Skin Booster 'Suntik Kulit Mayat' Viral, PERDOSKI Jelaskan Bahan-Risiko

Aura Zahradiva Penggalih - detikBali
Kamis, 17 Sep 2026 06:30 WIB
Skin booster. Foto: Getty Images/Dobrila Vignjevic.
Denpasar -

Tren perawatan kecantikan dari Korea Selatan tengah menjadi perbincangan di media sosial. Salah satunya skin booster yang ramai disebut sebagai 'suntik kulit mayat' karena menggunakan bahan yang berasal dari jaringan kulit manusia.

Dilansir detikHealth, produk tersebut juga disebut-sebut mampu memberikan hasil yang bertahan selama 6 hingga 12 bulan. Namun, sejumlah informasi yang beredar menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) memberikan penjelasan medis secara resmi. Dalam pernyataan resmi PERDOSKI kepada publik disebutkan, yang dimaksud 'suntik kulit mayat' sebenarnya ialah produk Human Acellular Dermal Matrix (hADM).

Produk ini merupakan matriks jaringan kulit dari donor manusia yang telah melalui proses khusus untuk menghilangkan seluruh sel pemicu reaksi imun. Sehingga yang tersisa hanyalah kerangka matriks ekstraseluler seperti kolagen dan elastin.

"Istilah 'suntik kulit mayat' bersifat sensasional dan tidak menggambarkan proses ilmiahnya secara tepat. Namun, masyarakatnya tetap perlu mengetahui secara jujur bahwa dasarnya berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan," tulis Ketua Umum PERDOSKI, Dr dr Hanny Nilasari, SpDVE, Subsp.Ven, dalam pernyataan resminya, Rabu (16/9/2026).

PERDOSKI menegaskan, hADM bukanlah jaringan hidup, bukan sel punca (stem cell), dan bukan pula sekadar cairan asam hialuronat biasa. Secara medis, teknologi hADM sebenarnya sudah lama digunakan untuk rekonstruksi luka bakar dan pembedahan. Namun, penggunaannya sebagai skin booster estetik yang disuntikkan ke wajah tergolong sebagai perkembangan baru.

Uji klinis awal terhadap produk ini baru dilakukan pada populasi kecil, yakni sekitar 20 orang dengan rentang pengamatan 20 minggu.

Meski menunjukkan potensi perbaikan kualitas kulit, penelitian skala kecil tersebut belum cukup untuk menjamin keamanan jangka panjang maupun klaim bahwa hasilnya pasti bertahan 6 hingga 12 bulan.

Sama seperti tindakan injeksi estetika lainnya, penyuntikan hADM tetap memiliki risiko medis seperti nyeri, bengkak, infeksi, peradangan, benjolan (nodul), hingga komplikasi penyumbatan pembuluh darah.

PERDOSKI memberikan peringatan penting terkait risiko komplikasi ini.

Berbeda dengan skin booster berbasis asam hialuronat yang bisa dengan mudah dicairkan menggunakan enzim hialuronidase jika terjadi komplikasi, hADM tidak dapat dilarutkan dengan enzim tersebut.

Terkait klaim produk yang menyebut "legal di Korea Selatan", PERDOSKI mengingatkan bahwa izin di negara asal tidak otomatis membuat suatu produk boleh beredar dan disuntikkan di Indonesia.

Di Korea Selatan, hADM dipasarkan sebagai produk jaringan manusia dengan jalur pengawasan yang berbeda dari obat atau alat kesehatan estetik biasa. Setiap produk impor yang masuk ke Indonesia tetap harus melalui penilaian dan izin edar resmi dari otoritas kesehatan nasional, seperti Kemenkes dan BPOM.

"PERDOSKI adalah organisasi profesi, bukan lembaga yang menerbitkan izin edar. Oleh karena itu, PERDOSKI tidak dapat menyatakan suatu merek 'aman', 'legal', atau 'direkomendasikan' hanya berdasarkan popularitas atau status penggunaannya di luar negeri," tegasnya.

Oleh karenanya, PERDOSKI mengimbau untuk berhati-hati membeli atau menerima suntikan hADM dari jastip atau yang dibawa sendiri dari luar negeri dan perlunya waspada mengenai promosi berlebihan yang dicantumkan pada produk.



Simak Video "Video: Timnya CR7 Dihajar 4-0 oleh AL Ain di AFC Champions League"

(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

detikNetwork