beber Tito.
Ada 42 kabupaten/kota yang menjadi daerah percontohan untuk pengembangan sistem digitalisasi bansos. Tito menargetkan perluasan uji coba ini lebih ke 200 kabupaten/kota pada akhir tahun.
"Target sampai dengan akhir tahun ini lebih kurang 200-an daerah kabupaten/kota yang kita akan lakukan validasi menggunakan sistem Dukcapil yang digabung dengan kementerian/lembaga," tambah Tito.
Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!
Simak Video "Video: Kapolri Ungkap Penyebab Bansos Belum Merata di NTT"
(hsa/hsa)