Internasional

AS Tunda Serangan ke Iran, Diplomasi Kembali Menguat

Yulida Medistiara - detikSumut
Minggu, 26 Jul 2026 16:58 WIB
Ilustrasi pesawat tempur Amerika Serikat (Foto: The South Korean Defence Ministry/Handout via REUTERS/File Photo Purchase Licensing Rights)
Jakarta -

Iran kembali melalui malam tanpa serangan udara dari Amerika Serikat (AS) pada Minggu. Situasi ini terjadi setelah Washington menghentikan sementara operasi militernya di tengah munculnya laporan mengenai kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan amunisi, sehingga rencana eskalasi perang untuk sementara ditahan.

Dilansir detikNews dari AFP dan Al Jazeera, Minggu (26/7/2026), laporan The New York Times dan Axios menyebut Presiden AS Donald Trump telah memutuskan menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran. Keputusan itu diambil setelah 13 hari berturut-turut AS melancarkan serangan.

Mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Trump, The New York Times melaporkan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi kekhawatiran peningkatan konflik dapat "secara berbahaya menguras persediaan pencegat rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya di Timur Tengah yang sudah menipis".

Laporan itu menyebut keputusan diambil setelah Trump menggelar pertemuan dengan para penasihat utama serta anggota senior kabinetnya pada Jumat lalu.

Masih menurut laporan tersebut, keputusan Trump "mencerminkan kesediaannya untuk memberikan lebih banyak ruang bagi diplomasi dan pengakuan bahwa tanpa kembali ke operasi tempur besar-besaran, tingkat serangan AS saat ini telah mencapai batas efektivitasnya".

Meski demikian, sumber-sumber yang dikutip dalam laporan itu menyebut militer AS tetap menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan kembali menggelar operasi tempur dalam skala besar jika situasi mengharuskannya.

Jeda serangan ini pun memunculkan kembali harapan terhadap dimulainya proses negosiasi setelah hampir dua pekan serangan udara setiap malam. Namun, media AS juga menilai penghentian sementara operasi tersebut bisa menjadi indikasi adanya tekanan terhadap stok rudal pencegat Patriot dan persenjataan pertahanan lainnya.

Sebelumnya, bentrokan di Selat Hormuz telah menggagalkan berbagai upaya diplomasi antara Washington dan Teheran. Konflik juga meluas dari koridor energi strategis menjadi serangan terhadap pangkalan militer AS, jalur pelayaran regional, hingga negara-negara sekutu di kawasan Teluk.

Sementara itu, CNN melaporkan operasi militer AS terhadap Iran kini "ditangguhkan," dengan mengutip sumber Pentagon yang tidak disebutkan identitasnya. Laporan tersebut muncul setelah Trump pada Jumat mengancam akan meningkatkan serangan ke "tingkat yang jauh lebih tinggi".

Pada hari yang sama, Trump juga mengaku belum mengambil keputusan apakah akan kembali melancarkan operasi militer secara penuh.

"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius," katanya kepada wartawan.

Trump menegaskan Iran kini dihadapkan pada dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan atau menghadapi serangan pada "tingkat yang jauh lebih tinggi".

Perang yang sebelumnya diperkirakan Trump hanya akan berlangsung selama empat hingga lima pekan kini telah mendekati bulan kelima. Konflik berkepanjangan tersebut juga disebut mulai membebani tingkat persetujuan terhadap Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS yang akan digelar pada November mendatang.



Simak Video "Video Iran Sebut AS Tak Serius Negosiasi"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork