Lost Ethos merupakan game inovatif di platform Roblox karya tim Hercules "Heritage Cultural Games", yang beranggotakan tujuh siswa SMP Negeri 3 Denpasar. Game ini lahir dari keprihatinan para siswa terhadap mulai pudarnya minat generasi Alpha terhadap budaya lokal, terutama permainan tradisional yang kini banyak tergeser oleh game daring yang dinilai minim edukasi.
Ketua tim sekaligus Game Developer, Putu Rena Aristawidya (13), mengatakan ide ini muncul dari pengamatan mereka terhadap kebiasaan teman sebaya yang gemar bermain Roblox. Namun menurutnya, sebagian besar permainan di platform tersebut lebih menitikberatkan pada hiburan dibandingkan nilai edukasi.
"Kami dari observasi adik-adik di sekitar kami yang suka main Roblox. Tapi yang kami perhatikan, tujuan Roblox cuma sedikit yang mengedukasi dan lebih ke entertain," jelas Rena ketika diwawancarai detikBali di SMP N 3 Denpasar, Rabu, (13/5/2026).
Rena juga menyoroti tantangan pelestarian permainan tradisional yang membutuhkan ruang luas dan peralatan khusus. Sehingga, Roblox dipilih sebagai wadah untuk mengadaptasi permainan tradisional tersebut dalam bentuk yang lebih mudah dinikmati generasi masa kini.
"Kalau mau melestarikan game tradisional biasanya butuh ruangan yang luas gitu. Misalnya juga, Balogo dari Kalimantan itu kita butuh tempurung kelapa, itu kan sudah mulai susah dicari," tutur Rena.
Jelajahi 7 Pulau Indonesia Lewat Misi Permainan Tradisional
Dalam Lost Ethos, pemain diajak menjelajahi tujuh pulau di Indonesia melalui misi menyelesaikan berbagai permainan tradisional khas daerah. Setiap pulau juga dilengkapi informasi budaya seperti senjata tradisional, pakaian adat, tarian, alat musik, hingga rumah adat.
Petualangan mereka tidak berhenti begitu saja, tetapi untuk mendapatkan permata hilang yang menggambarkan nilai pendidikan karakter. Mulai dari kerja sama, kerja keras, sportivitas, hingga cinta tanah air sebagai permata terakhir yang akan didapatkan.
"Di Sumatera ada permainan gasiang, Sulawesi ada Baguli, Jawa ada Gobag Sodor, Balogo di Kalimantan, Meong-meong di Bali, Maluku ada Boi Tampurung, terakhir Papua ada Puradan. Agar pemain cepat mengenali dan permainan terasa menyenangkan, kita pakai interaksi yang gampang yaitu dengan klik dan tekan saja," tutur Game Developer Hercules I Gusti Lanang Bagus Arya Prajna Putra dan I Nyoman Athaya Dhirendra Wijaya.
Tim Hercules menjelaskan bahwa pengembangan Lost Ethos dilatarbelakangi oleh pengamatan terhadap permainan yang sudah familiar di masyarakat. Permainan tersebut juga dipilih karena mudah untuk dikembangkan ke dalam bentuk permainan daring dua dimensi.
Single Player untuk Fokus pada Edukasi
Lost Ethos sendiri berbeda dengan game Roblox lainnya. Jika biasanya game Roblox bisa dimainkan oleh banyak pemain (multi-player), Lost Ethos cukup dimainkan oleh satu pemain (single-player).
Tim Hercules menjelaskan bahwa Lost Ethos sejak awal dirancang dengan sistem satu pemain (single-player). Pasalnya, apabila sistem tersebut diubah menjadi banyak pemain (multi-player), proses pengodeannya akan lebih rumit dan pengembangan gim harus dibuat ulang.
Selain itu, konsep single-player juga diterapkan sebagai langkah antisipasi agar interaksi antarpemain tidak disalahgunakan. Sehingga, gim tetap berfokus sebagai media edukasi.
"Sebelumnya banyak isu di Roblox tentang interaksi di Roblox yang kurang pantas untuk anak-anak di bawah umur. Jadi untuk menghindari, kita atur supaya satu server cuma bisa satu pemain aja," ucap Rena.
"Kalo gim-nya harus multi-player, kita harus buat dari awal coding-nya, lebih susah lah kita kembanginnya," imbuhnya.
Simak Video "Kajian Ramadan Roblox bersama Promag & Bank Syariah Indonesia: Level Up Iman, Bukan Cuma Skill"
(nor/nor)