Tangis Bupati Siak Afni Zulkifli pecah saat mengunjungi Dusun Mungkal, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Siak, Riau. Afni terisak-isak saat melihat kondisi wilayahnya yang masih terusolir.
Afni menangis saat melihat langsung tiga keluarga guru yang harus tinggal bersama dalam satu rumah kayu. Ia melihat rumah kayu itu sebagai potret nyata pengabdian guru di pelosok Negeri Istana.
Bukan tanpa alasan, Afni mengaku tangis pecah karena Siak merupakan kabupaten kaya. Namun masih ada saja warga yang hidup dengan keterbatasan listrik hingga kebutuhan dasar lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pusat tak tahu kita menderita seperti ini," ucap Afni di tengah kunjungan kerjanya beberapa hari lalu sambil mengusap air mata.
Afni kunjungan sekaligus melihat rumah layak huni yang disiapkan untuk guru di daerah 3T itu. Sebab, saat kunjungan 21 Mei lalu ia melihat ada tiga keluarga guru tinggal di rumah kayu bersama karena tidak ada fasiitas.
Keprihatinan itu tak berhenti di rumah guru. Afni juga mendapati anak-anak sekolah di Dusun Mungkal harus berjuang menempuh perjalanan hampir dua jam untuk berangkat dan pulang sekolah.
Terlihat anak-anak berdesakan masuk ke dalam truk yang dimodifikasi hingga muat 80-an anak. Melihat kondisi itulah, tangis Afni pecah.
"Saya baru jadi Bupati, baru satu tahun. Masih banyak rakyat kami yang masih seperti ini," kata Afni berurai air mata.
Afni mengaku sejak memimpin, Pemkab Siak memang menghadapi tekanan fiskal berat akibat keterbatasan anggaran, warisan utang, dan pengurangan transfer dana dari pusat. Bahkan, terbaru dana bagi hasil dari pusat juga kembali dipotong.
Namun, kata Afni, itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan warga 3T. Kini ada sedikit harapan. Pembangunan rumah layak bagi guru di Dusun Mungkal mulai berjalan dengan dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Selain rumah guru, Afni juga menyoroti kebutuhan mendesak lainnya seperti bus sekolah dan listrik. Termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum menyentuh wilayah 3T.
Karena itu, ia mempertanyakan rencana pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas Siak hingga 70 persen pada tahun depan.
"Bagaimana mungkin sebegitu teganya ada DBH Migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan?" kata Afni.
Bagi Afni, DBH Migas bukan sekadar angka di APBD, melainkan penentu apakah anak-anak di Mungkal bisa mendapat bus sekolah, buku, listrik, dan rumah layak bagi gurunya. Di akhir kunjungan, Afni hanya bisa memanjatkan doa.
"Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan," katanya.
(ras/afb)
