Sulawesi Selatan (Sulsel) dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan destinasi wisata. Pilihan wisatanya pun sangat beragam, mulai dari pantai eksotis, pegunungan dengan panorama menawan, hingga situs sejarah dan arkeologi.
Bagi detikers yang tengah berkunjung atau sedang merencanakan liburan ke provinsi berjuluk "Gerbang Indonesia Timur" ini, berikut 16 tempat wisata populer di Sulsel yang dapat dijadikan referensi. Simak daftarnya berikut ini.
1. Pantai Losari, Makassar
Pantai Losari merupakan ikon wisata Kota Makassar sekaligus salah satu destinasi populer di Sulsel. Berlokasi di pusat kota, kawasan ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk menikmati panorama Selat Makassar, terutama saat Matahari terbenam menciptakan pemandangan sunset yang memikat.
Selain menikmati panorama laut, pengunjung dapat berjalan santai di sepanjang anjungan, sambil mengabadikan momen di berbagai spot foto ikonik termasuk tulisan besar "Pantai Losari". Selain itu, wisatawan juga dapat berlayar menggunakan kapal Pinisi untuk menyusuri perairan di sekitar Pantai Losari.
Saat malam tiba, kawasan ini semakin ramai dengan kehadiran pedagang kuliner yang menyajikan aneka hidangan khas Makassar seperti pisang epe, pisang peppe, dan berbagai kuliner lainnya. Pantai Losari juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang mulai dari area parkir, masjid, toilet, hingga deretan hotel dan kafe di sekitarnya.
Lokasinya yang strategis membuat pantai ini mudah diakses dan sering menjadi titik awal wisatawan untuk menjelajahi destinasi lain di Kota Makassar. Tak heran jika Pantai Losari selalu menjadi tujuan wajib bagi siapa pun yang berkunjung ke ibu kota Sulawesi Selatan.
Tiada biaya tiket untuk memasuki kawasan wisata ini, tetapi pengunjung akan dikenakan biaya parkir.
2. Kawasan CPI, Makassar
Tak jauh dari pantai Losari, detikers akan menemukan kawasan Center Point of Indonesia (CPI). CPI merupakan salah satu destinasi wisata modern yang menjadi ikon baru kota Makassar.
Berlokasi di pesisir barat kota, kawasan hasil reklamasi ini menawarkan perpaduan panorama laut, serta deretan bangunan ikonik yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu daya tarik utama kawasan CPI adalah pemandangan sunset dari Sunset Quay.
Saat sore hari, tempat ini menjadi lokasi favorit masyarakat untuk berjalan santai, jogging, bersepeda, sambil menikmati matahari terbenam. Hamparan laut yang berpadu dengan siluet gedung-gedung modern menciptakan suasana yang cocok untuk bersantai maupun mengabadikan momen.
Di kawasan ini juga berdiri sejumlah ikon Kota Daeng seperti Masjid 99 Kubah, yang dikenal dengan desain arsitekturnya yang unik, megah, dan penuh warna. Selain itu terdapat kawasan kuliner Lego-lego yang menyediakan beragam pilihan makanan dan minuman.
Sama seperti pantai Losari, untuk memasuki kawasan CPI juga tidak dikenakan biaya tiket masyarakat hanya dikenakan tarif parkir.
3. Pulau Samalona, Makassar
Pulau Samalona terletak sekitar 2 kilometer dari pusat kota Makassar dan menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang terkenal dengan keindahan pasir putih dan air lautnya yang jernih.
Pulau kecil yang berada di Selat Makassar ini dapat ditempuh sekitar 30-45 menit menggunakan perahu motor dari sejumlah titik penyeberangan di Kota Makassar, seperti dermaga kecil di Pantai Losari, dermaga Popsa di depan Benteng Fort Rotterdam, dan dermaga Kayu Bangkoa.
Biaya sewa kapal bervariasi tergantung jenis layanan yang dipilih. Apabila menyewa kapal bersama rombongan biaya untuk perjalanan pergi-pulang sekitar Rp 500.000. Sedangkan jika menyewa bersama penumpang lain tarifnya sekitar Rp 30.000 per orang untuk sekali jalan.
Daya tarik utama Pulau Samalona terletak pada keindahan bawah lautnya yang masih terjaga. Perairannya yang bening menjadikan pulau ini sebagai lokasi favorit untuk snorkeling dan menyelam. Wisatawan dapat melihat beragam terumbu karang, ikan hias berwarna-warni, hingga biota laut lainnya yang hidup di sekitar pulau.
Suasana yang tenang dengan hembusan angin laut membuat Pulau Samalona menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan. Bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu lebih lama, tersedia sejumlah fasilitas seperti gazebo, warung makan, serta penginapan sederhana.
Waktu terbaik untuk mengunjungi tempat wisata ini adalah pada pagi hingga sore hari saat cuaca cerah dan kondisi laut relatif tenang, sehingga perjalanan dan aktivitas di perairan menjadi lebih nyaman.
4. Taman Arkeologi Leang-Leang, Maros
Taman Arkeologi Leang-Leang merupakan salah satu destinasi wisata prasejarah dan alam unggulan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berlokasi sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, kawasan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan darat.
Leang-Leang dikenal sebagai situs prasejarah yang menyimpan jejak kehidupan manusia purba. Selain nilai sejarahnya, kawasan ini juga menawarkan panorama perbukitan karst yang merupakan bagian dari bentang alam Karst Maros-Pangkep, salah satu kawasan karst terbesar di dunia.
Taman Arkeologi Leang-Leang buka setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 17.00 Wita. Sebelum memasuki kawasan wisata, pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk. Harga tiket untuk wisatawan nusantara (wisnus) sebesar Rp 15.000 per orang, wisatawan mancanegara (wisman) Rp 30.000 per orang, sedangkan pelajar dikenakan tarif Rp 10.000 per orang.
Salah satu spot utama di kawasan Leang-Leang adalah Goa Petta'E. Gua prasejarah ini menyimpan lukisan dinding berusia puluhan ribu tahun. Di dalam gua ini, wisatawan dapat melihat cap tangan manusia purba serta gambar hewan, seperti babi rusa, yang menjadi bukti kehidupan masyarakat prasejarah di kawasan tersebut.
Tak jauh dari gua, terdapat Museum Prasejarah Leang-Leang yang menyimpan berbagai koleksi edukatif, seperti replika lukisan gua yang terdapat di Maros-Pangkep, alat-alat batu, fosil, serta artefak yang menggambarkan kehidupan manusia pada masa prasejarah. Museum ini menjadi tempat yang tepat bagi pengunjung untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan purba di Sulsel.
Destinasi ini juga memiliki Taman Batu, salah satu spot favorit wisatawan. Di area ini, pengunjung dapat menyaksikan formasi batuan karst yang terbentuk secara alami selama jutaan tahun yang lalu. Suasana yang asri menjadikan lokasi ini cocok healing dan bersantai bersama keluarga.
Untuk menunjang kenyamanan wisatawan, Taman Arkeologi Leang-Leang telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti area parkir, pusat informasi, gazebo, toilet, musala, serta jalur pejalan kaki yang memudahkan pengunjung menjelajahi kawasan wisata.
5. Taman Nasional Bantimurung, Maros
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu destinasi wisata alam populer di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, kawasan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan.
Kawasan taman nasional ini menawarkan wisata alam sekaligus edukasi, terutama tentang kupu-kupu. Bantimurung bahkan dijuluki "Kerajaan Kupu-Kupu" (The Kingdom of Butterflies) karena menjadi habitat berbagai spesies kupu-kupu. Pengunjung dapat mengunjungi penangkaran dan museum kupu-kupu untuk mengenal lebih dekat siklus hidup serta keanekaragaman spesies yang ada di kawasan tersebut.
Daya tarik lainnya adalah Air Terjun Bantimurung yang mengalir di antara tebing-tebing batu kapur yang menjulang. Di bawah air terjun terdapat kolam alami yang kerap dimanfaatkan pengunjung untuk bermain air atau sekadar merendam kaki sambil menikmati udara yang sejuk.
Selain itu, wisatawan juga dapat menjelajahi sejumlah gua alam, seperti Goa Batu dan Goa Mimpi, yang dihiasi stalaktit dan stalagmit. Bagi pencinta petualangan, tersedia jalur trekking yang menyuguhkan keindahan hutan tropis serta bentang alam Karst Maros-Pangkep yang memukau.
Biaya tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dibedakan berdasarkan kategori pengunjung dan hari kunjungan. Pada hari kerja (Senin-Sabtu), tiket masuk untuk pelajar dan mahasiswa sebesar Rp 15.000 per orang, sedangkan wisatawan nusantara dikenakan tarif Rp 35.000 per orang.
Sementara itu, pada hari libur, tarif tiket untuk pelajar dan mahasiswa menjadi Rp 20.000 per orang, sedangkan tiket wisatawan nusantara tetap Rp 35.000 per orang. Adapun wisatawan mancanegara (tourist) dikenakan tarif Rp 200.000 per orang.
Dengan perpaduan antara keindahan alam, kekayaan flora dan fauna, serta nilai edukasi yang dimiliki, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Sulsel.
6. Rammang-rammang, Maros
Masih di Maros, ada wisata Rammang-Rammang yang menjadi salah satu destinasi unggulan. Kawasan ini berjarak sekitar 40-50 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat. Sementara dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, waktu tempuhnya hanya sekitar 30-40 menit.
Terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Rammang-Rammang merupakan bagian dari Kawasan Karst Maros-Pangkep, salah satu bentang alam karst terbesar di dunia yang telah diakui UNESCO Global Geopark. Hamparan tebing batu kapur yang menjulang tinggi, sungai yang membelah kawasan, serta persawahan hijau menjadikan tempat ini memiliki panorama alam yang memukau.
Beragam aktivitas wisata dapat dilakukan di Rammang-Rammang. Pengunjung dapat menikmati keindahan lanskap karst dengan trekking atau hiking, menyusuri sungai menggunakan perahu, hingga menjelajahi gua-gua alami yang menyimpan nilai sejarah dan keindahan geologi. Beberapa gua yang dapat dikunjungi antara lain Gua Harimau, Gua Jepang, dan Gua Tiangko, yang dihiasi formasi stalaktit dan stalagmit yang menawan.
Kegiatan yang paling populer adalah menyusuri Sungai Pute menggunakan perahu tradisional menuju Kampung Berua, sebuah desa wisata yang masih mempertahankan suasana pedesaan yang asri. Selama perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan tebing-tebing karst yang menjulang, hutan nipa di sepanjang sungai, serta melewati lorong gua yang menambah kesan petualangan.
Sesampainya di Kampung Berua, pengunjung dapat berjalan santai menikmati hamparan sawah, melakukan trekking ringan menuju titik pandang (view point) untuk menyaksikan panorama kawasan karst dari ketinggian, hingga menjelajahi gua-gua yang berada di sekitar desa.
Tarif wisata perahu di Rammang-Rammang bervariasi sesuai kapasitas penumpang, yakni Rp 200.000 untuk 1-4 orang, Rp 250.000 untuk 5-7 orang, dan Rp 300.000 untuk 8-10 orang. Sementara itu, tarif khusus untuk keperluan liputan atau sesi prewedding sebesar Rp 350.000 per perahu. Pengunjung juga dikenakan tiket masuk kawasan desa sebesar Rp 7.000 per orang.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali berkunjung, tidak perlu khawatir karena tersedia pemandu wisata lokal yang siap mendampingi selama menjelajahi kawasan Rammang-Rammang. Fasilitas yang tersedia di kawasan pun cukup lengkap, mulai dari area parkir, dermaga perahu, toilet, musala, gazebo, warung makan, hingga homestay bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam lebih lama.
Dengan perpaduan bentang alam karst yang spektakuler, wisata susur sungai, desa wisata yang asri, serta berbagai aktivitas alam yang menarik, Rammang-Rammang menjadi salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar kunjungan detikers saat berlibur ke Kabupaten Maros maupun Sulawesi Selatan.
7. Taman Purbakala Sumpang Bita, Pangkep
Bagi detikers yang ingin berwisata prasejarah dan arkeologi, Taman Purbakala Sumpang Bita di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dapat menjadi salah satu pilihan. Lokasinya berada di Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, sekitar 58-60 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Di kompleks taman purbakala terdapat dua gua utama, yakni Gua Sumpang Bita dan Gua Bulu Sumi. Selain menyimpan lukisan cadas, kedua gua tersebut juga menyimpan berbagai peninggalan arkeologi seperti artefak batu, fragmen gerabah, tulang, hingga cangkang moluska. Di kawasan ini juga terdapat kolam alami yang kerap dimanfaatkan pengunjung untuk bermain air atau sekadar menikmati suasana sejuk di sekitar kawasan.
Untuk mencapai kawasan gua, wisatawan perlu berjalan kaki sekitar 500 meter melalui jalur setapak dan anak tangga yang telah disediakan. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan perbukitan batu kapur, pepohonan rindang, serta udara yang sejuk.
Bagi wisatawan yang tidak ingin menjelajahi gua, kawasan ini tetap menawarkan hamparan padang rumput yang luas dan panorama perbukitan karst yang indah. Area tersebut cocok dijadikan tempat bersantai, berpiknik bersama keluarga, maupun berburu foto dengan latar alam yang memukau.
Fasilitas di Taman Purbakala Sumpang Bita juga cukup memadai, mulai dari area parkir, toilet, musala, gazebo, hingga kursi-kursi estetik yang dapat digunakan pengunjung untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan.
Harga tiket masuk ke Taman Purbakala Sumpang Bita pun sangat terjangkau, yakni sekitar Rp5.000 per orang, dengan jam operasional setiap hari pukul 07.30-17.30 WITA. Selain itu, tersedia area parkir kendaraan dengan tarif sekitar Rp5.000.
8. Pulau Panambungan, Pangkep
Selain wisata alam, prasejarah, dan arkeologi, Kabupaten Pangkep juga memiliki destinasi wisata bahari yang memukau, yakni Pulau Panambungan. Pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde dan berada di Kelurahan Mattiro Sompe, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep.
Dari Kota Makassar, wisatawan dapat mencapai Pulau Panambungan dengan speedboat dari Dermaga Paotere dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam, tergantung kondisi cuaca dan gelombang. Sesampainya di pulau, pengunjung akan disambut hamparan pasir putih, air laut yang jernih dengan gradasi warna biru kehijauan, serta suasana yang tenang sehingga cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan.
Beragam aktivitas dapat dilakukan selama berada di Pulau Panambungan, mulai dari berenang, snorkeling, bermain kano, memancing, hingga berkeliling pulau menikmati panorama pantai. Bagi pecinta bawah laut, perairan Pulau Panambungan menyimpan terumbu karang yang masih terjaga dengan berbagai jenis ikan hias, sehingga menjadi salah satu lokasi favorit untuk snorkeling.
Pulau ini juga menjadi tempat yang ideal untuk piknik bersama keluarga, gathering, hingga camping. Wisatawan dapat menikmati suasana pantai yang tenang, menyaksikan matahari terbit maupun terbenam, atau sekadar bersantai di tepi pantai sambil menikmati semilir angin laut.
Fasilitas yang tersedia di Pulau Panambungan pun cukup lengkap, mulai dari gazebo, area bersantai, toilet, tempat penyewaan alat snorkeling dan wahana permainan air. Bagi wisatawan yang ingin menginap, tersedia villa dengan kapasitas maksimal lima orang. Tarif menginap berkisar Rp 1 juta-Rp 2.5 juta per malam pada hari kerja (weekdays), sedangkan pada akhir pekan (weekend) tarifnya berkisar Rp 2 juta-Rp 3 juta per malam sedangkan yang ingin untuk camping ground Rp 50.000 per orang.
Harga tiket masuk ke Pulau Panambungan juga relatif terjangkau, yakni sekitar Rp 20.000-Rp 30.000 per orang. Sementara itu, biaya penyeberangan menggunakan perahu atau speedboat bervariasi tergantung titik keberangkatan dan jumlah penumpang. Untuk perjalanan reguler, tarifnya umumnya berkisar Rp 25.000-Rp 50.000 per orang, sedangkan rombongan dapat menyewa satu unit perahu dengan tarif yang disepakati bersama pemilik perahu.
9. Cimory Dairyland Farm Theme Park Gowa
Bagi detikers yang ingin menikmati wisata keluarga bernuansa peternakan modern, Cimory Dairyland Farm Theme Park Gowa dapat menjadi pilihan. Destinasi ini berada di Bontoparang, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, sekitar 25 kilometer dari Kota Makassar atau dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Cimory Dairyland Gowa mengusung konsep edutourism yang memadukan rekreasi, edukasi, dan kuliner dalam satu kawasan. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan berbagai hewan ternak seperti sapi, domba, kambing, kelinci, hingga kuda poni melalui aktivitas animal feeding.
Selain itu, tersedia pula beragam wahana permainan yang cocok untuk anak-anak maupun orang dewasa, seperti Rainbow Slide, Horse Riding, Sakura Park, dan berbagai spot foto bertema Eropa yang instagramable. Wisatawan juga dapat bersantai di restoran yang menyajikan aneka hidangan khas Cimory, berbelanja produk olahan susu dan suvenir di Cimory Shop, hingga menikmati suasana alam di tepi sungai yang menjadi ciri khas kawasan wisata ini.
Tempat ini sangat cocok untuk liburan keluarga, kegiatan sekolah, maupun gathering perusahaan. Fasilitas yang tersedia terbilang lengkap, mulai dari area parkir yang luas, toilet, musala, restoran, kafe, toko oleh-oleh, akses kursi roda, penyewaan stroller bayi, hingga area bermain anak. Pengelola juga menyediakan berbagai paket tiket yang dapat disesuaikan dengan wahana yang ingin dikunjungi.
Harga tiket masuk Cimory Dairyland Farm Theme Park Gowa dibagi menjadi beberapa pilihan, yakni tiket zona utama, paket Combo 2 Zona, dan paket Combo 3 Zona. Pada hari kerja (weekday), pengunjung dapat membeli tiket per zona dengan tarif Rp 40.000 untuk masing-masing area, yaitu Dairyland (Farm & Petting Zoo), Sakura Park, dan Magic Village (Hobbit Village).
Selain itu, tersedia Paket Combo 2 Zona seharga Rp 65.000, yang dapat dipilih untuk kombinasi Dairyland + Sakura Park atau Dairyland + Magic Village. Sementara itu, Paket Combo 3 Zona yang mencakup akses ke Dairyland, Sakura Park, dan Magic Village dibanderol Rp 75.000 per orang.
Khusus pada akhir pekan (weekend) dan hari libur nasional, pengunjung tidak dapat membeli tiket per zona. Pengelola hanya menyediakan Paket Combo 2 Zona seharga Rp65.000 dan Paket Combo 3 Zona seharga Rp75.000.
Tarif tersebut belum termasuk tiket wahana permainan dan terdapat deposit tiket kartu masuk sebesar Rp 10.000 yang akan dikembalikan setelah kartu dikembalikan di hari yang sama. Jam operasionalnya Senin-Jumat pukul 09.00-17.30 WITA, sedangkan Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional pukul 08.00-17.30 WITA.
10. Siera Sky View Malino
Selain Cimory Dairyland Farm Theme Park, Kabupaten Gowa juga memiliki destinasi wisata lainnya yang tak kalah populer, yakni Siera Sky View Malino. Berlokasi di Jalan Poros Malino, Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, tempat wisata ini berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2-3 jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Sesuai namanya, Siera Sky View menawarkan panorama alam dari ketinggian dengan latar perbukitan hijau khas Malino. Udara pegunungan yang sejuk serta pemandangan alam yang asri menjadikan tempat ini cocok untuk bersantai, menikmati matahari terbit maupun terbenam, hingga berburu foto.
Daya tarik utama Siera Sky View adalah berbagai spot foto dengan nuansa luar negeri dari beberapa negara di dunia. Pengunjung dapat berfoto dengan latar bangunan bergaya Swiss, Jembatan Venice khas Italia, bangunan putih ala Santorini, Yunani, hingga kincir angin khas Belanda.
Tak hanya itu, tersedia pula kawasan Asian Culture dengan spot foto berlatar budaya Jepang, China, dan Korea, sehingga memberikan pengalaman wisata yang beragam dalam satu lokasi. Bagi pencinta wahana, Siera Sky View juga menyediakan berbagai atraksi menarik seperti ayunan raksasa (giant swing) dan jembatan kaca (glass bridge) yang menawarkan sensasi memacu adrenalin sekaligus panorama pegunungan dari ketinggian.
Untuk melengkapi pengalaman berfoto, pengunjung juga dapat menyewa berbagai kostum tradisional khas dari berbagai negara dengan tarif sekitar Rp50.000 per kostum. Harga tiket masuk Siera Sky View Malino tergolong ramah di kantong, yakni Rp 25.000 untuk dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak.
Tempat wisata ini buka setiap hari, dengan jam operasional 09.00-18.00 WITA pada hari kerja (weekday) dan 08.00-20.00 WITA pada akhir pekan (weekend) serta hari libur.
11. Pantai Tanjung Bira,Bulukumba
Tidak lengkap rasanya menjelajahi destinasi wisata Sulawesi Selatan tanpa mengunjungi Pantai Tanjung Bira di Kabupaten Bulukumba. Pantai yang berada di Kecamatan Bonto Bahari ini berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4,5-5 jam perjalanan melalui jalur darat.
Pantai Tanjung Bira terkenal dengan hamparan pasir putih yang lembut, air laut yang jernih, serta ombak yang relatif tenang. Perpaduan keindahan alam tersebut menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata bahari favorit di Sulsel yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Beragam aktivitas dapat dilakukan di Pantai Tanjung Bira. Pengunjung dapat berenang, snorkeling, diving, bermain banana boat, hingga menyewa perahu untuk mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya, seperti Pulau Liukang Loe dan Pulau Kambing, yang terkenal dengan keindahan terumbu karang serta kehidupan bawah lautnya.
Selain menikmati wisata bahari, wisatawan juga dapat menyaksikan keindahan matahari terbit maupun matahari terbenam di tepi pantai, berjalan santai menyusuri garis pantai, atau menikmati aneka hidangan laut segar yang disajikan di restoran dan warung makan sekitar kawasan wisata.
Tak jauh dari Pantai Tanjung Bira, pengunjung juga dapat singgah ke Kawasan Wisata Adat Tanah Beru, yang dikenal sebagai sentra pembuatan kapal pinisi, warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Fasilitas di Pantai Tanjung Bira pun cukup lengkap untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Tersedia area parkir, toilet, musala, gazebo, restoran dan kafe, penginapan mulai dari homestay hingga resort, penyewaan alat snorkeling dan diving, penyewaan perahu, serta toko suvenir dan pusat oleh-oleh.
Harga tiket masuk Pantai Tanjung Bira juga relatif terjangkau, yakni Rp 20.000 untuk wisatawan dewasa, Rp 10.000 untuk anak-anak, dan Rp 55.000 per orang untuk wisatawan mancanegara. Tarif tersebut sudah termasuk asuransi, sehingga pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas wisata dengan lebih nyaman.
11. Lappa Laona, Barru
Bagi detikers yang ingin menikmati wisata alam dengan panorama perbukitan hijau, Lappa Laona di Kabupaten Barru bisa menjadi destinasi yang patut dikunjungi. Tempat wisata yang berada di Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru ini berjarak sekitar 120 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5-3 jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Lappa Laona dikenal dengan hamparan padang rumput hijau yang membentang di atas perbukitan. Lanskapnya yang bergelombang membuat kawasan ini kerap dijuluki sebagai "Selandia Baru-nya Sulawesi Selatan". Saat musim hujan, perbukitan akan tampak hijau menyegarkan, sedangkan pada musim kemarau warnanya berubah menjadi kecokelatan sehingga tetap menghadirkan pemandangan yang eksotis.
Selain menikmati panorama alam, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas menarik seperti trekking, berkemah (camping), bersepeda gunung, flying fox, berfoto di berbagai spot Instagramable, hingga menikmati matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) dari puncak bukit.
Kawasan ini juga menjadi lokasi favorit bagi komunitas fotografi dan pecinta alam karena menyuguhkan panorama perbukitan yang luas dengan latar pegunungan. Tak jauh dari area perbukitan, terdapat pula hutan pinus yang menawarkan suasana teduh dan sejuk.
Pengunjung dapat bersantai di bawah rindangnya pepohonan pinus atau menggelar piknik bersama keluarga dan teman. Pada waktu-waktu tertentu, kawasan ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan outdoor dan festival.
Fasilitas di Lappa Laona cukup memadai, di antaranya area parkir, toilet, musala, warung makan, area camping, penyewaan tenda, serta sejumlah spot foto yang menghadap langsung ke hamparan perbukitan.
Bagi wisatawan yang ingin bermalam, tersedia area khusus untuk mendirikan tenda dengan panorama alam yang indah. Harga tiket masuk Lappa Laona relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10.000-Rp15.000 per orang, sedangkan biaya parkir kendaraan berkisar Rp5.000-Rp10.000.
Pengunjung yang ingin berkemah atau menyewa perlengkapan camping biasanya dikenakan biaya tambahan sesuai tarif yang berlaku.
12. Desa wisata Karangan,Enrekang
Wisata alam dengan suasana pegunungan yang asri juga dapat detikers nikmati di Desa Wisata Karangan di Kabupaten Enrekang. Desa wisata ini berada di Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, sekitar 260 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Berlokasi di kaki Gunung Latimojong, Desa Wisata Karangan menawarkan panorama pegunungan yang hijau, udara yang sejuk, serta suasana pedesaan yang masih alami. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu gerbang pendakian menuju Gunung Latimojong, gunung tertinggi di Pulau Sulawesi.
Beragam aktivitas menarik dapat dilakukan di Desa Wisata Karangan, mulai dari camping, trekking, water tubing, hingga berenang di kolam alami Lukulepong yang memiliki air jernih dan menyegarkan. Bagi pencinta wisata alam, tersedia pula jalur menuju dua air terjun, yakni Air Terjun Gora dan Air Terjun Sarungpa'pak, yang menawarkan pemandangan alam yang masih alami.
Salah satu yang populer di kawasan ini adalah Sivin Camp, sebuah area perkemahan yang dilengkapi wahana water tubing dan menyuguhkan panorama pegunungan Latimojong. Pengunjung dapat menikmati suasana alam sambil bermalam di camping ground atau bersantai ditemani secangkir kopi Arabika khas Latimojong, salah satu produk unggulan masyarakat setempat.
Untuk menikmati fasilitas di Sivin Camp, wisatawan dikenakan biaya registrasi sebesar Rp 20.000 per orang. Sementara itu, tarif sewa tenda berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 80.000 per malam, tergantung kapasitas dan jenis tenda yang dipilih.
Tak hanya menyuguhkan wisata alam, Desa Wisata Karangan juga menawarkan berbagai aktivitas wisata budaya. Wisatawan dapat mencoba memainkan alat musik bambu tradisional, mengenal tradisi Mangdodo, memainkan motor kayu khas masyarakat setempat, hingga merasakan pengalaman memanen kopi Arabika Latimojong langsung dari kebunnya.
Kawasan wisata ini telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti area parkir, toilet, musala, gazebo, homestay, warung makan, serta pemandu lokal yang siap mendampingi wisatawan selama menjelajahi berbagai destinasi di Desa Wisata Karangan.
13. Wisata Ollon, Tana Toraja
Wisata alam pegunungan juga dapat dinikmati di Tana Toraja, yakni wisata Ollon. Berlokasi di Lembang Bau, Kecamatan Bonggakaradeng, kawasan ini berjarak sekitar 330 kilometer dari Kota Makassar atau dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8-10 jam perjalanan darat. Sementara dari pusat Kota Makale, perjalanan menuju Ollon memakan waktu sekitar 2-3 jam dengan kondisi jalan yang berliku khas daerah pegunungan.
Wisata Ollon dikenal dengan hamparan perbukitan hijau yang luas, lembah yang membentang, serta aliran sungai yang jernih. Lanskapnya yang menyerupai padang sabana yang terkenal dengan julukan bukit teletubis.
Beragam aktivitas menarik dapat dilakukan di kawasan ini, mulai dari camping, trekking, hiking, hingga menjelajahi bukit-bukit di sekitarnya. Wisatawan juga dapat bermain air di sungai yang mengalir jernih, menikmati suasana alam terbuka, atau berburu foto di berbagai spot dengan latar perbukitan hijau yang memukau. Pada malam hari, kawasan Ollon menjadi lokasi favorit untuk menikmati langit bertabur bintang karena minim polusi cahaya.
Bagi wisatawan yang ingin berkemah, kawasan Ollon menyediakan area camping yang luas dengan pemandangan langsung menghadap perbukitan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau, sekitar April hingga September, karena cuaca cenderung cerah dan akses jalan menuju lokasi lebih mudah dilalui.
Fasilitas di Wisata Ollon memang masih sederhana, namun sudah tersedia area parkir, toilet, warung makan, area camping. Pengunjung disarankan membawa perlengkapan pribadi, terutama jika ingin bermalam, karena fasilitas penunjang di kawasan ini masih terbatas.
Kabar baiknya, Wisata Ollon tidak memungut tiket masuk, sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan alamnya secara gratis. Pengunjung hanya perlu menyiapkan biaya parkir kendaraan.
14. Buntu Burake, Tana Toraja
Selain wisata alam, Tana Toraja juga terdapat wisata religi dan panorama alam dari ketinggian yakni Buntu Burake. Objek wisata ini berada di Kelurahan Buntu Burake, Kecamatan Malake sekitar 5 kilometer dari pusat kota Makale atau sekitar 315 KM dari kota Makassar.
Perjalanan dari Makassar menuju Buntu Burake dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8-9 jam jalur darat.
Daya tarik utama Buntu Burake adalah Patung Yesus Kristus Memberkati yang berdiri megah di puncak bukit. Patung setinggi sekitar 40 meter ini menjadi salah satu patung Yesus tertinggi di dunia dan menghadap langsung ke Kota Makale.
Selain melihat ikon patung Yesus, wisatawan juga dapat berjalan di atas jembatan kaca (glass bridge) yang membentang di kawasan Buntu Burake. Jembatan ini menjadi salah satu spot favorit untuk berfoto karena menawarkan sensasi berjalan di atas kaca dengan latar pemandangan pegunungan yang indah.
Tak jauh dari jembatan kaca, tersedia pula gardu pandang, area bersantai, dan sejumlah spot foto yang instagramable. Fasilitas di Buntu Burake cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, musala, gazebo, warung makan, toko suvenir, serta jalur pejalan kaki. Akses menuju puncak bukit juga telah dilengkapi tangga dan jalan yang memudahkan pengunjung.
Harga tiket masuk ke kawasan Buntu Burake relatif terjangkau yakni Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 15.000 untuk dewasa.Dengan perpaduan wisata religi, panorama pegunungan yang memukau, serta berbagai spot foto menarik, Buntu Burake menjadi salah satu destinasi unggulan di Tana Toraja yang layak masuk dalam daftar kunjungan saat berlibur ke Sulsel.
15. Kete' Kesu, Tana Toraja
Bagi detikers yang ingin mengenal lebih dekat budaya dan tradisi masyarakat Toraja, Kete' Kesu menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Tana Toraja. Desa wisata adat ini terletak di Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi', sekitar 5 kilometer dari Kota Rantepao atau sekitar 320 kilometer dari Kota Makassar. Perjalanan dari Makassar menuju Kete' Kesu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8-9 jam melalui jalur darat.
Di kawasan ini terdapat rumah adat Tongkonan dan lumbung padi tradisional (Alang) yang telah berdiri selama ratusan tahun. Deretan Tongkonan yang berjajar rapi dengan ukiran khas Toraja menjadi daya tarik utama sekaligus menggambarkan kekayaan budaya masyarakat setempat.
Tak hanya itu, Kete' Kesu juga terkenal dengan kompleks pemakaman adat yang berada di tebing batu. Di kawasan ini, wisatawan dapat melihat gua pemakaman, patane (bangunan makam keluarga), deretan tau-tau atau patung kayu yang menyerupai orang yang telah meninggal, hingga tengkorak.
Setelah menikmati wisata budaya, pengunjung juga dapat menyaksikan para perajin membuat berbagai kerajinan khas Toraja atau membeli hasil karya mereka sebagai oleh-oleh. Mulai dari ukiran kayu, miniatur Tongkonan, kain tenun, aksesori, hingga berbagai suvenir khas Toraja tersedia di kios-kios yang berada di sekitar kawasan wisata.
Pada waktu-waktu tertentu, Kete' Kesu juga menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat Rambu Solo', yaitu prosesi pemakaman adat masyarakat Toraja yang telah dikenal hingga mancanegara. Upacara ini menjadi salah satu daya tarik budaya karena sarat akan nilai filosofi, penghormatan kepada leluhur, serta masih dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Fasilitas di Kete' Kesu pun cukup lengkap untuk menunjang kenyamanan wisatawan, mulai dari area parkir, toilet, warung makan, kafe, kios suvenir, hingga jasa pemandu wisata lokal yang siap menjelaskan sejarah, filosofi, dan berbagai tradisi yang terdapat di kawasan adat tersebut.
Harga tiket masuk ke Kete' Kesu juga tergolong terjangkau, yakni sekitar Rp 5.000-Rp 10.000.
16. Negeri di Atas Awan Lolai, Toraja Utara
Bagi detikers yang berkunjung ke Toraja Utara, Negeri di Atas Awan Lolai menjadi salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Tempat wisata ini menawarkan pengalaman menikmati hamparan awan dari ketinggian, seolah-olah berada di atas langit.
Sesuai dengan julukannya, Negeri di Atas Awan Lolai menyuguhkan panorama lautan awan yang menyelimuti lembah-lembah Toraja pada pagi hari. Berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menikmati keindahan matahari terbit (sunrise) dengan latar pegunungan yang memukau.
Dua titik favorit wisatawan untuk menyaksikan fenomena lautan awan adalah To'tombi dan Tongkonan Lempe. Dari kedua lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama awan yang perlahan tersibak seiring terbitnya matahari.
Selain berburu sunrise, kawasan ini juga menawarkan berbagai spot foto dengan latar pegunungan dan lembah khas Toraja yang sangat Instagramable. Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama, Negeri di Atas Awan Lolai menyediakan area camping serta berbagai pilihan homestay yang menghadap langsung ke hamparan awan.
Menginap semalam menjadi pilihan banyak wisatawan agar tidak melewatkan momen matahari terbit yang biasanya muncul sekitar pukul 05.30-06.30 WITA, tergantung kondisi cuaca.
Fasilitas di kawasan wisata ini juga cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, musala, gazebo, warung makan dan kedai kopi, homestay, camping ground, gardu pandang, hingga berbagai spot foto yang dapat dinikmati pengunjung.
Harga tiket masuk ke Negeri di Atas Awan Lolai tergolong terjangkau, yakni sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 per orang. Sementara itu, wisatawan yang ingin berkemah atau menginap di homestay akan dikenakan biaya tambahan sesuai jenis akomodasi dan fasilitas yang dipilih.
Itulah daftar destinasi wisata populer di Sulawesi Selatan yang bisa menjadi referensi untuk mengisi waktu liburan. Jadi, sudah menentukan destinasi mana yang ingin dikunjungi? Selamat menyusun itinerary dan selamat berlibur, detikers!
Simak Video "Menuju dan Menikmati Keindahan Candi Sojiwan di Jawa Tengah"
(alk/alk)