Sebuah studi menyebut jika suhu rata-rata dunia naik 4 derajat Celsius dibandingkan era pra industri, maka Jepang bisa kehilangan hampir seluruh resor ski yang mengandalkan salju alami. Diperkirakan hanya tujuh resor ski di Jepang yang masih bisa beroperasi penuh.
Dilansir detikTravel dari The Asahi Shimbun, Kamis (1/10/2026), hal tersebut berasal dari penelitian tim Hokkaido University dan Forestry and Forest Products Research Institute. Mereka menganalisis terhadap 349 resor ski di Jepang (tidak termasuk arena ski dalam ruangan) dengan menggunakan data proyeksi iklim dari Badan Meteorologi Jepang.
Dalam skenario terjadi kenaikan suhu 4 derajat Celsius, maka, hanya tujuh resor yang diperkirakan tetap bisa beroperasi sepenuhnya dengan salju alami. Adapun resor tersebut yakni tiga berada di Hokkaido, sedangkan masing-masing satu berada di Akita, Yamagata, Nagano, dan Gunma.
Sementara itu sebanyak 26 resor lainnya masih mungkin beroperasi sebagian.
"Jepang selama ini menarik wisatawan dari luar negeri dengan memanfaatkan salju asli yang sangat baik sebagai daya tarik pariwisata. Berkurangnya salju baru berarti kehilangan sumber daya penting tersebut," jelas Dosen Geografi Pariwisata Hokkaido University yang terlibat dalam penelitian itu, Nao Yoshizawa.
Selain itu para peneliti juga membuat skenario kenaikan suhu 2 derajat Celsius, sesuai target Perjanjian Paris. Hasilnya bila dalam kondisi tersebut, maka ada sebanyak 53 resor diperkirakan masih bisa beroperasi penuh dengan salju alami, sedangkan 108 resor lainnya hanya dapat beroperasi sebagian.
"Temuan kami menunjukkan bahwa industri ski Jepang akan mengalami dampak yang sangat parah dalam skenario kenaikan 4 derajat Celsius. Dalam skenario 2 derajat Celsius, masih ada kemungkinan resor yang berada di dataran tinggi atau lintang tinggi dapat tetap membuka pintunya bagi para pemain ski," lanjut Yoshizawa.
Simulasi ini dilakukan selama enam dekade. Untuk skenario kenaikan 2 derajat Celsius, peneliti membandingkan kondisi historis 1951-2011 dengan proyeksi 2030-2091, dan 2050-2111 untuk skenario 4 derajat Celsius.
Mereka juga menghitung batas ketinggian yang memungkinkan salju bertahan sedikitnya 100 hari dalam setahun. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi turunnya salju baru juga akan menurun.
Resor yang dalam simulasi historis mengalami sedikitnya 20 hari bersalju diperkirakan hanya mendapat 12-16 hari salju dalam skenario 2 derajat Celsius. Jumlahnya bisa turun menjadi 10 hari atau kurang jika suhu naik 4 derajat Celsius.
Kondisi itu menjadi perhatian karena salju merupakan salah satu daya tarik utama wisata musim dingin Jepang. Yoshizawa yang berasal dari Hakuba, Nagano, lokasi Olimpiade Musim Dingin 1998, mengatakan ia juga melihat langsung berkurangnya kesempatan bermain ski di Grenoble, Prancis, yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 1968.
"Menahan laju perubahan iklim sangat penting untuk mempertahankan budaya ski bagi generasi mendatang. Namun, jika kita tidak segera mengurangi emisi gas rumah kaca, Bumi akan tetap mengalami pemanasan untuk sementara waktu," tegas Yoshizawa.
Artikel ini telah tayang di detikTravel, baca selengkapnya di sini
Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"
(mjy/mjy)