Bagi masyarakat Indonesia, merantau dan berinteraksi dengan orang-orang suku Batak sudah menjadi hal yang umum. Menariknya, setiap kali dua individu Batak pertama kali bertemu, pertanyaan yang biasa muncul bukanlah siapa namamu, tetapi Marga apa? atau Marga ni dongan?
Sayangnya, di zaman digital yang serba canggih saat ini, pengetahuan tentang silsilah keluarga atau tarombo mulai memudar di kalangan generasi muda. Kemampuan bertutur sesuai dengan adat (martutur) semakin menurun, padahal norma ini bukan hanya persoalan garis keturunan, melainkan juga bagian dari identitas diri.
Mari kita selami lebih dalam pengertian Tarombo dan mengapa filosofi ini menjadikan budaya Batak begitu dihormati dan harmonis.
Apa Itu Tarombo Batak?
Berdasarkan Nilai Sosial Melalui Pemahaman Tarombo Masyarakat Batak Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Sejarah oleh Bonita Padang. Secara literal, Tarombo merujuk pada silsilah keturunan dalam suku Batak yang mengikuti garis keturunan patrilineal (berdasarkan jalur ayah). Jika digambarkan, tarombo menyerupai struktur pohon silsilah (family tree) yang menghubungkan setiap generasi dengan generasi sebelumnya.
Melalui tarombo, orang Batak dapat memahami nomor generasi (sundut) mereka dalam marga, serta dari mana asal leluhur mereka (bona pasogit).
Berlandaskan Falsafah Dalihan Na Tolu
Sistem kekerabatan di kalangan masyarakat Batak diatur oleh hukum adat yang dikenal sebagai Dalihan Na Tolu (yang berarti: Tungku Berkaki Tiga). Falsafah yang mengikat ini berfungsi sebagai landasan utama dalam menetapkan sikap dan posisi sosial individu melalui tiga pilar utama:
• Somba Marhula-hula: Rasa hormat dan rasa segan terhadap keluarga pemberi istri (Hula-hula). Dalam tradisi, mereka sangat dihargai karena dianggap sebagai pembawa berkah bagi kehidupan dan keturunan.
• Manat Mardongan Tubu: Sikap yang berhati-hati, bijak, dan penuh empati terhadap saudara laki-laki dalam satu marga (Dongan Tubu).
• Elek Marboru: Sikap melindungi dan penuh kasih kepada pihak penerima istri (Boru) yang biasanya berperan sebagai pelayan (parhobas) dalam acara tradisional.
Ketiga prinsip inilah yang menjaga keharmonisan, keseimbangan, dan saling menghargai dalam kehidupan sosial masyarakat Batak.
Simak Video "Video: Viral Turis di Bali Protes Upacara Adat Karena Ngerasa Berisik"
(astj/astj)